
"Lory, di mana dia?" tanya Leo pada asisten di rumah, ia langsung pulang saat tahu bahwa istrinyalah yang mengambil berkasnya. Asisten belum sempat menjawab karena Leo langsung berlari kecil menaiki tangga, menemui Lory di kamar karena ia yakin bahwa wanita itu ada di dalam kamarnya.
Sialnya, ia tak mendapati wanita itu, Lory memang belum pulang seusai makan malam tadi. Ia pasti tahu bahwa kelakuannya diketahui oleh suaminya. Ia juga sudah membulatkan hati untuk menggugat cerai Leo karena pria itu hanya menginginkan harta dari pernikahannya. "Kurang ajar sekali dia tidak ada di rumah, menantangku rupanya." Leo benar-benar marah, untuk apa wanita itu mengambil surat-surat penting itu? Pikirnya.
Leo tidak bisa tinggal diam, ia langsung mencari keberadaan Lory. "Ronald, kita cari Lory sampai ketemu," ucap Leo.
_
_
Di tempat lain, Lory tengah bersama Olan di sebuah club malam. Wanita itu menghibur diri di sana, karena ia begitu kecewa dengan pernikahannya yang harus kandas. Mencintai tapi hanya untuk dimanfaatkan.
"Olan, kita harus mabuk malam ini. Sebentar lagi aku akan terbebas dari pria brengsek itu," ucap Lory.
"Kenapa harus mabuk, Lory. Dari pada mabuk lebih baik kamu pikirkan masa depanmu, oh iya, apa kamu mengenal anak tuan Axel?" tanya Olan.
"Kenapa? Apa kamu naksir sama anak itu? Aku tidak begitu mengenalnya, tapi aku tau dia memiliki anak gadis dan seingatku dia bukan anaknya. Tapi entahlah, aku tidak mau ikut campur," jelasnya.
__ADS_1
"Bukan anaknya?" batin Olan.
Saat sedang asyik di club, Leo datang. Dirinya melihat Lory sedang bersama seorang pria. Ia mendekat dan langsung menarik tangan Lory dengan paksa.
"Lepaskan!" ujar Lory.
"Berani kamu bermain denganku, hah?" Mata Leo menyorot dengan tajam, "kamu kemanakan surat-surat itu, hah? Kembalikan!" pinta Leo.
Lory menghempaskan tangannya. "Kamu pikir aku bodoh akan memberikannya padamu, hah? Aku sudah mengembalikan pada pemiliknya, dasar pencuri!"
Plakk ...
"Jangan ikut campur! Dia itu istriku!" kata Leo.
"Meski dia istrimu bukan berarti kamu bisa kasar kepadanya, hadapi aku kalau berani," tantang Olan. Tak lama, beberap orang datang. Mereka anak buah Olan.
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya pria bertubuh besar itu. Merasa terancam karena tak sebanding, Leo pun akhirnya pergi dari club.
__ADS_1
* * *
"Argghhh ..." Leo kesal karena surat-surat penting tidak lagi berada dalam genggaman itu artinya ia akan kehilangan risort itu. Kepalanya terasa mendidih, lagi-lagi ia kalah dalam peperangan. Axel sudah mendapatkan perusahaannya kembali.
"Ronald, lakukan sesuatu. Aku ingin hidup Axel menderita, aku rasa sudah cukup kebersamaanya dengan putriku."
"Apa kita harus menculik putrimu?" tanya Ronald.
"Jika itu memang bisa buat Axel menderita kenapa tidak." Leo tidak peduli dengan siapa pun termasuk Elle, toh anak itu tidak diinginkannya hadir di bumi ini. Gadis itu terlahir bukan atas cintanya kepada Hanna.
* * *
Keesokan harinya.
Elle sudah siap kembali bersekolah, gadis itu di antar oleh suaminya. Axel mencium pucuk kepala Elle beberapa kali. Perasaannya mulai menghangat kepada gadis itu.
"Daddy, aku sekolah dulu," ucap Elle saat mobil sudah berhenti di depan sekolah.
__ADS_1
"Hmm, belajarlah dengan baik. Sebentar lagi kamu lulus sekolah, beri Daddy nilai terbaikmu."
"Tentu, aku selalu juara. Aku akan berikan nilai terbaikku kepada Daddy." Elle memeluk pria itu lalu memberi kecupan di bibir, setelahnya gadis itu pun turun dari mobil. Dan mobil yang ditumpangi Axel melaju menuju kantor.