
Keseharian Elle disibukkan dengan aktivitasnya yang baru. Dan Axel pun sibuk menjaga ketat risortnya yang sering terjadi kegaduhan karena ulah Leo. Leo sengaja melakukan itu agar Axel tidak mencari istrinya. Memisahkan mereka membuat kesenangan tersendiri baginya.
Tanpa terasa, hari demi hari, minggu demi minggu, perut Elle mulai terlihat menonjol. Tak ada keluhan apa pun disaat ia hamil, hanya saja ia sering merasakan rindu kepada suaminya. Hanya menatap wajah sang suami melalu layar ponselnya. Ia juga mengganti kartu ponselnya. Elle benar-benar meninggalkan Axel tanpa jejak.
Sementara Axel, entah kenapa sudah satu minggu ini ia merasa tidak enak badan. Mual dan pusing sering dialaminya, terlebih ia sering marah-marah tidak jelas kepada Jose yang selalu memakai parfum dan baunya begitu menyengat di penciumannya.
"Apa tidak sebaiknya ke dokter saja, Tuan," usul Jose.
"Jangan mendekat, Jose! Sudah kubilang kalau mau bertemu denganku kamu tidak usah pakai parfum, ganti bajumu," titahnya.
"Di luar ada Olan ingin bertemu," ucap Jose.
"Hari ini aku tidak mau bertemu dengan siapa-siapa, bukankah urusan pekerjaan dengannya sudah selesai? Untuk apa dia menemuiku lagi, paling hanya ingin tau soal istriku." Axel masih beranggapan bahwa Olan ingin mengenal Elle lebih jauh, "suruh saja dia pulang, aku mau istirahat." Axel kembali menarik selimut melanjutkan tidur. "Ganggu saja," rutuknya.
Di balik selimut, Axel memberi pesan kepada Jose. Sudah beberapa minggu ia tak pergi ke kota di mana istrinya tinggal. Ia ingin melakukan pencarian kembali, menyuruh Jose menyebarluaskan kehilangan istrinya. Memasang poto Elle disetiap tempat di kota itu, semoga dengan begini Elle bisa cepat ditemukan.
__ADS_1
_
_
_
"Perutmu sudah mulai terlihat, Ell. Apa tidak sebaiknya kamu berhenti menyanyi untuk sementara waktu. Kamu tidak usah memikirkan biaya hidupmu, masih ada aku yang akan menanggungnya. Kamu jangan khawatir," ucap Zurran.
Elle memang keras kepala, tidak bekerja pun ia masih bisa memakai kartu yang ia pegang saat ini. Axel tidak memblokir kartu itu, malah dirinya selalu mengisi saldo. Axel masih manafkahinya sampai sekarang.
"Kamu itu keras kepala. Ya sudah, siap-siap sekarang. Kakak akan mengantarmu, Kakak bertugas sampai malam sepertinya akan terlambat menjemputmu. Kamu tunggu saja di cafe sampai Kakak datang." Elle mengangguk patuh.
* **
Dan Elle pun sudah berada di cafe, cafe itu sangat ramai tidak dari biasanya. Karena ada gambar Elle tersebar di setiap dinding. Bagi siapa yang menemukan gadis itu akan mendapatkan imbalan.
__ADS_1
"Ramai sekali, apa setiap hari seperti ini?" tanya Zurran, melihat ke arah cafe dari dalam mobil, "apa mereka memang sengaja menunggu perform-mu? Sudah punya fans ya sekarang?"
"Biasanya tidak seramai ini, Kak. Aku 'kan bukan penyanyi terkenal, hanya penyanyi cafe biasa," jawab Elle. Karena penasaran, ia pun melongokan wajahnya melihat ke arah cafe, tanpa sengaja ia melihat gambarnya terpasang di tiang. Tertulis di mana berita orang hilang. "Kak, bukankah itu gambarku? Kenapa jadi berita orang hilang?" tanyanya seraya menajamkan mata.
Elle langsung teringat akan suaminya, apa mungkin masih mencariku? Pikirnya. "Kak, sepertinya aku gak jadi ke cafe. Perasaanku tidak enak, aku ikut ke rumah sakit saja kalau begitu."
Zurran tak banyak bertanya, ia tahu kalau ini pasti ulah suaminya. Axel merasa yakin akan keberadaan istrinya. Sesekali, Zurran menoleh ke arah Elle. "Jangan banyak pikiran, suamimu hanya mencemaskanmu. Bukan untuk balas dendam kepadamu." Zurran menyimpulkan seperti itu karena tidak ingin Elle stres.
_
_
_
Setelah keberedaran gambar Elle, gadis itu tak lagi memunculkan diri di depan publik. Elle benar-benar berdiam diri di rumah. Kian hari perutnya semakin membesar, Elle mengusap perut itu sambil melihat ke arah laut. Entah apa yang dipikirkannya sekarang.
__ADS_1
Ia ingin melupakan suaminya, semakin dilupakan, bayang wajah dan perlakuan manis Axel terbayang dalam benaknya. "Daddy," lirinya, mengusap lembut perutnya.