
Hari ini Ryan meminta Nat mengambil dokumen di rumahnya. Dengan diantar supir Nat menuju rumah Ryan. Ryan ada rapat sehingga Nat yang harus mengambil dokumennya.
Sampai dirumah Ryan, bibi sangat senang melihat Nat datang.
"Non apa kabar? Lama gak ketemu bibi" kata bibi sambil menghampiri Nat.
"Baik bi, kalau bibi sendiri bagaimana? Sehat kan?"
"Wah kalau bibi mah selalu sehat Non. Non udh makan belum? Bibi masakin yaa..."
"Makasih bi... Tapi gak usah. Soalnya harus balik kantor lagi. Saya cuma mau ambil dokumen aja." kata Nat menolak secara halus.
"Bener gak mau makan dulu. Balik kantornya nanti lagi aja Non." kata Bibi membujuk Nat.
"Jangan Bi, nanti malah saya kena omel bos. Bisa dipecat" kata Nat lagi. Bibi tertawa.
"Gak mungkin Non. Den Ryan itu paling sayang sama Non Nat, gak mungkin di pecat. Non pergi aja waktu itu den Ryan kebingungan kayak anak ayam pisah ama induknya" kata bibi. Mendengar itu Nat tertawa. Apalagi dengan logat dan mimik muka bibi yang lucu kalau ngomong serius.
"Bibi bisa aja... Udah ah bi. Saya buru-buru. Kata Ryan udah titip dokumennya sama bibi ya"
"Eh iya Non. Tadi Den Ryan ada telpon. Ni udah bibi ambilin." Bibi mengambil dokumen yang sudah dia siapkan. Menyerahkannya pada Nat sambil tersenyum.
"Bibi kenapa sih senyumnya kok gitu, ada yang aneh ya di muka saya?" kata Nat sambil tertawa.
"Bibi senang den Ryan dekat dengan Non, soalnya Non baik, cantik, gak sombong." puji Bibi. Nat tersenyum mendengarnya.
"Bibi bisa aja... Saya gak sebaik itu bi"
"Bener Non, gak kaya Non Bela... Sombong, suka bicara kasar," mendengar nama Bela, Nat penasaran.
"Bela? Siapa itu Bi?" tanya Nat pada Bibi. Bibi terkejut, karena dia tanpa sadar menyebut nama Bela.
__ADS_1
"Bukan siapa Non, udah Non katanya mau balik kantor" bibi sekarang mengusir Nat. Nat semakin penasaran.
"Iya Bi, tapi ceritain dulu siapa Bela, pacar Ryan?" tanya Nat. Bibi salah tingkah. Sepertinya bibi takut untuk bicara tentang Bela.
"Bibi gak tau Non. Tadi bibi asal sebut aja. Udah ya Non. Bibi masih banyak kerjaan. Non juga harus balik kantor" kata Bibi, kemuadian buru-buru pergi ke dapur.
"Bi...." panggilan Nat sudah gak di tanggapi bibi lagi.
Akhirnya Nat memutuskan untuk kembali ke kantor. Sepanjang perjalanan nama Bela memnuhi hati dan pikirannya. Siapa Bela? Apakah dia pacar Ryan? Atau dia tungangan Ryan? Atu Ryan sebenarnya sudah punya istri? Pertanyaan ituincul begitu saja di benak Nat.
'Apakah aku cemburu?' gumam Nat. Tapi dia memutustkan akan bertanya sendiri sama Ryan. Mungkin Ryan akan menjelaskannya. Tapi alasan apa Nat bertanya masalah pribadi Ryan? Siapa dia sampai harus cemburu? Kan mereka belum pacaran? Keraguan mulai muncul.
Nat merasa kesal sendiri. Berperang dengan rasa cemburu dan gengsinya. Tapi dia pikir harus tetap menanyakannya. Kalau dia simpen sendiri jadi beban pikirannya.
Samai di kantor Nat buru-buru menujubruangan Ryan. Di depan ruangan dia bettemu dengan Bob.
