Rasa Ini

Rasa Ini
perhatian


__ADS_3

Saat pulang kerumah Ryan, ternyata Ryan sudah sampai dirumah. Tadi dia tidak balik kantor setelah siang keluar. Melihat Nat pulang Ryan mendekatinya, saat Ryan memegang tangan Nat tiba-tiba Nat teriak. Ryan kaget.


"Kamu kenapa" tanya Ryan, tapi Nat segera menyembunyikan tangannya. Dia tidak mau Ryan tau apa yang terjadi di kantor. karena Nat merasa sudah sangat merepotkan Ryan. kali ini dia harus bisa menghadapi sendiri.


"Gak papa kok, kaget aja" tapi Ryan gak langsung percaya, dia menarik tangan Nat. Tangan yang memerah karena tersiram ai panas masih jelas terlihat.


"Kenapa tangan kamu?" selidik Ryan, Nat gak langsung menjawab. Dia bingung harus bilang apa.


"Mmmm td aku ga sengaja tersandung saat membuat kopi, jadi kena tangan" katanya berbohong.


"Jujur... " Ryan tau Nat berbohong, dia juga tau Nat serinh dibully di kantor. Ryan pernah ingin membela tapi Nat melarangnya.


"Kenapa gak percaya? Maaf aku lelah. Aku ingin istirahat." Nat langsung menuju kamarnya. Sebenarnya Ryan tadi ingin memberi tau Nat tentang Rey yang pergi ke luar negeri untuk mengerjakan bisnis. Tapi melihat keadaan Nat, Ryan mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Kenapa gak mau minta bantuanku si Nat" kata Ryan bergumam. Dikamar Nat langsung merebahkan dirinya.


"Kenapa laki-laki yang dekat denganku selalu membuat masalah denganku, dulu Rey, sekarang Ryan" katanya pada diri sendiri. Tangan yang terkena air panas membuat dia tidak dapat berbaring tenang. Perih. Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk.


"Nat.. Nat." suara Ryan dari depan pintu. Nat berjalan menuju pintu dan membukanya. Disana ada Ryan membawa baskom berisi air dan ada obat ditangannya juga.


"Kamu.."


"Tangan kamu harus diobati, kalau gak kamu gak akan bisa tidur" tanpa minta persetujuan Nat Ryan masuk ke kamar dan melerakan baskom di atas meja samping tempat tidur. Kemudian dia menuntun Nat duduk di ranjang.


"Ryan... Kenapa kamu selalu menolongku?" pertanyaan Nat menghentikan tangan Ryan yang sedang mengoles obat. Tapi kemudian dia melanjutkan lagi.


"Karena aku mau" jawab Ryan singkat.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Apakah harus aku jawab sekarang?" Ryan menatap mata Nat. Nat terdiam.


"Apakah harus ada alasan aku menolongmu? Kalau aku jawab karena aku suka menolongmu bagaimana?" sekarang Nat yang tidak tau harus menjawab apa.


"Oh iya.. Aku tadi mau kasih tau kamu. Rey sekarang diluar negeri. Mengurus bisnisnya" mendengar nama Rey, dada Nat bergetar. Luka dan trauma seperti muncul lagi dihadapannya. Tangannya bergetar. Ryan yang melihat itu segera memeluk Nat.


"Maaf Nat seharusnya aku gak nyebut nama itu, jangan takut lagi. Aku pasti melindungimu Nat" Nat menjadi lebih tenang.


"Tanganmu sudah selesai, turun yuk kita makan dulu, tadi aku udah minta bibi masakin kesukaan kamu" Ryan menuntun Nat turun.


"Aku suapin ya" kata Ryan melihat Nat kesusahan memegang sendok saat makan.

__ADS_1


"Gak usah... Makasih. Aku bisa" Nat malu karena bibi sudah senyum-senyum melihat mereka. Tapi Ryan tetap menyuapi Nat. Selama makan muka Nat merah karena malu.


__ADS_2