Rasa Ini

Rasa Ini
terluka


__ADS_3

Hari ini hujan dari pagi belum juga reda hingga sore hari. Nat halte dekat kantor untuk menunggu taksi di halte dekat kantornya. Ada beberapa orang di halte itu. Satu persatu orang pergi. Tinggal Nat dan dua anak sekolah yang masih bertahan. Nat melihat dari arah sebelah kiri ada orang yang mencurigakan. Memakai jaket merah, topi, dan masker yang menutupi wajahnya. Orang itu berjalan cepat ke arah Nat. Membuat Nat waspada. Dia terus memperhatikan orang itu. Tiba-tiba orang berjaket itu menyerang Nat dengan pisau. Nat menghindar tapi dia terjatuh. Lengannya tergores pisau. Dua anak sekolah terkejut dan berlari ketakutan sambil minta tolong.


Orang berjaket itu akan menyetang Nat lagi. Tapi saat dia akan menghujamkan pisau itu, tiba-tiba ada yang memukulnya dari belakang. Topinya terlepas, kemudian orang itu berlari menjauh. Tapi Nat mrlihat sekilas kalau yag menyerangnya perempuan.


"Kamu gak papa?" kata orang yang menolong Nat. Seorang laki-laki memakai pakaian rapi. Dia mengulurkan tangannya membantu Nat berdiri.


"Gak papa... Terimakasih" kata Nat sopan.


"Tangan kamu berdarah, sebaiknya ke rumah sakit" katanya lagi setelah melihat tangan Nat yang terkena pisau.


"Hanya luka kecil, gak papa kok"


"Pak Andrew, kita harus segera ke bandara" kata seorang pria paruh baya yang sepertinya seorang supir.


"Oke pak..." kata orang itu pada supirnya.


"Maaf ya, gak bisa antar kamu, karena aku harus ke bandara." kata Andrew pada Nat.


"Gak papa kok, aku bisa sendiri. Makasih ya" Andrew tersenyum kemudian mengangguk. Dia pergi dengan supirnya.


Dirumah Nat langsung mandi dan membersihkan lukanya. Dia ingat waktu dia terluka dan Ryan membantu mengobatinya. Tiba-tiba dia merasa sedih. Tapi kemudian dia berpikir siapa yang mau mencelakainya. Dia ingat-ingat perawakan orang yang menyerangnya tadi. Dia ibgat tadi dia melihat sekilas rambut orang itu seperti rambut Fara. Tapi Nat tidak mau asal menuduh. Dia hanya berharap kejadian seperti itu tidak terjadi lagi.


Keesokan harinya saat di kantor, Nat bertemu dengan Ryan. Ryan melihat tangan Nat yang masih di memakai perban untuk menutup lukanya. Ryan ingin tau apa yang terjadi, tapi dia enggan untuk menanyakannya. Dan Nat pun berlalu begitu saja. Melihat Nat menjauhinya, hatinya sedih.

__ADS_1


"Kenapa kamu selalu membuat khawatir Nat, dan kenapa kamu selalu terluka" kata Ryan dalam hati.


Ryan memanggil Bob, dan menanyakan apakah dia tau apa yang terjadi pada Nat.


"Aku dengar kemarin karyawan kita ada yang diserang orang saat di halte depan, tapi aku gak tau kalau itu Nat" kata Bob.


"Cari tau siapa yang menyerangnya, periksa setiap cctv yang ada disekitar halte itu." kata Ryan. Dia ingin orang yang akan mencelakai Nat tertangkap.


"Oh iya... Katanya lagi ada laki-laki yang menolongnya. Sehingga Nat hanya mengalami luka di tangannya."


"Siapa?"


"Entahlah... Aku belum tau."


Tok tok tok


"Masuk" kata Ryan. Nat masuk ke ruangan Ryan membawa berkas. Ryan melihat tangannya yang terluka. Hatinya sakit. Tapi dia mencoba bersikap dingin. Tidak peduli.


"Ini Pak, berkas yang diminta" kata Nat sambil menyodorkan berkas itu.


"Letakkan saja di meja" jawab Ryan dingin. Nat meletakan di meja. Kemudian dia berbalik badan hendak keluar.


"Tangan kamu kenapa?" ternyata Ryan gak bisa menahan diri untuk bertanya langsung.

__ADS_1


"Gak apa, hanya tidak sengaja tergores, permisi" jawab Nat tanpa melihat kearah Ryan. Dia langsung keluar ruangan.


Ryan terdiam. Kenapa Nat gak mau jujur. Dia ingin melindungi Nat. Tapi Nat sendiri menolaknya. Bahkan sekarang membohonginya. Ryan gak sabar. Dia keluar dan mendatangi Nat. Tanpa pikir panjang dia menarik tangan Nat. Semua yang melihatnya terkejut. Dia membawa Nat ke ruangannya.


"Lepaskan, apa si mau kamu" kata Nat sambil menarik tangannya. Tapi Ryan gak peduli dia mendudukan Nat di kursi.


"Kamu sudah pakai obat buat luka kamu?"


"Udah.."


"Kamu perban sendiri? Berantakan perbannya, kamu gak ke rumah sakit?" Pertanyaan Ryan membuat Nat kesal.


"Ya aku perban sendiri" jawab Nat ketus.


"Kenapa gak kerumah sakit? Gak ada uang? Begini bilang mau jaga diri sendiri? Kenapa kamu keras kepala"


"Aku bilang aku bisa jaga diri. Ya memang aku gak ada uang. Tenang saja untuk bayar hutang ke kamu aku akan usahakan. Aku gak akan kabur." Nat menarik tangannya yang masih dipegang Ryan.


"Diam" kata Ryan melihat Nat berontak. Ternyata Ryan melepas perban Nat. Dia memberi obat. Nat merintih kesakitan saat dioles obat. Ryan meniup luka itu. Nat terkejut. Ryan menutup luka itu lagi dengan rapi.


"Ada lagi yang terluka?" tanya Ryan lembut. Nat menggeleng. Tanpa sadar dia meneteskan air mata. Kenapa Ryan selalu memberikan harapan.


"Jangan menangis Nat" Ryan menyeka air mata Nat dengan tangannya. Tapi Nat kemudian tersadar dan buru-buru membersihkan air matanya.

__ADS_1


"Terimakasih, permisi. Tolong jangan kasih aku harapan Ryan" kata Nat kemudian keluar.


__ADS_2