Ranjang Pengkhianatan (Balas Dendam)

Ranjang Pengkhianatan (Balas Dendam)
Episode_045


__ADS_3

Setelah pertempuran kedua kalinya, Elle tertidur pulas. Kepala yang bersandar di dada bidang sang daddy. Axel merasakan hembusan napas istrinya di kulit tubuhnya. Mengusap lembut pucuk kepala gadis itu, menghirup aroma rambutnya yang kian hari membuatnya rindu.


"Maafkan Daddy, Ell. Maaf menyeretmu ke dalam masalah ini." Axel memeluk tubuh polos itu. Axel sadar dengan apa yang sudah diperbuat, tapi cuma ini yang bisa menghancurkan perasaan Leo. Tanpa ia ketahui, Leo sama sekali tidak peduli dengan anaknya.


Pada tengah malam, Elle terbangun. Gadis itu merasakan lapar, ia beranjak dari tempat tidur.


"Aww ...," pekik Elle. Axel yang mendengar dan tahu istrinya terbangun ia pun ikut bangkit. Menyalakan lampu tidur dan bertanya.


"Kenapa? Apa butuh sesuatu?" tanya Axel.


"Daddy, aku laper," kata Elle.

__ADS_1


"Tunggu sebentar, Daddy ambilkan sesuatu untukmu." Axel berniat mengambilkan makanan untuk istri kecilnya. Tak lama, pria itu kembali membawakan cemilan. "Makan ini, jangan makan makanan yang berat-berat."


Elle menarik selimut untuk menutup tubuhnya yang polos. Bagian intinya terasa semakin bengkak dan sakit. Apa lagi di ujung put*ngnya, terasa ngilu karena Axel menyesapnya dengan lama. Sekujur tubuhnya terasa sakit.


"Biar Daddy suapi." Elle menerima suapannya dan mengunyahnya pelan.


"Haus," ucap Elle. Axel mengambilkan minum, melihat keadaan Elle membuatnya kasihan, gadis itu begitu lemas. Ia benar-benar menghujam tubuh mungil itu dengan gairah yang tertahan sejak 15 tahun lamanya.


Elle meneguk air minum hingga tandas. "Daddy, boleh aku tidur lagi? Aku sudah kenyang dan sangat mengantuk."


Pengalaman ini baru pertama kali ia ketahui, saat bersama Hanna dulu tidak seperti ini. Karena Axel bukan yang pertama tidur dengannya. Axel dibohongi oleh Hanna, mengaku perawan nyatanya bukan. Dari Elle ia tahu bagaimana pengalaman orang pertama melakukannya. Setelah mengambilkan pakaian untuk Elle, ia kembali menghampiri istrinya. Menyibak selimut dan menyentuh tubuh kecil itu.

__ADS_1


"Ell, kamu sakit?" Axel merasakan tubuh itu menghangat, Elle sedikit menggigil. "Ya Tuhan, Elle sakit," gumamnya. Tanpa membangunkan gadis itu, ia memakaikan pakaian. Panik, ia pun pergi ke dapur untuk mengambilkan kompresan.


"Paracetamol." Axel mencari kotak obat, "di mana kotak obat itu diletakkan?" Axel seperti orang pikun, ia begitu khawatir akan keadaan Elle. "Ah, ini dia." Axel berhasil menemukan obat. Buru-buru ia kembali ke kamar.


"Sayang, bangunlah." Axel meraih tubuh itu dan Elle pun membuka mata.


"Apa ini sudah pagi?" tanya Elle, "Daddy aku kedinginan, aku bolos sekolah ya hari ini, tubuhku sakit," keluh Elle.


"Iya, sayang. Ini masih malam, tubuhmu panas minum obat dulu ya." Axel memberikan obat penurun panas. Dan Elle meminumnya.


Setelah itu, Axel mendekap tubuh Elle. Tiba-tiba ia jadi khawatir dengannya, tidak tega melihatnya kesakitan dan itu disebabkan olehnya. Usia Elle begitu sangat muda, dan ia harus mendapatkan serangan darinya. "Tubuhmu pasti sakit-sakit ya?" ucapnya.

__ADS_1


Lalu, bagaimana dengan balas dendam yang ia rencanakan? Baru sakit seperti ini saja Axel sudah kelimpungan dengan keadaannya. Apa Axel akan benar-benar tega dengan niatnya?


Axel benar-benar mendekap tubuh itu, ia tak ingin istri kecilnya sakit. Elle sudah memberikan kepuasan untuknya, yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya dari Hanna.


__ADS_2