
"Tau gitu aku tidak kembali cepat-cepat" rutuk Elle setibanya di rumah. Ia mendengar suara lenguhan Aletta di balik kamar yang mungkin sedang bercinta dengan Zurran. Mendengar semua itu mengingatkannya pada percintaanya dengan Axel.
Percintaannya dengan Axel begitu mengesankan, momen di mana tak dapat ia lupakan. Elle tersenyum sendiri saat mengingatnya.
"Ell, kamu cantik. Daddy suka bibirmu yang bergelombang ini, terasa manis saat dikecup." Ujar Axel sembari meletakkan jarinya di bibir istrinya, memainkan bibir itu dengan jari jemarinya.
"Aku senang jika Daddy menyukai tubuhku, aku harap hanya aku wanita terakhir dalam hidupmu," ungkap Elle.
"Iya, Daddy tipe pria yang setia, sayang. Buktinya hanya Hanna yang menghiasi hati, Daddy. Tapi semenjak kamu hadir, hati Daddy hanya terukir namamu." Sebuah gombalan yang ia berikan kepada gadis itu membuat Elle semakin jatuh ke dalam pelukkannya.
Elle meneteskan air mata kala teringat itu semua. "Daddy yang paling terindah dalam hidupku, aku tidak pernah melabuhkan perasaanku sedalam ini, Daddy." Elle merebahkan tubuhnya di kasur, menutup kepala dengan bantal agar suara Aletta tidak terdengar di pendengarannya.
Keesokkan harinya.
"Yakin, gak ikut mengantarku?" tanya Letta yang siap kembali pulang.
"Hmm, aku di rumah saja," jawab Elle bersandar di pintu.
"Nanti kamu sendirian di sini, soalnya Kakak akan ke rumah sakit untuk bekerja," terang Zurran.
__ADS_1
"Iya, gak papa, Kak. Aku titip susu hamil saja," kata Elle. Letta memeluk sahabatnya, ia pasti merindukannya. "Jangan nangis, kalau nangis kamu itu terlihat jelek," ledek Elle.
"Aku itu sedih berpisah denganmu," ujar Letta, "memangnya kamu tidak sedih berpisah denganku, hah?" Elle menggelengkan kepala, "menyebalkan, dalam keadaan seperti ini kamu masih bisa membuatku kesal," celetuk Letta.
"Sudah sana pulang, saat kembali beri aku kabar bahagia. Kabar di mana kamu dan Kak Zurran akan menikah," ucap Elle.
"Kamu pegang omonganku, suatu saat nanti permintaanmu akan terkabul. Aku akan menikah dengan Kak Zurran." Letta memantapkan hati untuk membicarakan hubungannya kepada orang tuanya. "Aku pulang ya, Ell?" Dan Elle mengangguk, melepas kepergian sahabatnya.
_
_
_
"Daddy pasti menemukanmu, Ell. Daddy yakin itu, tapi tidak untuk sekarang," ucap Axel sebelum meninggalkan kota Bacalar itu. Bertemu pun belum tentu Elle akan menerima kahadirannya di sini, ia yakin bahwa Elle pasti marah padanya.
Hanya satu yang tidak diketahui Axel, bahwa istrinya pergi dalam keadaan hamil. Axel pun akhirnya pergi meninggalkan kota kecil itu yang di mana ia meyakini Elle berada di sana.
_
__ADS_1
_
_
Hari-hari pun berlalu. Elle mulai beradabtasi di kota itu. Selama tinggal di sana, ia tak menggunakan kartu debitnya. Selama perutnya belum membesar, Elle mencari nafkah dengan menjadi seorang penyanyi cafe, yang di mana ia memiliki bakat terpendam. Menjadi seorang penyanyi cafe pada jam-jam tertentu saja. Elle menyanyi pada pukul 4 sore sampai jam 9 malam.
Setiap pulang menyanyi, Elle dijemput oleh Zurran. Semua orang menganggap Zurran kekasihnya. Dan itu membuat Elle tidak pernah mendapatkan pelecahan yang hanya sebagai penyanyi cafe.
"Terima kasih ya, Kak," ucap Elle.
"Untuk apa?" tanya Zurran.
"Untuk semuanya, kalau tidak ada Letta dan Kakak mungkin hidupku tidak tau seperti apa," jelas Elle.
"Boleh Kakak tanya sesuatu?" tanya Zurran, mereka berada di dalam mobil menuju perjalanan pulang.
"Apa?" Elle menatap pria itu yang sedang menyetir.
"Apa kamu tidak merindukan suamimu? Apa kamu tidak ingin bertemu dengannya? Kakak tidak bermaksud membuka lukamu, Ell. Bagaimana pun, suatu saat anakmu pasti menanyakan ayahnya."
__ADS_1
"Rindu ada, dan untuk anak ini, aku pasti mengenalkannya pada ayahnya. Tapi tidak sekarang." Elle pun membuah muka, melihat ke arah jalan dari jendela. Zurran tidak lagi membahas suaminya karena ini pasti berat untuknya.