
"Naattt... Kamu sibuk banget gak pernah nengokin aku disini. Huhuhu mentang-mentang calon nyoya direktur" kata Mona saat melihat Nat mendekati mejanya.
"Ngomong apa si kamu Mon. Gak enak kalau didengar orang" kata Nat buru-buru menutup mulut Mona.
"Mmmmm biarin Nat" kata Mona sambil melepaskan diri.
"Gimana kabar kamu? Beberapa hari gak ketemu makin montok aja kamu Mon" kata Nayla menggoda Mona.
"Itu namanya aku hidup makmur, makanya montok. Kamu kemana aja. Jarang kelihatan. Sekarang juga gak pernah makan bareng kita. Sekarang sama bos terus. Iri deh aku" kata Mona sambil memasang wajah memelas.
"Apaan si. Kan kamu sendiri akhir-akhir ini kantor lagi sibuk banget. Dan banyak yang harus dikerjakan. Jadi gak sempet ketemu kamu"
"Iya si Nat... Aku juga lg sering lembut."
"Wah... Ada pelakor nih datang kesini. Atau sudah dibuang sama bos Ryan, Jadi kesini lagi?" kata Mia memancing emosi Nat.
"Ada masalah?" kata Nat tenang
"Gak... Hanya saja kalau aku jadi kamu aku pasti udah malu ketahuan jadi pelakor. Tapi liat muka badak kamu itu bahkan masih berani muncul disini" kata Mia lagi sambol menatap tajam ke arah Nat.
"Heiii Nat bukan pelakor tau!" bela Mia.
"Diam kamu gendut!! Mau mau aja kamu belain pelakor ini" bentak Mia. Mona akan membalas tapi dicegah Nat.
"Kamu jadi aku? Sepertinya gak mungkin, karena bos Ryan gak mungkin suka cewek kayak kamu" kata Nat menatap tajam Mia. Membuat Mia naik pitam, dia sudah mengangkat tangannya untuk menampar Nat. Tapi ada yang menahannya. Bob.
"Ribut-ribut apa ini?" tanya Bob matanya melihat setiap orang yang ada disitu.
"Semua gara-gara Nat pak, mentang-mentang jadi sekretarisnya pak Ryan. Jadi kesini menyombongkan diri" kata Mia menyalahkan Nat. Dan dia didukung beberapa orang yang ada disitu yang memang iri dengan Nat. Mereka membenarkan dan mendukung kata-kata Mia.
"Bohong pak, tadi Mia yang alcari gara-gara" bela Mona lagi.
"Jangan sembarangan ya, banyak saksinya kalau Nat yang salah disini" bantah Mia.
__ADS_1
"Sudah sudah kalian mau sampai kapan ribut?" kata Bob akhirnya menengahi. Semua gak berani bantah lagi.
"Nat..." kata Bob mengharapkan Nat menjelaskan. Tapi Nat hanya mengangkat bahu, karena dia malas meladeni orang yang sirik.
"Ada apa Bob?" Ryan tiba-tiba ikut datang.
"Biasa, hanya salah paham aja" kata Bob. Semua orang diam melihat Ryan datang. Bahkan gak ada yang berani mengangkat kepalanya. Semua menunduk.
"Kalau gak ada apa-apa kenapa gak lanjut kerja lagi?" kata Ryan dingin. Semua orang buru-buru kembali ke mejanya.
"Kamu kenapa disini Nat?" kata Ryan suaranya lebih lembut dari pada saat dia bicara tadi.
"Tadinya aku mau ketemu Mona. Mau kasih ini buat dia" Nat mengulurkan tangannya dan memberikan kado untuk Mona. Karena dia hari ini ulang tahun.
"Nat kamu inget ulang tahunku... Makasih" kata Mona sambil memeluk Nat. Nat tertawa melihat Mona bahagia. Ryan tersenyum melihat Nat tertawa bahagia.
