
Nat gak bisa tidur, di kepikiran Ryan. Apakah dia benar harus pergi? Apakah dia bisa kembali seperti dulu? kenapa Ryan gak bisa percaya padanya? semua pikiran itu berkecamuk dalam hatinya. Nat terduduk di tepi ranjang. Mona sudah terlelap. Nat melihat handphonenya, lebih dari 10 panggilan dari Ryan. Nat memang sengaja dari tadi menyingkirkan handphonenya.
'apakah Ryan khawatir?' gumamnya. Akhirnya dia memutuskan untuk mengirim pesan untuk Ryan.
"maaf Ryan, aku mau menenangkan diri dulu" bunyi pesan Nat untuk Ryan. tanpa Nat duga Ryan langsung meneleponnya. ternyata Ryan belum tidur. Sesaat Nat ragu untuk mengangkatnya. Tapi ada rasa rindu dalam hatinya, ya dia kangen Ryan. Hatinya gak tenang saat mereka jauh. akhirnya Nat mengangkat telepon Ryan.
"halo Nat, kamu dimana Nat?" kata Ryan, nada suaranya khawatir. Nat menarik Nafas panjang.
"aku nginep di Mona" kata Nat.
"aku jemput sekarang ya?" kata Ryan
"gak usah Ryan, besok aku pulang. Gak enak keluar, Mona udah tidur" kata Nat.
"maaf Nat, aku sudah sangat kasar sama kamu" kata Ryan.
"Aku mau tidur Ryan, aku lelah" kata Nat tanpa menjawab permintaan maaf Ryan. Ryan menarik nafas panjang.
"ya udah istirahat aja" kata Ryan. kemudian Nat mematikan teleponnya.
Pagi-pagi Ryan sudah ada di depan rumah Mona. Wajahnya lesu karena kurang tidur. Dia menunggu Nat keluar dari rumah Mona. Dia hanya berharap Nat mau menemuinya.
"Nat... Nat.. kamu harus keluar sekarang" kata Mona. Nat yang baru saja mandi bingung.
"kenapa si Mon?"
"kamu lihat deh di depan ada siapa?" kata Mona. Nat buru-buru menyisir rambutnya. kemudian dia keluar mengikuti Mona. saat Dia keluar dia melihat mobil Ryan, Nat tertegun, dia gak menyangka sepagi ini Ryan menjemputnya.
saat melihat Nat keluar, Ryan segera keluar mobil. Kemudian dia mendekati Nat dan Mona.
__ADS_1
"pagi Pak Ryan" sapa Mona.
"pagi Mon" jawab Ryan.
"mau jemput Nat ya Pak?" Ryan mengangguk.
"pulang yuk Nat, udah ditunggu mbok Sum. Dia khawatir semalaman." kata Ryan. Nat baru sadar kalau dia belum pamit sama mbok Sum. akhirnya dia mengangguk, dia juga gak mau kalau Mona tau masalahnya dengan Ryan.
Dalam perjalanan pulang, Ryan dan Nat gak banyak bicara. Ryan ingin bicara tapi dia takut Nat masih marah. Hanya sesekali mereka saling curi pandang. Nat melihat mata Ryan yang lesu dan kantong matanya yang menghitam. Nat menebak semalam Ryan gak bisa tidur.
"semalam gak tidur?" tanya Nat memecah keheningan.
"iya" jawab Ryan, dalam hati dia tersenyum karena Nat masih mau bicara.
"kenapa?" tanya Nat.
"sudah ketemu?" tanya Nat lagi. Walaupin Nat masih sedikit kesal tapi melihat Ryan sampai gak tidur mengkhawatirkannya hatinyabluluh juga.
"sekarang sudah" kata Ryan. Nat tersenyum, melihat senyum Nat, Ryan lega.
Tau ada mobil datang, mbok Sum segera keluar. Melihat Nat keluar dari mobil dia berlari mendekatinya.
"kamu gak papa Nat, semalam kemana? gak pulang gak kasih kabar. kasihan den Ryan semalaman khawatir. Bolak balik melihat keluar, sampai tidur di sofa." kata mbok Sum panjang lebar.
"maaf mbok udah buat khawatir" kata Nat gak enak hati. Tapi dia bahagia karena dia diperhatikan seperti anak sendiri sama mbok Sum. setidaknya kerinduannya akan sosok mama sedikit terobati.
"kita masuk yuk, mbok udah masak. sarapan yah, mari Den" kata mbok Sum kemudian menggandeng tangan Nat masuk ke dlam rumah diikuti Ryan.
Setelah sarapan, Ryan duduk di sofa, kantuknya sekarang baru berasa.
__ADS_1
"maaf yah" kata Nat menghampiri. Dia membawa teh hangat untuk Ryan.
"aku yang harus minta maaf Nat, aku harusnya gak ngomong gitu sama kamu" kata Ryan.
"iya.. aku siapin air panas dulu ya buat kamu mandi. abis mandi tidur dulu, biar gak sakit" kata Nat kemudian dia meninggalkan Ryan. Tiba-tiba handphone Nat berbunyu saat Ryan melihat ternyata Joe yang menelepon Nat. Ryan penasaran kenapa dia pagi-pagi telepon Nat.
"Halo... kenapa telepon pagi-pagi" kata Ryan
"loh ini cowok Nat ya, Nat mana? dia udah pulang? bukannya di tempat Mona?"kata Joe. Ryan mencoba tenang,
"aku tau siapa kamu Joe. Jangan main-main sama aku, bilang sama Bela, kalau dia gak hentikan ini aku gak akan sungkan lagi" kata Ryan kemudian menutup teleponnya. Saat itu Nat datang.
"ada yang telepon aku Ryan?" kata Nat melihat handphonenya dipegang Ryan.
"Joe telepon tanyain kamu masih dirumah Mona gak" kata Ryan.
"Darimana dia tau kalau aku di rumah Mona?" kata Nat heran.
"Dia pasti tau apapun yang kamu lakukan" kata Ryan. Nat terkejut.
"bagaimana bisa?" kata Nat.
"Suatu saat kamu akan mengerti Nat, aku mandi dulu ya. atau kamu mau bantu aku mandi" kata Ryan.
"jangan ngaco!" kata Nat sambil mendorong badan Ryan. Ryan tersenyum lalu pergi mandi.
Perkataan Ryan tentang Joe ternyata sedikit mengganggu Nat. Maksud Ryan apa tentang Joe tau segala sesuatu yang Nat kerjakan. Tapi dia pikir-pikir Ryan nenar juga. Bukan sekali dua kali secara gak sengaja Nat dan Joe bertemu.
'apa joe selama ini mengikutiku?' tanya Nat dalam hati.
__ADS_1