Rasa Ini

Rasa Ini
jadi milikku


__ADS_3

Sementara itu saat Ryan pulang kantor dia mendapati Nat sudah tidak ada di kamarnya.


"Bi apakah Nat sudah pulang?" tanyanya pada pembantunya.


"Sudah tuan, tadi nona bangun dia hanya bertanya jam berapa, setelah itu dia berlari pulang?"


"Diantar supir?"


"Maaf tuan, tidak. Nona lngsung berlari keuar. Saya panggil tidak di dengar. Sepertinya dia ketakutan." kata pembantunya takut.


"Takut?"


"Iya tuan.. Tuan apakah sprei mau saya ganti?"

__ADS_1


"Gak perlu, bi aku keluar dulu" Ryan langsung keluar rumah. Bibi hanya memandang heran. Di dalam hati wanita paruh baya itu menebak majikannya sedang jatuh cinta. Karena Ryan gak pernah mau ranjangnya dipake tidur oleh orang lain.


Hati Ryan tidak tenang. Rasa sakit yang tadi dia rasakan hadir lagi. Ryan memegang dadanya. Dia berpikir apakah dia terkena sakit jantung. Mobil Ryan berhenti di depan rumah Nat. Dia melihat sekeliling. Gelap dan sepi. Lampu belum ada yang menyala. Tapi hati Ryan menuntunnya untuk turun dari mobil dan melihat ke dalam rumah. Ryan mengintip di jendela, dalam rumah gelap. Sepertinya tidak ada orang. Ryan menuju pintu dan mengetuk beberapa kali. Tidak ada jawaban.


"Apakah Nat belum pulang? Atau dia sudah pergi lagi?" gumam Ryan. Tanpa sengaja tangan Ryan memutar daun pintu. Pintu terbuka. Ryan pelan-pelan membuka pintu. Gelap dan sepertinya tidak ada orang. Saat kakinya melangkah dia menginjak sesuatu, ternyata pecahan barang dibelakang pintu. Perasaan Ryan langsung gak enak, di berpikir telah terjadi perampokan tapi dimana Nat? Apa yang terjadi? Ryan masuk ke dalam rumah tapi kakinya tertahan sesuatu. Dia nyalakan senter handphonenya. Ternyata Nat yang ada dekat kakinya. Terbaring tak bergerak.


"Nat.... Nat... Nat!" Ryan memegang tangan Nat. Memeriksa nadinya.


"Bajingan... Siapa yang melakukan ini?" Ryan marah. Marah karena wanita yang tanpan dia sadari telah mengisi hatinya . Bahkan dia seperti bisa merasakan sakitnya. Sampai dirumah sakit Nat segera mendapat perawatan. Kepalanya mengalami trauma karena hantaman, beberapa bagian tubuhnya lebam karena pukulan. Nat masih belum sadar. Ryan memanggil orang kepercayaannya. Tidak lama seorang lelaki gagah dengan kumis tipis datang. Bob orang kepercayaan dan sahabatnya.


"Kenapa Ryan?"


"Kamu tolong selidiki wanita ini, dan cari tau aa yang terjadi di rumahnya hari ini. Aku mau secepatnya."

__ADS_1


"Ini siapa? Cewek kamu??" kata Bob meledek karena dia tau Ryan gak pernah mau menjalin hubungan dengan wanita manapun. Bahkan Rey terkesan alergi.


"Gak usah ngeledek, kerjain aja yang aku minta. Atau mau aku potong gaji kamu?"


"Baik Tuan besar akan saya kerjakan. Tapi klo udah selese dapet bonus yaa..."


"Jangan banyak omong, kerjakan dulu bonus menyusul."


"Siaapp" kata Bob sambil berlagak hormat. Kemudian dia pergi untuk mengerjaakn perintah sahabatnya.


Ryan duduk di samping ranjang Nat. Dia memegang tangan Nat. Ryan melihat perban yang melilit kepala Nat. Melihat tangan Nat yang lebam. Dia berdiri mencium kening Nat.


"Nat... Jadilah milikku. Aku akan melindungimu. Jangan takut lagi. Jangan sedih lagi Nat. Tersenyumlah untukku" kata Ryan. Tapi Nat tidak menjawab. Dia masih tertidur. Apakah Nat mendengar atau tidak, Ryan sudah mengambil keputusan, dia akan menjaga Nat.

__ADS_1


__ADS_2