
Lexi terus menangi, entah ada apa dengan bayi itu. Elle sampai kewalahan saat menggendongnya karena tidak bisa menenangkan bayinya. Suara tangis Lexi terdengar di pendengaran Carla, wanita itu segera datang untuk menemui Elle. Dan Axel mengambil alih Lexi dari pangkuan istrinya.
Saat Elle beranjak dari tempatnya, sekilas ia melihat ke jendela. Hendak membetulkan gorden, tapi saat itu ia melihat ke arah luar. Seseorang berdiri di dekat pagar.
"Sayang, coba kamu buka pintu," sahut Axel yang sedang menggendong Lexi.
"Ah, iya." Elle langsung menutup gorden itu kembali, tapi hatinya sangat gelisah. Terlebih mengingat kejadian di mana Leo akan menyakitinya yang hendak memberikan suntikkan melalui dokter gadungan. Elle langsung membuka pintu. "Mis."
"Kenapa bayinya? Kenapa terus menangis?" tanya Carla, "apa mungkin haus?" duganya.
"Tidak tahu, tapi aku sudah memberikan ASI-ku," jelas Elle.
"ASI-nya banyak tidak?" tanya Carla, "coba bantu pakai susu formula." Carla mendekat ke arah Axel dan langsung mengambil Lexi dari gendongan ayahnya.
"Aku bikin susunya dulu." Elle segera pergi ke dapur untuk membuatkan susu, ditemani oleh Axel. Sedangkan Carla, ia mengecek popok bayi, takut bayi itu merasa tidak nyaman dengan popoknya.
Dan benar saja, Lexi menangis mungkin karena popoknya belum di ganti. Sesudah diganti, Lexi pun terdiam karena sudah merasa nyaman.
"Mis, ini susunya." Elle kembali membawakan susu formula untuk Lexi.
"Siapa nama bayi ini?" tanya Carla.
__ADS_1
"Namanya, Lexi," jawab Axel, "apa dia sudah tidur lagi?" tanyanya.
"Iya, Lexi tidak nyaman dengan popoknya yang basah, sering-sering ganti ya?" pesan Carla.
"Maaf, aku memang belum menggantinya," sahut Elle. Elle masih belajar dalam mengurus bayi, lagi pun ia tak ingin memakai jasa baby sitter. Ia meminta Carla untuk membantunya, tapi mendengar Carla akan menikah, mau tak mau ia harus mencari baby sitter untuk Lexi.
"Mis, sepertinya aku harus mencari baby siter untuk Lexi." Mendengar penuturan Elle, Carla langsung menoleh.
"Baby sitter?" ulang Carla, "bukannya tak ingin memakai jasa baby sitter?" tanyanya.
"Tapi Mis tidak mungkin terus membantuku, apa lagi Mis sebentar lagi akan menikah," ucap Elle.
"Oh ya? Diakan masih kuliah," sahut Axel.
"Memangnya kenapa kalau masih kuliah? Aku nikah waktu masih sekolah, apa Daddy lupa?" tanya Elle.
"Itu lain ceritanya," kata Axel.
"Lain apanya? Apa karena dendam yang takut tidak terlaksanakan?" Elle mendelikkan mata.
"Sudah malam, sebaiknya kalian tidur," kata Carla, "untuk, Lexi. Biarkan malam ini tidur bersamaku," sambungnya.
__ADS_1
"Apa tidak merepotkan?" tanya Axel.
"Untuk malam ini tidak, lagian Non Ell harus banyak istirahat biar cepat sembuh."
"Aku tidak apa-apa, Mis. Jahitnnya juga sudah bagus, aku sudah sembuh," kata Elle.
"Jangan membantah, tidurlah." Selepas mengatakan itu, Carla segera keluar kamar dan membawa Lexi ke kamarnya. Carla tidak lagi menempati rumah yang ada di belakang, ia tinggak satu rumah dengan Elle mulai saat ini.
_
_
_
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Hari ini hari bahagia Aletta dan Zurran. Mereka mengadakan pernikahan, Aletta terlihat begitu cantik dengan gaun yang menjutai, sampai menyapu lantai.
Sepasang pengantin itu terlihat begitu bahagia Seusai pernikahan, pesta langsung digelar nanti malam.
"Selamat ya, Ta. Semoga kalian bahagia," ucap Elle.
"Terima kasih." Aletta dan Elle saling berpelukkan. Mereka tengah menanti akan hadirnya malam. Malam di mana pesta akan digelar.
__ADS_1