Rasa Ini

Rasa Ini
di tepi sungai


__ADS_3

Ryan mengirim tim untuk mencari Nat. Akhirnya mereka menemukan mobilnya. Tapi Nat gaka ada disana, hanya ada supir yang belum sempat melarikan diri sehingga kehilangan nyawanya. Rtan semakin panik, hatinya tergoncang. Dimana Nat? Kenapa dia gak bisa menemukannya?


Semua orang mencoba mencari sepanjang aliran sungai. Memeriksa batu-batu besar yang ada di sepanjang aliran. Para penyelam mencoba mencari didasar sungai, tapi nihil, semuanya tanpa hasil.


"Ryan semua sudah lelah, sebaiknya kita pulang beristirahat dulu." kata Bob yang melihat orang-orang sudah kelelahan.


"Kalian pulanglah dulu. Aku harus menemukan Nat." kata Ryan lesu.


"Gak bisa Ryan. Sebaiknya kita melanjutkan mencarinya besok saat terang. sekaranh sudah terlalu gelap" kata Bob meyakinkan Ryan untuk pulang. Saat Bob masih berbicara ada seorang tim pencari yang mendekati mereka.


"Maaf Pak, saya menemukan ini. Apakah ini milik teman bapak?" kata orang itu sambil menyerahkan benda yang ditemukannya. Ryan menerima bneda iru, ternya sebuah kalung dengan liontin hati yang sangat dikenal Ryan. Ya itu kalung milik Nat.


"Kalung ini ketemu dimana?" tanya Ryan. Mendapatkan kalung itu seakan mendapatkan semangatnya krmbali. Harapan Nat selamat.


"Di pinggir sungai dekat batu itu pak" kata orang itu sambil menunjuk ke arah dia menemukan kalung Nat. Ryan segera berlari ke arah yang ditunjuk orang itu. Dia meneliti seriap jengkal dekat batu. Karena sudah gelap Ryan gak bisa melihat jelas.


"Sepertinya Nat masih hidup Ryan. kalau kalung itu ditemukan disini berarti Nat sudah keluar dari sungai, mungkin ada yang menolongnya" kata Iob mencoba membesarkan hati Ryan.


"Mudah-mudaha Bob. Semoga saja irang baik yang menolongnya." kata Ryan penuh harap.


"Sebaiknya kita melanjutkn besok Ryan. Kita beristirahat. Aku sudah suruh orang-orang pulang. Kalau kamu paksain yang ada kamu sakit dan gak bisa cari Nat lagi" kata Bob. Ryan mengangguk. Dia pikir kata-kata Bob ada benarnya juga.


Bob mengantarkan Ryan pulang kerumahnya. Sepanjang perjalanan Ryan melamun. Hatinya pedih mengingat dia gk tau keberadaan Nat, ataupun keadaan Nat. Hidup atau mati.

__ADS_1


"Den Ryan kenapa? Ada apa?" Bibi yang melihat wajah Ryan lesu dan terlihat sangat sedih menghampirinya. Tuannya yang dia rawat dari kecil sangatbdia sayang. Bibi tau saat Ryan senang atau sedih. Tiba-tiba Ryan memeluk bibi. Bibi yang sudah dia anggap keluatganya sendiri. Ryan ingin melepaskan sejenak kesedihannya.


"Kenapa den ada apa?" tanya bibi lagi serelah Ryan melepaskan pelukannya dan duduk di sofa.


"Nat bi Nat" Ryan seperti gak bisa melanjutkan kata-katanya.


"Non kenapa den?" kata bibi semakin cemas.


"Nat dicelakai orang bi. Mobilnya jatuh kesungai dan Nat hilang bi" kata Ryan sambil menutup wajahnya dengan tangan.


"Ya ampun deh kesian Non Nat. Tolong temukan Non Nat ya Den, dia orang baik"


"Pasti aku cari Bi"


"Ya udah bi, aku masuk kamar dulu ya" kata Ryan.