"Nat, nanti kasih bonus buat Mona, biar dia bisa rayakan bersama keluarganya" bisik Ryan. Nat terkejut dia gak nyangka Ryan akan perhatian dengan ulang tahun karyawannya. Setelah mendengar itu Mona sangat bahagia berkali-kali dia ucapkan terima kasih.
"Nat ini" kata Ryan sambil meletakan kotak makan di meja Nat.
"Ini bibi yang masakin buat kamu katanya. Tadi supir yang antar"
"Wah bibi baik banget" kata Nat senang. Dia membukanya dan ada makanan kesukaannya. Rendang.
"Kamu dibawain rendang aja bahagia banget" kata Ruan sambil mengelus kepala Nat. Nat hanya tersenyum senang.
"Aku boleh minta gak?" kata Ryan lagi.
"Emangnya bibi gak bawain buat kamu ya?" Ryan menggeleng.
"Bibi sekarang lebih sayang ke kamu" kata Ryan dengan nada memelas.
"Aduh kasihan" Nat mencubit pipi Ryan. Ryan tersenyum.
__ADS_1
"Kamu makan dulu ya... Aku ada perlu keluar" kata Ryan lagi.
"Katanya mau minta?" kata Nat kemudian menyuapkan satu sendok nasi ke mulut Ryan. Ryan terkejut tapi lalu dia tersenyum
"Ya ampun... Maaf aku malah pake sendok bekas aku, aku ambilin sendok ya biar kamu makan dulu" kata Nat.
"Gak perlu. Pakai sendok itu aja"
"Tapi..." sebelum Nat protes Ryan mengambil sendoknya. Makan dan menyuapi Nat.
"Aku ambil sendiri" kata Nat gelagapan.
"Ya udah kamu yang suapin aku aja" kata Ryan menyerahkan makanan itu lagi. Muka Nat memerah tapi dia akhirnya menyuapi Ryan juga.
Dua jam lagi sudah jam pulang kerja. Ryan belum kembali ke kantor. Nayla berjalan dari toilet akan kembali ke ruangannya. Tapi belum sampai di ruangan dia bertemu dengan seseorang yang membuat jantungnya berhenti berderak, badannya gemetar, mulutnya seperti terkunci rapat tapi matanya terbelalak. Didepannya ada Bela dan orang yang membuatnya Rey!. Ada apa Rey datang? Dan kenapa dengan Bela.
"Wah wah lihat siapa ini?" kata Rey dia mendekati Nat. Nat mundur sampai akan terjatuh. Dia ketakutan.
"Kamu kenal dia Rey?" tanya Bela dengan tersenyum licik.
"Tentu saja... Karena dia aku harus ke luar negeri, aku ingin tau gimana cara dia merayu Ryan, apakah dengan tubuhnya?" kata Rey dengan nada menghina. Nat mengumpulkan keberaniannya untuk berdiri tegak.
"Jangan ganggu aku. Kita sudah gakbada hubungan lagi" kata Nayla terbata-bata.
"Wahh sombong sekarang ya. Kamu lupa siapa yang dulu kasih Nael kesempatan hidup. Gimana? Apa dia sekarang udah mati?" kata Rey tertawa mengejek. Mendengar itu Nat menjadi marah. Dia menampar Rey. Rey terkejut dan akan menampar balik tetapi tangannya sudah ditahan Ryan. Ryan mendorongnya hingga dia mundur ke belakang. Mereka terkejut.
"Jauhkan tangan kotor kamu dari Nat" kata Ryan dingin. Dia merangkul Nat. Dia tau Nat pasti ketakutan sekarang.
"Ryan!! Kamu masih belain jalang ini?!" kata Bela marah.
"Kamu gak perlu ikut campur. Rey kamu harus ingat kata-kataku waktu itu." kata Ryan.
"Rey akan disini karena aku ada kerjasama dengannya, kamu gak bisa mengusirnya" kata Bela.
__ADS_1
"Terserah kamu mau apa" kata Ryan kemudian dia menuntun Nat meninggalkan Bela dan Rey