
Elle pergi dari rumah, ia sudah memikirkan ini matang-matang. Apa lagi dirinya tengah hamil, bagaimana kalau suaminya tidak menginginkan anak ini? Elle takut pria itu melakukan di luar kendali.
"Ell, apa kamu sudah memikirkannya? Kamu lagi hamil loh, suamimu harus tau," kata Letta.
Elle meminta bantuan pada sahabatnya itu, setidaknya memberi tumpangan. Ia juga tidak tahu harus kemana, ia tak punya sanak saudara., Ia tak mungkin nenemui Leo, karena lelaki itu pun berniat mentakitinya.
"Mungkin ini yang terbaik, Ta. Mereka jahat padaku, hanya kamu yang aku harapkan." Elle meraih tangan Letta, memohon agar mau membantunya. Letta menghela napas, melihat Elle seperti itu tidak tega.
"Kak Zurran seorang dokter, dia sedang tugas di luar kota. Kalau kamu mau kamu bisa tinggal bersamanya, rencananya hari ini aku mau menemuinya. Sekalian liburan, aku juga bisa memantaunya lewat kamu. Kita saling menguntungkan 'kan?"
"Gak papa kalau aku tinggal bersama kak Zurran?" tanya Elle.
"Iya, awas saja kalau kamu macam-macam sama kekasihku," ancam Letta bercanda.
__ADS_1
"Aku akan merebutnya darimu, dan dia juga akan menjadi dokter kandunganku." Elle tak kalah menggodanya, lalu mereka pun tertawa bersama. Di balik tawa itu tersimpan kesedihan yang teramat dalam, Elle terdiam sambil menyentuh perutnya.
"Jangan sedih ya, masih ada aku kok." Letta memeluk Elle. Mereka putuskan untuk segera berangkat karena orang tua Aletta sudah siap mengantarnya ke Bandara.
"Elle ikut liburan juga?" tanya ayah Letta.
"Iya, Uncle," jawab Elle.
"Kalian baik-baik selama di sana ya?" timpal ibu Letta.
* * *
Sedangkan Axel, pria itu terus mencari keberadaan Elle. Hingga ia melupakan sahabat dekat istrinya, karena ia menyimpulkan kepergian Elle karena hasutan dari Leo seperti kemarin. Dari mana Elle tahu atas niatnya yang akan balas dendam kalau bukan dari si brengsek itu? Pikirnya.
__ADS_1
Axel mencari keberadaan Leo, sampai ia berani datang ke rumah lelaki itu. Seakan mengantar nyawa masuk ke dalam kandang singa. Leo bertepuk tangan saat kedatangan tamu spesialnya.
"Ronald, liat. Siapa yang datang? Sahabatku datang kemari, apa yang akan dilakukannya setelah berhasil menikahi putriku? Nyalimu besar juga ya, Axel," kata Leo.
"Tidak usah banyak bicara! Di mana istriku?"
"Istri? Istri yang kamu peralat untuk membalaskan dendam padaku?" Leo tertawa terbahak-bahak, "apa aku tidak salah dengar? Apa kamu sudah jatuh cinta kepada putriku, hah?" Leo menatap tajam Axel. "Bukankah tujuanmu sudah berhasil? Kamu sudah mendapatkan risort itu kembali dan menyakiti putriku, dan sekarang kamu datang menanyakan putriku? Suami macam apa kamu ini?"
Semua orang yang ada di dalam rumah Leo menertawakan kehancuran Axel, hancur karena dirinya sendiri. Axel langsung meraih kerah baju Leo dan mencengkramnya, lalu menghajarnya sampai sudut bibir Leo berdarah. Saat Axel kembali akan menghajarnya, anak buah Leo menyergapnya.
"Hentikan, biarkan dia melakukan apa yang akan dilakukannya," ucap Leo, "harusnya kita bantu mencari istrinya," ledek Leo.
Axel mengepalkan tangan, ingin sekali ia menghajarnya. "Lepaskan dia, biarkan dia pergi untuk mencari istrinya," ucap Leo pada anak buahnya.
__ADS_1
Axel membetulkan kerah kemejanya setelah terlepas dari anak buah Leo. "Cari istrimu sebelum terlambat, Axel. Dan aku pastikan bahwa putriku sudah membencimu." Lagi-lagi Leo tertawa seraya meledek.
Ponsel Axel berdering, ia mengangkatnya dan menempelkan ponsel itu di telinga. "Ada penerbangan atas nama Grizelle," ucap Jose melalui ponsel, tidak menunggu lama lagi, Axel segera pergi ke Bandara.