"Den Ryan pasti belum makan, bibi siapin makan dulu ya." kata Bibi sambil menuju dapur untuk menyiapkan makan.


Ryan masuk ke dalam kamarnya. Dia langsung menuju kamar mandi. Siraman air membuatnya lebih tenang. Cukup lama dia di kamar mandi. Saat keluar ternyata bibi sudah menyiapkan makanan hangat di meja dalam kamarnya. Dia mengambil sedikit makan untuk menghargai bibi ynh sudah menyiapkannya.


Ryan gak bisa tidur. Dia selalu memikirkan Nat. Rasanya dia sangat bersalah disaat Nat entah dimana, sementara dia dengan nyaman tidur diatas kasurnya. Apakah Nat sudah makan? Apakah dia tidur dengan nyaman? Apakah dia hangat atau kedinginan? Apakah Nat masih hidup? Pertanyaan itu yang membuatnya gemetar. Dia hanya bisa berdoa yang terbaik buat Nat.


Semalam Ryan gak bisa tidur, masih sangat pagi diabsudah bangun dan langsung keluar. Dia ingin segera mencari Nat. Dia menuju sungai setelah menghubungi Vino. Pekerjaan di kantor dia menyerahkannya pada Bob.

__ADS_1


Sebelum Vino dan tim sampai dia menuju ke tempat dimana kalung Nat ditemukan. Dia memperhatikannya dengan seksama. Disitu dia menemukan sepeti bekas orang berbaring dn beberapa jejak kaki. Dia semakin yakin kalau ads yang menolong Nat. Sekarang dia harus menemukan orang itu. Ryan menghubungi Vino untuk membatalkan pencarian di sungai.


"Kenapa dihentikan Ryan?" kata Vino heran.


"Aku menemukan sesuatu. Lebih baik sekarang kamu mencari yu apakah ada penduduk di sekitar sungai yang menemukan Nat" Vino mengerti dan segera melaksanakan perintah Ryan.


Sementara itu. Di salah satu rumah sederhana, Nat terbaring di tempat tidur. Dia mencoba membuka matanya, badannya terasa sakit semua. Dia merasa asing dengan tempatnya berbaring. Bukan rumah sakit, rumah dia, ataupun rumah Ryan. Dia melihat sekeliling. Rumah sederhana dengan dinding setengah permanen. Jendela di samping tempat tidurnya sedikit terbuka. Dia emmbuka jendela itu dan melihat keluar. Hanya ada hutan dan kebun sayur di luar kamarnya.


"Sudah bangun de?" kata seseorangbyang masuk kamarnya. Seorang wanita tua dengan senyum yang ramah.


"Saya dimana bu?" tanya Nat.


"Dirumah saya dek, oh ya panggil saya mbok Sum?" kata wanita tua itu. Kemudian dia memberikan minum pada Nat.


"Makasih mbok." kata Nat sambil menerima gelas dari mbok Sum.


"Kemaren anak dan suami saya yang menemukan Non di pinggir sungai" Nat mengingat apa yang dialami kemarin. Dia ingat kemarin mobilnya jatuh karena ditabrak orang.


"Ryan.." kata Nat tanpa sadar. Dia mrmikirkan Ryan. Pasti Ryan sedang mencarinya. Saat dia akan bangun dia merasakan sakit di kakinya. Dia melihat kakinya ternyata terdapat luka yang cukup parah.


"Jangan bergerak dulu dek," kata mbok mengingatkan.


"Mbok apakah mbok punya handphone?" tanya Nat, dia ingin memberi kabar Ryan kalau dia baik-baik saja.

__ADS_1


"Aduh gak punya dek, tapi anak mbok punya. Tapi dia lagi ke kota dek. Besok baru balik." mendengar itu Nat sedikit kecewa. Tapi mau gimana lagi. Dia hanya bisa bersabar


__ADS_2