Rasa Ini

Rasa Ini
berubah


__ADS_3

Setelah dirasa cukup baik, Nat kembali ke kantor. Baru saja dia sampai ke mejanya, tangannya sudah ditarik Mona.


"Nat... Nat... Gimana kabar kamu? Baikann aku dengar kamu jatuh di kamar mandi ya gara-gara Fara?"


"Fara?" Nat terkejut. Karena dia pikir dia jatuh memang karena kecelakaan, bukan karena dijahati orang.


"Iya.. Kan Fara langsung di pecat bos" kta Mona lagi.


"Oh begitu ya... " Nat sedikit merasa bersalah. Karena dia datang ada saja masalah. Itu memantapkan hatinya untuk menjaga jarak dengan Ryan. Dia gak mau kalau karena dia ada lagi Fara yang lain.


"Hai Nat, kamu sudah sembuh?" kata Bob saat bertemu Nat.


"Heii... Iya sudah"


"Nat... Boleh aku tanya sesuatu?" akta Bob hati-hati. Dia nampak sangat serius. Nat penasaran apa yang akan Bob tanyakan.


"Tanya apa?"

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang terjadi antara kamu dan Ryan? Sejak kamu gak masuk kerja dia berubah jadi..."


"Bob!!" Bob kaget mendengar namanya dipanggil. Ternyata Ryan yang datang. Bob melihat ke arah Ryan. tidak melanjutkan kata-katanya. Nat melihat ke arah Ryan. tapi ekspresi Ryan dingin. dia bahkan cuek dan seperti tidak menganggap ada Nat disitu.


"Ayo... Ada masalah di cafe" kata Ryan lagi. Dia melihat kearah Nat, tapi langsung memalingkan wajahnya saat Nat akan tersenyum. Dia lalu pergi begitu saja. Wajah Nat terkejut. Ryan tidak pernah bersikap dingin begitu selama ini. Bahkan Ryan seperti tidak mau melihat ke arahnya. Itu membuat hati Nat sakit.


"Duluan ya Nat.." kata Bob lalu mengikuti Ryan. Nat hanya tersenyum kecil sambil menganggukan kepala.


"Nat sudah sehat ya..." kata Bob saat dalam perjalanan.


"Bukan urusanku" kata Ryan dingin. Bob tersenyum.


"Maksud kamu?" tanya Ryan bingung.


"Kalau kamu sudah gak peduli sama Nat, boleh donk sekarang aku peduli dia. Aku lihat Nat cukup cantik... Mumpung aku jomblo" kata Bob sambil nyengir.


"Gak boleh!" kata Ryan cepat.

__ADS_1


"Kenapa... Kan dia gak punya pacar"


"Tapi kamu punya.."


"Gampang itu... Tinggal putusin, jadi bisa jalan kan sama Nat" goda Bob. Sebenarnya dia hanya ingin tau reaksi Ryan.


"Aku kasih tau ya. Kalau sampai kamu deketin dia jangan harap kamu dapat bonus dan gaji kamu akan dipotong" ancam Ryan.


"Wah.. Jahat kamu Ryan. Lagian kan kasihan Nat sendirian, gak ada yang jaga, yang temani, yang lindungin dia, sayang kan cewek cantik dicuekin"


"Kalau kamu berani deketin Nat, siap-siap aja pulang kampung tanpa pesangon" kata Ryan lagi.


" ya ampun bos.... jahat banget. atau jangan -jangan kamu masih peduli bukankah tadi ada yang bilang bukan urusannya?" mendengar pertanyaan Bob, Ryan hanya diam. tapi matanya melotot ke arah Bob. Bob hanya tertawa melihat ekspresi Ryan.


Sepanjang jalan Ryan memikitkan Nat. Tadi dia melihat wajah Nat yang terkejut saat senyumnya tidak dia balas. Pasti Nat sedih, pikirnya.


Sementara itu, Nat yang melihat perubahan sikap Ryan merasa sedih. Tapi dia pikir ini lebih baik.

__ADS_1


"Biarlah seperti ini. Ini lebih baik. Setidaknya aku gak mengharapkan lebih dari perhatiannya. Demi Nael aku harus semangat. Aku kangen kamu dek" kata Nat sambil memandangi foto Nael dan dirinya. Saat Nael masih sehat. Saat orang tuanya masih ada, saat kehidupannya baik-baik saja. Dia merindukan saat-saat itu. Saat dimana dia merasa banyak yang menyayanginya. Yang sekarang hilang. Semua hancur berkeping-keping. Tanpa menyisakan sesuatu yang bisa dia harapkan.


__ADS_2