
Pagi-pagi mobil Ryan sudah ada di depan rumah Nat. Hari ini dia sendiri yang menjemput Nat ke kantor. Melihat Ryan sendiri yang menjemputnya, Nat merasa sangat bahagia. Dia berlari kecil mendekati mobil Ryan.
"Pagi bos..." kata Nat dengan semangat.
"Selamat pagi tuan Putri" balas Ryan sambil membukakan pintu mobil.
"Makasih ya Nat kamu udah mau ngerti" kata Ryan setelah masuk dalam mobil.
"Aku percaya sama kamu. Apapun yang terjadi aku pasti dukung kamu"
"Kamu yakin? Tapi jalan di depanku, yang akan aku lalui bukan jalan yang mulus. Tapi jalan yang penuh dengan rintangan, kamu yakin siap?" kata Ryan.
"Semua sudah pernah aku lalui. Yang paling susah pun sudah pernahbaku alami. Jadi apa yang membuatku takut lagi?" kata Nat mantap. Ryan tersenyum bahagia.
"Tunggu aku selesaikan semuanya. Aku pasti akan bahagiain kamu"
"Jadi kalau sekarang kamu gak bisa bahagiain aku? Masa tunggu masalah kamu selesai?" kata Nat cemberut.
"Memang kamu minta apa biar bahagia? Rumah? Mobil? Uang?" Nat tertawa mendengar kata-kata Ryan.
"AKu gak mau itu semua, yang aku mau sekarang. Kamu bisa melewati hari hari dengan baik. Banyakin senyum. Bukan muka cool kayak kulkas begitu."
"Masa mukaku kayak kulkas. Rata donk?" Nat tertawa lagi. Ryan bahagia melihat Nat bisa tertawa.
"Udah ah. Ayoo jalan. Kalau gak nanti terlambat. Bisa-bisa aku dipecat" canda Nat.
"Baiklah nyonya kita berangkat. Lagi pula terlambat juga gak akan ada yang berani pecat istri direktur" kata Ryan sambilx menyalakan mobilnya. Nat memukul lengan Ryan.
"Kok istri direktur? Kan belum"
"Belum berarti suatu hari akan jadi yaa..." mendengar kata-kata Ryan, muka Nat memerah.
Sampai di kantor dengan mantap mereka melangkah bersama. Kini Nat sudah gak peduli lagi penilaian teman-teman kantornya. Dia sudah memantapkan hatinya untuk mendukung Ryan. Kalau dia ingin ada disamping Ryan dia harus bisa setara dengan Ryan. Kuat dan tangguh.
Sampai di ruangan Ryan ternyata Bela sudah menunggu.
"Oohhh... Jadi ini alasan kamu terlambat. Gara-gara cewek jelek ini?" kata Bela menatap tajam ke arah Nat.
"Jaga ucapan kamu" kata Ryan.
"Jadi kamu belain dia ya, apa si bagusnya dia. Cewek miskin begini. Pegawai rendahan" kata Bela sengaja memprovokasi Nat. Nat mencoba tenang
Dia tau Bela sedang menabuh genderang perang. Bela mendekati Ryan dia merangkul lengan Ryan, tapi dengan cepat Ryan melepasnya.
"Kamu sekarang jual mahal ya Ryan... Kamu lupa semalam kita menghabiskan malam bersama" kata Bela dengan suara manja. Nat tetap memasang wajah tenang. Dia sudh memutuskan untuk percaya pada Ryan.
"Kamu gak usah cari masalah disini.." kata Ryan pada Bela. Bela kemudian duduk di kursi Ryan.
__ADS_1
"Sebentar lagi aku akan menjadibnyonya direktur. Kalau itu terjadi aku akan menendang cewek ini keluar" ancam Bela pada Nat.
"Coba saja.. Aku ingin liat." kata Nat menantang.
"Kamu!! Berani ya nantangin aku" Bela marah. Merasa ditantang Nat.
"Nat, kamu keluar dulu ya. Tolong panggil Bib kesini. Biar dia aku yang urus" bisik Ryan.
"Oke... Aku percaya kamu" kata Nat kemudian dia keluar mencari Bob.
"Keluar saja sana... Gak pantas kamu diruangan ini" kata Bela saat melihat Nat meninggalkan ruangan.
"Cukup! Apa gak malu pagi-pagi sudah bikin ribut di kantor" kata Ryan dengan kesal.
"Buat apa malu, lagi pula sebentar lagi perusahaan ini akan menjadi milikku. Setelah kita menikah" kata Bela lagi.
"Aku belum setuju untuk menikah denganmu" kata Ryan ketus.
"Mau atau gak untuk menikah denganku bukan kamu yang memutuskan" kata Bela lagi merasa menang.
"Ryan... Kamu panggil aku?" Bob masuk ruangan. Melihat kearah Bela dan Ryan bergantian.
"Iya... Tolong antarkan Bela pulang ke rumah. Pastikan dia sampai dirumah"
"Ryan!! Kamu mau usir aku?? Aku gak terima ya!" teriak Bela.
