
"Daddy ...," panggil Elle, ia tak melihat keberadaan suaminya. Elle tertidur setelah pertempuran, saat terbangun Axel sudah tidak ada. Ia mendudukkan diri, bersandar di sandaran ranjang. Sprai itu kotor dengan noda merah. Meraih selimut untuk menutup tubuhnya yang polos lalu turun dari ranjang.
"Sakit," ucapnya. Tidak ingin ada yang tahu soal pertempuran itu, Elle menggulung sprai ia akan membawanya pulang.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Axel baru saja tiba dari arah belakang.
Terkejut, Elle langsung menoleh. "Sprainya kotor, Daddy. Aku akan mencucinya di rumah," jawab Elle.
Axel menghembuskan napas, lalu mendekat ke arah Elle. "Biarkan saja, nanti ada clening servis."
"Apa kata orang nanti jika tau soal ini? Aku malu."
"Mending kamu mandi dulu," titahnya.
"Bajuku?" tanya Elle.
"Jose yang akan mengantarnya, mandilah." Karena Elle terus berdiri bahkan tidak bergeser dari tempatnya, Axel pun akhirnya meraih tubuh yang terbungkus dengan selimut itu dan membawanya ke kamar mandi. "Perlu Daddy yang memandikanmu?"
Elle menggelengkan kepala. "Aku bisa sendiri," tolaknya.
"Baiklah, Daddy keluar dulu." Sebelum keluar, Axel mencium bibir Elle sekilas dan mengusapnya dengan ibu jari.
_
_
_
"Jose, bawakan baju untuk istriku. Dan jangan lupa beli obat pereda nyeri," ucap Axel pada sambungan telepon.
Sedangkan Jose. "Baju? Pereda nyeri?" Ia jadi membayangkan sesuatu, lalu tersenyum kecut. "Apa aku tidak salah dengar? Ternyata dia mengakuinya istri," gumamnya.
__ADS_1
Tapi Jose langsung gerak cepat, ia pergi ke toko baju dan ke apotik. Sesuai perintah, hanya butuh waktu beberapa menit untuk melakukannya karena ia langsung memesan pesanan melalui ponselnya.
Tok, tok, tok ...
Jose mengetuk pintu terlebih dulu karena takut kejadian tadi terulang. Saat pintu terbuka, Jose langsung masuk.
"Ini, Tuan." Jose meletakkan paper bag di atas meja.
"Hmm, terima kasih," kata Axel.
"Non Ell-nya di mana? Dia sakit?" tanya Jose.
"Sudah sana keluar, kalau aku butuh aku akan menghubungimu," usir Axel, "oh iya, batalkan semua janjiku aku akan pulang."
"Tapi hari ini ada pertemuan penting dan tidak bisa dibatalkan begitu saja, susah membuat jadwal dengannya," jelas Jose.
Axel memijat keningnya ia tak bisa meninggal Elle dalam keadaan seperti ini, nanti gadis itu merajuk, pikirnya. Apa harus mengajaknya? Tapi ...
"Jam 5 sore di cafe SUN."
"Oke, kamu boleh keluar."
Setelah Jose keluar, Axel masuk ke dalam kamar di ruangannya. Melihat Elle baru selesai mandi.
"Daddy, apa tidak ada pengering rambut? Aku butuh itu," ucap Elle.
"Daddy hubungi Jose, kamu pakai baju dulu saja."
Elle berjalan dengan pelan, area intinya membengkak dan itu terasa tidak nyaman. Axel yang kasihan menghampirinya dan memeluknya dari belakang. Elle langsung menoleh melihat wajah tampan sang daddy dari samping lalu mencium pipi pria itu.
Axel merasakan sentuhan hangat itu. "Sore nanti ada pertemuan clien, apa kamu mau ikut?" tanya Axel.
__ADS_1
"Apa Daddy tega meninggalkanku di sini? Aku tidak mau sendiri, tapi ini sakit," keluh Elle dengan manja.
"Tapi Daddy sudah janji dengan pertemuan ini, kita kesana sebentar saja. Setelah itu kita pulang, Daddy akan mengobatinya," bisiknya di telinga Elle sampai gadis itu mendesir. "Sekarang pakai baju, Daddy akan membantu."
Dengan cekatan, Axel membantu sang istri memakaikan baju. Bak anak kecil yang sedang dipakaikan pakaiannya oleh orang tuanya.
"Daddy, aku laper," ucap Elle.
Axel melirik jam di tangan, waktu sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. "Setelah ini kita langsung berangkat, pertemuannya di cafe kita bisa sambil makan dulu."
"Tapi rambutku?" Elle tidak mungkin keluar kantor dalam keadaan rambut basah, akan jadi bahan omongan orang sekantor bila keadaannya seperti itu. Lagi-lagi Axel menghela napas. Ia langsung menghubungi Jose memintanya membawakan hair dryer.
"Jose, bawakan alat pengering rambut, istriku membutuhkannya," ucap Axel, lalu menutup ponselnya kembali.
Elle tersenyum saat mendengar pengucapan Axel. Istri? Benar 'kah dia mengakuiku istrinya? Mudah-mudahan ini awal yang baik.
Beberapa menit kemudian, Jose datang. Perada nyeri? hair dryer? Akhirnya Jose bisa menyimpulkan sudah apa mereka, semoga ini awal yang baik. Mudah-mudahan balas dendam itu tidak terjadi, pikirnya.
Axel membantu Elle mengeringkan rambutnya, biasanya Carla yang selalu membantunya. "Ell, nanti minum obat yang ada di atas nakas ya," ucap Axel.
"Obat apa itu, Daddy?"
"Pereda nyeri."
"Hmm, baiklah."
"Oke, rambutnya sudah kering, kita berangkat sekarang," ajak Axel.
"Sprai-nya bagaimana? Aku tidak mau dicuci sama OB."
"Iya, Daddy akan menyuruh Jose membawanya ke mobil." Lagi-lagi Jose yang menghandle semuanya. Dan mereka pun langsung pergi ke cafe SUN.
__ADS_1