Ranjang Pengkhianatan (Balas Dendam)

Ranjang Pengkhianatan (Balas Dendam)
Episode_038


__ADS_3

Sejak kepergian Axel, Elle merasa bersalah. Meski pernikahan ini bukan atas dasar cinta, setidaknya ia bisa memahami situasi. Axel yang kini sudah menjadi suaminya tentu berhak mendapatkan apa yang seharusnya menjadi miliknya. Elle tengah rebahan di kasur, menatap langit-langit kamar. Hatinya gundah gulana, bagaimana kalau pria itu marah lagi? Dan pergi ke club untuk mencari hiburan? Bayangannya langsung tertuju pada Bella, gadis yang salalu menampakkan diri di club yang biasa didatangi suaminya. Elle langsung beranjak, ia mencari Carla dan meminta bantuannya.


"Mis? Mis ...?" panggil Elle sembari menuruni anak tangga dengan berlari kecil, "Mis, Mis harus bantu aku," kata Elle setibanya di dapur dan mendapati Carla yang sedang mencuci piring.


Carla menautkan kedua alis. "Bantu apa?" tanyanya menjeda aktivitasnya, mengeringkan tangan dengan handuk kecil yang menggantung di dinding.


"Sepertinya daddy marah, aku merasa bersalah karena sudah menolaknya," jelas Elle.


"Marah? Menolaknya?" Carla melohok.


"Iya, tadi ..." Elle bingung harus menjelaskannya seperti apa, jari telunjuk diadu-adukan karena tidak tahu harus bicara mulai dari mana. Malu, tentu iya. Usia Elle jauh lebih muda dari Carla, dan ia harus menjelaskan penolakan hubungan suami istri. Terlebih, Carla yang belum menikah, apa wanita itu mengerti apa yang dimaksudnya? Pikir Elle.


"Apa yang harus aku bantu?" Carla tahu apa maksud gadis itu tapi pura-pura tidak tahu.


"Bantu aku membujuk daddy, Mis bisa membantuku membuatkan makan siang untuknya. Aku mau menemuinya di kantor," kata Elle.

__ADS_1


"Yakin?" tanya Carla pasti.


"Hmm." Elle mengangguk, "apa dulu yang harus disiapkan?" tanyanya. Elle yang tidak tahu soal dapur pun nekat melakukannya demi sang daddy yang kini sudah menjadi suaminya, "jadi istri harus pintar masak 'kan, Mis? Mis bilang, cinta bisa tumbuh dari isi perut. Kalau kita pintar memasak dan suami kita suka, lambat laun perasaan itu pasti ada 'kan? Aku mau daddy mencintaiku," tutur Elle.


"Kamu mencintainya?" tanya Carla.


"Dia suamiku sekarang, mau tidak mau aku harus mencintainya." Elle malu mengakui perasaannya.


"Semoga tuan juga bisa mencintaimu," batin Clara. Ia tahu tentang pernikahan ini, berniat balas dendam. Tapi Carla yakin kalau suatu saat cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu, apa lagi Elle gadis yang sangat baik. Carla mengusap bahu gadis itu sambil tersenyum.


Elle tersenyum sambil jingkrak-jingkrak. "Ayo, Mis." Elle tak kalah semangat.


* * *


Di kantor.

__ADS_1


Axel tersenyum melihat rekaman cctv, memperlihatkan betapa berjuangnya gadis itu untuk mendapatkan hatinya. Dalam hati ia senang ada yang memperhatikannya terlebih ia rindu dengan sosok istri yang selalu memanjakan lidahnya, saat pengkhianatan itu terjadi semuanya hancur. Separuh hidupnya hilang, menderita selama 15 tahun di penjara.


"Aduh, Mis. Tanganku?" Tangan Elle terkena pisau, saat melihatnya Axel langsung mendekatkan diri menarik kursi kebesarannya ke sisi meja dan menatap layar laptop secara dekat. Rasa khawatir itu menjalar, gadis manja itu menangis saat tangannya berdarah. Axel meraih ponsel, berniat menghubungi Carla. Tapi ia kembali meletakan ponsel di atas meja.


Mengurungkan niatnya, karena yang ia tahu gadis itu sedang merajuk padanya. Tentu Elle tidak mungkin mau menerima panggilan darinya bukan? Axel ingin tahu bagaimana cara gadis itu menaklukkan hatinya. Apa akan sepintar Hanna?


Axel bersandar di kursi, dan tatapannya terus pada layar laptop. Seperti sedang menonton acara memasak di televisi. Elle terlihat lucu saar menggunakan celemek. Mungkin ini pertama kali dalam hidupnya. Axel jadi tidak sabar dengan hasil masakan gadis itu, semoga rasanya enak, pikirnya.


Tok, tok, tok ...


Axel menutup laptop. "Masuk," sahutnya.


"Meeting sudah siap, semua sudah menunggu," kata Jose.


Axel pun beranjak dari kursi kebesarannya dan akan melakukan meeting hari ini.

__ADS_1


__ADS_2