"Liat aja, aku bilang ke papa kamu perlakuan kamu sama aku." ancam Bela.
"Aku gak peduli" jawab Ryan. "Suruh dia keluar Bob"
"Gak usah suruh orang usir aku. Aku bisa keluar sendiri" kata Bela. Kemudian dia keluar.
Saat akan keluar kantor, Bela bertemu dengan Nat. Melihat Nat dia langsung mendekati Nat.
"Hei cewek miskin. Jangan berani dekatin Ryan ya. Atau kamu akan tanggung akibatnya" ancam Bela. Mendengar itu Nat hanya tersenyum.
"Hanya orang yang gak mampu ya bisanya mengancam orang lain" kata Nat.
PLAK!!
Bela menampar Nat. Semua yang melihatnya terkejut. Bob juga terkejut dia gak nyangka Bela akan menampar Nat. Nat tetap tersenyum.
"Bela!!" ternyata Ryan ada disitu. Lalu dia memberi kode pada Bob untuk membawa Bela keluar. Bob menarik tangan Bela.
"Dasar pelakor!!! Lihat saja kamu akan menyesal!" teriak Bela, saat ditarik Bob keluar. Semua karyawan yang melihatnya memandang sinis Nat. Mereka pikir Nat benar-benar seorang pelakor. Beberapa langsung membicarakan Nat.
"Semuanya lanjutkan pekerjaan kalian!" teriak Ryan pada karyawannya. Mereka langsung kembali ke meja kerja masing-masing.
__ADS_1
Ryan menutun Nat ke ruangannya. Kemudian mengompres bekas tamparan Bela. Karena cukup keras Bela menampar Nat, sampai pipi Nat memar.
"Sakit ya... Maaf ya" kata Ryan sambil mengompres pipi Nat. Dia merasa bersalah.
"Kok kamu yang minta maaf. Tenang aja sekarang aku udah kebal kok" kata Nat sambil tersenyum mencoba menghibur Ryan.
"Mau kebal atau gak kalau kamu sakit aku ikut sakit Nat" kata Ryan. Mendengar itu Nat tertawa.
"Lebay ah... Mana ada begitu?"
"Serius Nat, kalau kamu terluka aku juga merasa sakit di sini" kata Ryan sambil menarik tangan Nat di dadanya. Muka Nat memerah. Detak jantung Ryan terasa di telapak tangannya.
"Percaya kan sekarang?" kata Ryan. Nat tersadar dan segera menarik tangannya.
"Percaya... Percaya... Kan aku udah bilang kalau aku percaya sama kamu" kata Nat lagi.
"Oh iyaa aku sampai lupa... Aku ada kabar gembira buat kamu" kata Ryan tiba-tiba serius.
"Kabar apa?" Kata Nat penasaran. Ryan mendekatkan wajahnya.
"Kata teman aku yang merawat Nael, pengobatan Nael berhasil. Dan kemungkinan besar Nael bisa sembu" mendengar itu Nat sangat bahagia.
"Serius??" kata Nat gak percaya. Ryan mengangguk pasti.
"Aaa makasih" dengan spontan Nat memeluk Ryan dan mencium pipinya. Saat tersadar Nat melepaskan pelukannya dan mundur kebelakang. Mukanya merah karena malu.
"Maaf.." katanya sambil menunduk. Tapi malah Ryan memeluknya lagi
"Gak papa aku senang kalau yang peluk kamu" bisik Ryan. Nat langsung mendorongnya.
"Apaan sii... Aku bikin kopi dulu" Nat langsung berlari keluar. Ryan tersenyum melihat tingkah Nat.
Kabar Nael akan sembuh membuat Nat semakin bersemangat. Dia tau semua karena Ryan. Jadi dia akan membalas kebaikan Ryan dengan terus mendukungnya.
"Nat kamu bahagia amat dari tadi senyum terus" kata Mona saat bertemu Nat.
"Iya Mon.... Akhirnya adikku ada kesempatan buat sembuh"
"Wah selamat yaa.. Aku ikut senang" Mona memeluk Nat, ikut bahagia.
"Makasih Mon, kamu memang teman yang baik"
"Tapi Nat, gosip kalau kamu pelakor itu Jadi bahan omongan diantara karyawan loh. Mereka banyak yang bicara jelek tentang kamu" kata Mona merasa prihatin.
"Gak papa Mon. Yang penting kan itu gak bener. Yang tau kan aku dan Ryan. Gak peduli yang lain mau bilang apa. Nanti juga kalau kebenaran udah terungkap semua pada diam" kata Nat yakin. Mona mengangguk-angguk. Dia merasa Nat sudah berubah. Menjadi lebih kuat, dan dewasa. Bukannseperti Nat yang baru dia kenal dulu.
"Aku doakan kalian dapat melewatinya dengan baik Nat" kata Mona akhirnya mendoakan.
__ADS_1
"Makasih Mon" Nat memeluk Mona lahi. Dia bersyukur masih ada orang yang mendukungnya