
Cafe SUN.
Axel dan Elle baru sampai di cafe, sesampainya di sana mereka langsung memesan makanan karena Elle kelaparan, tenaganya habis terkuras.
"Kamu kenapa, hmm?" tanya Axel saat melihat Elle tidak nyaman dengan posisinya. Gadis itu terus menggeserkan tubuhnya mencari posisi nyaman saat duduk. Area intinya membengkak dan itu yang membuatnya merasa tidak nyaman.
"Tidak apa-apa, Daddy," jawab Elle.
Tak lama makanan yang dipesan pun datang. "Silakan, Tuan, Nona." Kata pelayan setelah meletakan beberapa menu makanan yang dipesan. Elle menyantap makanan itu dengan lahap.
"Pelan-pelan, Ell," kata Axel. Gadis itu hanya tersenyum. Saat fokus dengan makanannya, tamu yang ditunggu pun datang. Seorang pengusaha muda dan tampan itu akhirnya bisa bertemu dengan Axel Austin. Yang sama-sama memiliki kesibukan dalam usaha mereka.
"Sore Tuan, Axel," sapa Olan si pengusaha muda.
Axel pun berdiri, dan Jose langsung menghampiri menghadiri pertemuan mereka. Karena tadi ia berada di meja belakang Axel, tidak ingin mengganggu sepasang suami istri baru itu.
Elle yang sedang makan pun terhenti dan ikut berdiri. "Ini pasti Nona Grizelle, anak dari Tuan Axel, iya 'kan?" tanya Olan.
__ADS_1
Axel menautkan kedua alis, kenapa orang ini bisa tahu tentang Elle? Sedangkan ia sendiri merahasiakan keadaan Elle sebagai putrinya dari publik, hanya orang terdekat yang tahu tentang putrinya. Mau membantah pun sudah telak, Axel tidak mungkin mengakui Elle yang kini sebagai istrinya. Mengiyakan pun tidak, Axel hanya melirik ke arah Elle sekilas.
Olan dan Axel saling berjabat tangan. "Silakan duduk Tuan, Olan," kata Axel.
Axel tidak suka dengan tatapan Olan terhadap Elle. "Sayang, bisa kamu pindah duduk sebentar, Daddy dan Tuan Olan akan membicarakan tentang pekerjaan, kamu bisa makan dengan tenang," ucap Axel.
"Tentu, Daddy." Elle bangkit dari duduknya dan berpindah tempat. Tatapan Olan berbeda, Axel bisa menyimpulkan sesuatu dari tatapan itu. Elle cantik, pria mana pun akan suka bila melihatnya.
"Kenapa dia terus menatap istriku?" bisik Axel di telinga Jose. Jika memang diperhatikan, sejak tadi pandangan Olan selalu tertuju pada Elle bahkan setelah gadis itu pindah duduk di meja lain.
'Tuan Olan, bisa kita mulai pembicaraan mengenai perusahaan kita?" tanya Jose mengalihkan pandangan pria itu, Jose bisa membayangkan jika tuannya marah. Ia tidak tahu kalau keberadaan Elle malah menghambat pembicaraan usaha mereka.
Tangan Axel mengepal, apa-apaan ini? Kenapa pembahasannya malah ke arah lain? Tidak! Ini bukan soal pekerjaan, tak seharusnya ia menjawab pertanyaan konyol itu.
"Nona Ell masih sekolah, bisa kita bahas soal pekerjaan?" Jose mengalihkan pembicaraan.
"Oh maaf, aku tidak bermaksud kurang ajar," ucap Olan, "aku hanya kagum, putrimu sangat cantik, Tuan Axel," pujinya.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Axel. Benar-benar tidak nyaman bekerja sama dengan orang itu, Axel mempercepat urusannya dengan Olan. Setelah itu ia langsung pamit karena sudah tidak ada lagi yang harus dibicarakan.
_
_
_
"Batalkan kerja sama dengannya, aku tidak sudi," cetus Axel marah-marah setelah pertemuan tadi, dan saat ini mereka sedang berada di dalam mobil menuju pulang.
Elle yang tidak tahu apa-apa jadi penasaran. Axel terlihat marah dan kesal.
"Daddy, apa yang terjadi? Kenapa Daddy marah-marah?" tanya Elle dengan nada lembut. Axel meraih tangan gadis itu lalu menciumnya. Keberadaan Elle bisa meredam emosinya, secara tidak sadar Axel merasa tenang saat di dekat gadis itu.
Sejak selalu bersamanya, Axel sedikit melupakan rasa sakit yang telah ditorehkan oleh Hanna.
"Tidak, tidak apa-apa. Daddy tidak menyukai cara kerjanya, tidak cocok bila harus bekerja sama dengan Daddy," alasan Axel.
__ADS_1
Jose terus memperhatikan tuannya dari kaca depan, bibirnya tersenyum. Emosi Axel yang kadang meletup-letup kian berkurang dengan adanya gadis itu di sampingnya. Semoga dendam itu hilang seiring berjalannya waktu, semoga tidak ada kerikil menghantam rumah tangga mereka.