
Tengah malam, semua orang tertidur dengan nyenyak, terkecuali, Axel. Iak dapat tidur karena tak bisa memeluk istrinya malam ini. Elle masih marah karena suaminya mencukur rambut serta jambang kesukaannya. Axel tidur di kamar sebelah dekat dengan kamar tamu. Suara berisik di kamar sebelah terdengar oleh dirinya.
Rintihan, erangan dari pasangan yang sedang dimabuk cinta membuat Axel muak akan hal itu. "Sial, kenapa mereka harus melakukannya di sini," gerutu Axel, ia beranjak dari tempat tidur dan mencoba kembali mengetuk pintu kamarnya.
"Ell, buka pintunya. Daddy tidak bisa tidur," ucap Axel tepat di depan pintu, "buka, jangan sampai Daddy mendobraknya," ucapnya lagi.
Ia tahu kalau istrinya pasti mendengar keluhannya, karena Elle pun sebenarnya tak bisa tidur tanpa dirinya. Hampir putus asa karena Elle tak kunjung membuka pintu, hingga satu ide muncul dalam benaknya.
"Jendela, aku bisa masuk kamar lewat jendela." Axel pergi keluar dan mengambil tangga, ia memanjatnya dengan sangat hati-hati. Tak ingin menimbulkan suara dan malah dituduh sebagai maling, apa lagi ada Jose di rumahnya. Pria itu pasti langsung sigap untuk mencegahnya jika saja pria itu mengetahuinya.
Axel berhasil memanjat, dan sekarang tengah mencoba membuka jendela. Terkadang Elle suka lupa akan mengunci jendela tersebut. Dan benar saja, jendela itu tak terkunci. Axel berhasil masuk. Ia tersenyum saat melihat seseorang tertidur di balik selimut, perlahan ia menyibak selimut lalu ikut bergelung di dalam sana. Memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Sayang, Daddy tidur di sini ya. Jangan hukum Daddy seperti ini, apa kamu tidak kasihan?" ucap Axel pelan.
Elle pura-pura tidur karena ingin membuat suaminya jera dengan keputusannya sendiri. Betapa ia mengagumi sosok suaminya, tapi Axel malah beranggapan bahwa ia menilainya dari segi penampilan.
"Ell, Daddy tau kamu pasti mendengarnya. Hentikan hukuman ini." Axel memeluknya lebih erat, lalu menyentuh bagian dada istrinya. Mere*asnya dengan lembut. Tak hanya di situ, tangannya mulai ia masukkan ke dalam balik lingeri. Ia tidak bisa membiarkannya begitu saja, apa lagi ia begitu menginginkannya setelah mendengar erangan di kamar sebelah.
Elle menimbulkan suara akibat sentuhan lembut di bagian ujung dadanya yang mulai mengeras. "Kamu selalu membuat pertahananku runtuh, Daddy," batin Elle.
"Apa kamu tidak menginginkannya, hmm?" tanya Axel tanpa peduli mau dijawab atau tidak, "Daddy akan terus berusaha sehingga kamu menikmatinya." Axel melompati tubuh itu, sehingga ia berada di depan istrinya. Mengecup keningnya dengan dalam.
Elle masih diam tanpa merubahkan posisinya, dan disaat suaminya sudah melu*at pu*ingnya, ia masih menahan rasa itu. Rasa gengsinya cukup besar karena ia sendiri yang meminta suaminya untuk tidak menampakkan diri. Sejujurnya, ia pun tak bisa tidur sendiri.
"Ah ... Daddy ..." Akhirnya pertahan itu runtuh, Elle menjambak rambut suaminya.
Axel mendongak lalu tersenyum, ia tahu kalau istrinya tidak akan bisa menolak sentuhan darinya. "Ya, sayang. Berikan Daddy suara indahmu." Axel pun mencium bibir istrinya, melu*atnya dengan bringas.
__ADS_1
Elle pun tak kalah bringas, meski kecewa pada suaminya tapi ia tak dapat menolaknya. Tubuh dan pikirannya tak sejalan. Ibu muda itu sudah berada dalam mode on. Axel kembali mendaratkan bibirnya di dada istrinya, menyesap pu*ing itu dengan secara bergantian. Bagaikan bayi yang kehuasan, tanpa jeda ia melakukannya. Bahkan bibir dan lidahnya sudah terasa kebas. Tapi ia terus melakukannya sampau Elle berada pada rangsanga* yang luar biasa.
Jarinya mulai terarah pada bagian segita yang masih melekat. Nampak terasa lembab di bawah sana. "Ah ..." Elle kembali merintih saat jari suaminya sudah menjelajah di bagian sensitifnya. Dengan lincah tangan itu menjamah, sehingga tubuh Elle mulai bergetar merasakan kedutan yang membuatnya merasa terbang di awan.