"Bob, Ryan ada di dalam?" kata Nat sambil terus menuju ruangan Ryan.
"Eh Nat kamu gak boleh masuk" kata Bob terkejut karena Nat dengan sangat cepat sudah membuka pintu.
Nat tidak bisa berkata apa-apa. Bibirnya seolah tertutup rapat. Ryan yang melihat Nat di pintu terkejut, dia melepaskan pelukan wanita itu.
"Nat..." panggil Ryan. Nat kecewa, dia berbalik. Bob yang ada dibelakangnya merasa bersalah. Natemberikan dokumen yang dia ambil sama Bob.
"Tolong berikan dokumen ini" kata Nat. Bob menerimanya.
"Nat..." kata Bob. Tapi Nat sudah gak mau mendengarkan apapun sekarang. Dia sadar dia gak ada hak untuk marah. Bahkan untuk cemburu.
Dia kecewa. Dia merasa semua kebaikan, perhatian, kata sayang dari Ryan gak ada artinya. Hanya harapan palsu yang Ryan berikan.
Nat berlari ke arah toilet. Saat dia menngis diam-diam disana. Dia mendengar omongan beberapa karyawati yang bergosip di toilet.
__ADS_1
"Wah... Ternyata tunangan pak Ryan datang loh. Dia baru datang dari luar negeri" kata salah satu cewek.
"Iya... Aku tadi liat waktu dia datang. Cantik. Seksi. " kata yang lain lagi.
"Tentu saja selera pak Ryan seperti itu. Dia dengan Nat pasti hanya main-main aja. Mana mungkin si pak Ryan suka sama Nat?" ini suara Mia. Kata-kata Mia diiyakan oleh yang lain. Mereka mulai menjelekan Nat. Tanpa mereka sadari Nat ada disitu mrndengarkan semua pembicaraan mereka.
Sebenernya tadi setelah melihat Nat. Ryan akan mengejarnya, tapi Bela menghalanginya.
"Ryan... Siapa dia? " tanya Bela setelah Nat berlari menjauh.
"Bukan urusan kamu."
"Ooohh tapi tadi dia sudah liat kita pelukan, pasti sekarang dia sedang menangis" ejek Bela merasa puas.
"Kita gak pelukan ya. Kamu yang peluk aku" kata Ryan lagi dengan kesal.
"Tapi kamu suka kan. Aku gak percaya kamu masih gak tertarik sama aku. Tapi gak peduli gimana perasaan kamu sama aku, toh kita juga akan menikah" kata Bela dengan senyum liciknya.
"Jangan mimpi ya... Aku mau terima kamu di sini juga karena mama."
"Tetap saja kan aku yang menang. Kalau kamu berani usir aku, kamu lihat aja pasti kamu menyesal." ancam Bela. Ryan mengepalkan tangannya, dia marah.
"Aduuuh jangan marah donk... Kalau kamu marah aku jadi tambah suka loh" kata Bela sambil mendekatkan wajahnya kearah Ryan. Dengan cepat Ryan menghindar.
"Aku ada rapat sebentar lagi, sebaiknya kamu pulang dan jangan buat ribut di kantor" kata Ryan sambil membuka pintu supaya Bela keluar.
"Aku gak janji yaa.... Aku bakal langsung pulang atau mencari perempuan tadi. Kecuali kamu janji nanti malam makan berdua sama aku. Bagaimana?" Ryan tau Bela akan melakukan apapun yang dia mau lakukan. Dia hanya takut Bela berbuat jahat sama Nat.
"Oke..." akhirnya Ryan setuju. Bela kegirangan.
"Gitu donk sayang... Nanti malam alu tunggu ya" saat Bela akn mrmeluk Ryan lagi. Tangan Ryan langsung menolaknya.
__ADS_1
"Bob, antar Bela pulang. Pastikan dia sampai ke rumah" kata Ryan sama Bob yang masih ada di depan pintu.
Karena waktu yang sudah mengharuskannya mengahadiri rapat, Ryan gak pergi mencari Nat untuk menjelaskan. Dai hanya berharap Nat gak salah paham