
Setelah sepakat, Olan langsung mengajak Liona menemui orang tuanya. Tapi ia tak mungkin membawa Liona dalam keadaan seperti ini, penampilan Liona bisa ditebak bahwa gadis itu orang tak berpunya. Olan tak ingin rencananya gagal, ia mengajak Liona pergi ke salon terlebih dulu.
"Untuk apa ke sini?" tanya Liona sesampainya di depan di butik, "katanya mau menemui orang tuamu?" tanyanya lagi.
"Sudah, jangan cerewet. Kamu nurut saja apa kataku, kalau protes aku tambah hutangmu lebih besar," ancamnya.
"Menyebalkan, apa-apa dikaitkan dengan hutang. Tidak akan lunas jika hutangku semakin bertambah," rutuk Liona.
"Apa katamu?" Samar-samar Olan mendengar dengusan wanita itu.
"Tidak, aku tidak mengatakan apa-apa." Lio memilih bungkam karena tak ingin hutangnya semakin melebar. Setibanya di dalam, Liona diminta mencoba beberapa pakaian. Olan sebagai juri untuk menilai.
Olan terus menggelengkan kepala saat Liona mencoba pakaian. Sampai gadis itu merasa sudah lelah karena tak ada satu pun baju yang cocok di mata Olan.
"Semua bajunya bagus, apa ada masalah dengan penglihatanmu?" cetus Liona.
"Protes terus, aku tambah hutangmu seratus ribu."
Liona membulatkan mata, tak percaya bahwa lelaki itu ternyata serius dengan ucapannya. "Tidak untuk itu, kamu juga harus menjadi asisten pribadiku," pintanya.
"Apa?" Liona melotot dan menatap wajah Olan, kalau bukan karena uang itu, mungkin Liona sudah menghajarnya karena sudah semena-mena terhadapnya.
Olan beranjak dan memilih baju untuk Liona. Olan berada di depan Lio dengan posisi membelakanginya, dan gadis itu mengepalkan tangan seraya ingin memberi bogeman mentah pada lelaki itu. Liona langsung tersenyum kecut saat Olan membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
"Coba ini." Olan memberikan baju berwarna hijau botol, tanpa lengan dan panjangnya di atas lutut.
Liona mengambil baju itu dengan kasar, berjalan dengan kaki dihentakkan menuju kamar pas. Sedangkan Olan hanya tersenyum tipis melihat wajah Liona yang cemberut. Usia Liona memang 2 tahun lebih tua dari Olan, tapi gadis itu terlihat menggemaskan. Umurnya seperti baru 23 tahun.
Liona kembali memperlihatkan diri, memutar tubuh di hadapan Olan. "Aku harap ini baju yang terakhir," ucap Liona datar.
"Oke, itu jauh lebih bagus dari yang kamu coba. Seleramu jelek," bisik Olan di telinga Liona.
"Iiiihhh ..." Liona kesal karena Olan semakin menyebalkan.
* * *
"Kita mau kemana lagi?" tanya Liona.
"Percantik dirimu, aku harus meyakinkan orang tuaku bahwa kamu kekasihku. Kalau kamu terlihat jelek mereka pasti mengira kamu asistenku."
"Bukan itu maksudku, kalau kamu terlihat biasa saja orang tuaku pasti memarahiku karena tidak membahagiakan kekasihnya, apa lagi pada istrinya nanti." Olan orang yang berpunya, mana mungkin membiarkan kekasihnya hidup dalam kesederhanaan. Itu pandangan orang tuanya.
"Sudahlah, jangan membantah. Hanya di make over saja."
Liona tak lagi berucap, ia sudah lelah bila harus selalu berdebat. Liona mulai di rias oleh ahli perias di salon ternama di kota. Liona terlihat begitu cantik setelah selesai di make-up. Olan sampai tak berkedip melihatnya.
"Boleh aku mamakai baju lagi, ini dingin sekali." Liona tak biasa makai baju yang model seperti itu, bagian dada dan punggungnya terekspose.
__ADS_1
Olan melepas jas miliknya dan lagi-lagi ia makakaikannya di tubuh Liona. Gadis itu pun berjalan, hampir terjatuh karena tak biasa memakai hak tinggi. Olan meraih tangan Liona dan melingkarkan tangannya di lenganya.
*
*
*
Olan dan Liona sampai di rumah besar keluarga Vanhauten, yang tak lain adalah ayah dari Olan Vanhauten. Orang tua Olan menyambut kedatangan Liona. Dan Liona dibuat senam jantung, ini hanya pura-pura. Tapi kenapa Liona merasa ini sungguhan. Bertemu dengan calon mertua sesungguhnya.
"Om, Tante," sapa Liona tersenyum.
"Siapa namamu, sayang?" tanya mama Olan.
"Liona, Tante."
"Nama yang cantik, silakan duduk," kata papa Olan.
"Sudah lama kalian pacaran? Olan sudah mapan, kenapa harus pacaran? Kenapa tidak menikah saja?" tanya papa Olan.
Olan yang sedang minum langsung tersedak. Sontak, membuat Liona reflek. Ia menepuk-nepuk punggung Olan. Orang tua Olan tersenyum saat melihat perhatian dari Liona.
"Kalian sudah cocok, Mama setuju kalau kalian melangsungkan pernikahan. Tidak usah tunangan, langsung menikah saja. Mama ingin cepat-cepat menggedong cucu, usiamu sudah cukup untuk menikah, Olan. Iyakan, Pa?" ujannya pada suaminya.
__ADS_1
"Iya, Papa setuju-setuju saja."
Olan dan Liona saling memandang. "Apa? Menikah?" Keduanya terkejut.