Axel tersenyum bangga saat melihat Elle tergeletak lemah karena ulahnya. Dan sekarang gilirannya, Axel melepas pakainnya dan membuangnya secara asal melemparnya ke lantai. Axel memposisikan diri dan siap menyebrang lautan.
Entah sejak kapan Axel berlabuh, yang jelas, ia tengah menyebrangi lautan dan menghantam ombak. Berlayar dengan kecepatan di atas rata-rata. Tubuh Elle kembali bergetar karena suaminya yang terus menerjang tanpa berhenti. Dan akhirnya, Axel berhasil melabuhkan kapalnya. Deru ombak terlepas di tepian bibir pantai. Ombak itu menderu hingga batas puncak.
Tubuh keduanya pun ambruk tak berdaya, percintaan yang kian hari kian memanas. Axel berharap junior Lexi segera tumbuh, melengkapi hidup mereka dan semakin terlimpah kebahagiaan.
_
_
_
"Cup, cup, cup ..." Carla meraih tubuh bayi itu, lalu mengedarkan pandangan. "Di mana, Loren?" tanyanya sendiri.
Tak lama, Elle pun berlari kecil sambil mengikat rambutnya dengan asal. Ia baru terbangun dari tidurnya, ia mendengar tangisan anaknya.
"Mis, kenapa Lexi? Kenapa dia menangis? Di mana Loren?" tanya Elle tanpa jeda. Elle langsung mengambil alih Lexi dari pangkuan Carla.
"Ada apa? Pagi-pagi sudah berisik?" tanya Axel ikut menyusul, tak biasanya tangisan Lexi terdengar.
"Loren tidak ada, Lexi sendirian di sini," jawab Carla.
Axel membuka lemari pakain Loren, seperti dugaannya. Lemari itu terlihat kosong, tapi apa yang membuat wanita itu pergi? Pikirnya.
__ADS_1
"Daddy, apa dia pergi? Tapi kenapa tidak pamit dulu pada kita?" tanya Elle.
"Ada yang tidak beres," ucap Axel.
Kepergian Loren sangat mencurigakan, Elle pun akhirnya mengecek barang-barang berharganya. Wanita iti segera pergi ke tempat di mana ia menyimpan perhiasannya. Ia menyimpan barang-barang berharga di ruang ganti. Elle terkejut saat melihat kotak perhiasannya berceceran di atas meja rias.
"Ya, Tuhan ..." Elle tak percaya bahwa baby sitter itu ternyata adalah seorang pencuri. Ia tak akan menuduh pada orang lain, karena sudah jelas Loren pergi dalam keadaan tidak pamit padanya.
"Apa sesuatu terjadi?" Carla menyusul Elle karena wanita itu pergi tanpa kata. Carla sangat terkejut melihat pemandangan di ruang ganti itu, mulutnya menganga sakit tak percayanya bahwa Loren yang melakukannya.
"Dari awal aku sudah curiga," kata Elle, "ini tidak boleh dibiarkan, kita harus lapor agar tidak ada korban berikutnya."
* * *
Loren sudah hampir jauh meninggalkan kota, gadis itu pergi karena Olan. Olan tidak menyangka bahwa baby sitter yang mengasuh Lexi adalah Loren, gadis yang pernah berskandal dengan kakaknya. Gadis itu hampir merusak rumah tangga kakaknya, maka dari itu ia mengancam Loren untuk segera pergi dan tak lagi bekerja di rumah Axel. Tanpa ia ketahui, Loren malah membawa barang-barang berharga milik Elle.
Olan tengah mengemudi, tak sengaja ia melihat Loren dan berpikir ternyata wanita itu menuruti apa yang diperintahkan olehnya. Tapi dari gerak-gerik wanita itu sangat mencurigakan. Akhirnya, ia mengikuti kemana Loren pergi.
Loren pergi ke sebuah toko perhiasan. Olan mengerutkan kening, untuk apa wanita itu pergi ke sana? Tidak mungkin untuk membeli perhiasan, pikirnya.
Loren mengeluarkan perhiasan hasil curiannya untuk dijual. Olan mengenal perhiasan itu, sebuah kalung yamg sering Elle gunakan sewaktu dulu. Ini tidak boleh dibiarkam, itu pasti milik Elle, pikir Olan.
"Boleh saya melihatnya?" ucap Olan tiba-tiba.
Loren yang terkejut langsung menyapu perhiasan di atas meja itu dengan tangan. Kenapa pria itu selalu menggagalkan rencananya? pikirnya. Saat Loren akan pergi, dengan sigap Olan menahan kepergiannya.
"Kamu tidak bisa kabur, atau aku akan melaporkanmu pada polisi!" sergah Olan.
__ADS_1