
"Ryan, kita mau kemana?" kata Nat. Setelah keluar dari cafe, Ryan gak membawa Nat pulang.
"Nanti juga kamu tau, ikut aja ya" kata Ryan.
Ternyata Ryan membawa Nat untuk membeli baju.
"Ryan, baju disini mahal kan?" kata Nat. Walaupun bukan yang pertama kalinya dia diajak Ryan membeli baju yang harganya cukup mahal, tapi Nat masih merasa gak enak. Karena dia gak mau nantinya di anggap cewek matre.
"Gak kok. Buat kamu gak ada yang mahal." kata Ryan sambil menggandeng tangan Nat masuk ke dalam toko.
"Selamat siang Pak. Ada yang bisa saya bantu?" kata salah satu karyawan toko itu dengan sopan. Ryan memang sangat mudah menarik perhatian. Dengan perawakannya yang gagah, wajahnya yang tampan, dan terkenal sebagai pengusaha yang sukses. Kemanapun Ryan berjalan pasti menarik perhatian.
"Tolong carikan pakaian untuk calon istriku, baju yang dia suka langsung bungkus aja" kata Ryan sambil memperkenalkan Nat. Muka Nat memerah. Karyawan toko itu tersenyum tapi dia juga merasa iri. Karyawan itu menunjukkan beberapa baju keluaran terbaru. Saat melihat harganya Nat merasa sungkan untuk memilih.
"Ini bagus loh kak, cocok lagi dengan kakak yang cantik" kata pegawainya ramah. Nat melihat baju itu, cantik.
"Iya cantik, boleh aku coba dulu?" kata Nat. Karyawan itu mengangguk. Saat Nat akan ke kamar pas untuk mencoba baju, ada yang mendekatinya.
"Waahh ini si Nat kan? Temen sekolah aku dulu?" kata seorang cewek yang ternyata Dona, teman sekolah Nat.
"Eh Dona, kamu apa kabar?" kata Nat tersenyum, dia memegang tangan Dona.
"Aduuh jangan pegang-pegang donk. Kotor tau." kata Dona menarik tangannya. Dia seperti jijik dipegang Nat.
"Maksud kamu apa?" kata Nat merasa bingung. Kenapa temannya ini bersikap seperti ini.
__ADS_1
"Aduuh semua juga tau Nat, kamu sekarang gak punya apa-apa, mana papa kamu mati di penjara lagi, aduuhh pasti dulu kamu punya uang hasil korupsi papa kamu ya?" kata Dona. Dia memandang Nat sebelah mata.
"Jaga bicara kamu Don" kata Nat tersinggung.
"Kamu gak pantes ada di toko ini tau gak, mana bisa kamu bayar untuk beli baju disini. Lihat aja dandanan kamu. Aduuuhhh gak banget deh" kata Dona. Saat sedang berbicara tanpa sengaja mata Dina tertuju pada Ryan yang sedang duduk di sofa, karena menunggu Nat.
"Apakah hanya kamu yang pantas?" kata Nat. Ternyata melihat Nat ada yang mengganggu, karyawan itu memberitahukannya pada Ryan. Ryan melihat ke arah Nat.
"Tentu. Kamu lihat laki-laki yang duduk disana itu?" Dona menunjuk Ryan, Ryan pura-pura gak tau "itu calon suami aku, kamu tau kan siapa dia?" kata Dona. Nat tersenyum. Dia merasa lucu dengan temannya ini.
"Cowok tampan itu?" kata Nat menunjuk.
"Iya... Cewek kayak kamu giniana bisa dapetin cowok kaya kayak dia, mau kasih gratis badan kamu juga mungkin dia gak akan mau" kata Dona. Ryan diam-diam mendengarkan pembicaraan mereka. Tapi dia diam karena ingin tau bagaimana Nat menghadapi Dona.
"Orang rendahan kayak kamu mana tau" kata Dona lagi.
Ryan berdiri dan mendekat perlahan kearah Dona dan Nat.
"Kalau memang dia pacar kamu, coba kamu panggil dia." tantang Nat
"Buat apa,?? Dia gak biasa ya dekat-dekat dengan orang rendahan kayak kamu" kata Dona lagi.
"Kalau memang dia pacar kamu apakah kamu berani cium yang katanya pacar kamu itu? Lihat dia sudah berdiri dan melihat ke arah kita." kata Nat. Dona melihat ke arah Ryan, dan Ryan tersenyum. Yang Dona tau Ryan paling susah untuk tersenyum. Melihat itu dia merasa Ryan tertarik padanya. Karena gak mungkin dia tertarik dengan Nat yang penampilannya biasa aja.
"Aku berani" kata Dona.
__ADS_1
"Coba, atau kamu hanya membual saja?" kata Nat menantang. Dona akan mendekati Ryan, tapi Ryan menatapnya dengan dingin. Membuat Dona takut.
"Dia gak suka mengumbar kemesraan kita di tempat umum. Kamu tau kan dia orang terkenal. Jadi dia harus menjaga image" kata Dona membela diri.
"Oh ya?" kata Nat, kemudian dia mendekati Ryan dan mencium pipinya. Dona terkejut, dia gak menyangka Ryan diam saja saat dicium Nat.
"Sayang, aku mau beli baju ini, dan juga baju keluaran terbaru lainnya. Boleh?" kata Nat sengaja didepan Dona.
"Tentu saja sayang, buat kamu semua juga boleh" kata Ryan lembut. Dona merasa takut, karena dia berarti sudah menyinggung Ryan.
"Jadi orang gak boleh sombong Don, jangan melihat orang dari penampilannya. Memang kenapa kalau aku suka pake baju sederhana? Yang penting nyaman. Dan satu lagi Ryan itu calon suami aku, dia milikku bukan kamu. Jadi jangan bermimpi kamu bisa mendekati Ryan, satu hal lagi jangan pernah merendahkan keluargaki, atau kamu akan menyesal" kata Nat pada Dona. Dona hanya bisa diam, dan menunduk. Dia merasa malu. Tanpa banyak bicara, dia meninggalkan Nat. Setelah Dona pergi Nat menarik nafas panjang.
"Itu teman kamu?" tanya Ryan, Nat mengangguk.
"Oh iya, bajunya gak jadi ya. Aku cuma mau kasih pejaran aja tadi sama Dona." kata Nat.
"Gak papa, baju yang kamu mau harus jadi dibeli" kata Ryan sambil mencubit pipi Nat.
"Tapi itu terlalu mahal Ryan. Aku gak mau" kata Nat.
"Itu hadiah dari aku, jadi kamu harus mau" kata Ryan lagi.
"Tapi..."
"Kalau gak bisa nolak" kata Ryan kemudian dia membayar semua abju yang tadi disebut Nat. Nat merasa gak enak
__ADS_1