Rasa Ini

Rasa Ini
nonton


__ADS_3

Sudah seminggu Nat sibuk dengan pekerjaannya. Ryan banyak memberikan pekerjaan padanya. Ada saja yang membuat dia lembur ataupun telat pulang. Dan Ryan selalu minta ditemani. Baik saat meeting ataupun hanya sekedar makan siang. Bahkan Nat gak bisa minta ijin untuk jalan dengan Mona.


"Ryan... Besok kan hari sabtu, Mona minta aku temani nonton. Boleh?" kata Nat saat makan siang. Dia melihat sepertinya suasana hati Ryan sedang bagus.


"Gak kecuali aku ikut" kata Ryan.


"Kamu mau ikut, tapi kayaknya film yang bakal kita tonton kamu gak suka deh" kata Nat hati-hati takut salah ngomong.


"Aku bakal suka" jawa Ryan singkat.


"Oke kalau mau ikut. Besok jemput aku jam 9 pagi ya" kata Nat dengan senyum manis. Ryan hanya mengangguk.


Keesokan harinya, pagi-pagi Ryan datang menjemput.


"Nat belum bangun mbok?" kata Ryan, mbok Sum sedang sibuk memasak di dapur.


"Sepertinya belum den, mau mbok bangunin den?" kata mbok Sum menghentikan aktivitasnya.


"Gak usah mbok, biar aku aja" kata Ryan kemudian dia menuju kamar Nat. Ryan mencoba membuka pintu, ternyata gak terkunci. Dia masuk dengan perlahan. Nat masih ada di bawah selimutnya. Masih tidur nyenyak. Ryan akan membangunkannya, tapi dia mengurungkan niatnya. Kemudian dia perlahan ikut masuk ke dalam selimut dan tidur disamping Nat.


Nat belum sadar saat Ryan masuk ke dalam selimutnya. Sampai dia berbalik badan dan memeluk Ryan. Nat sedikit tersadar, tangannya menepuk badan Ryan yang dia pikir bantal guling. Merasa aneh Nat perlahan membuka matanya. Saat dia berhasil membuka matanya dia terkejut melihat Ryan tersenyum.


"Aaaaaarrrggghh" Nat berteriak kaget, dan dia terduduk sambil melihat ke arah Ryan.


"Kamu ngapain? Kok tidur di ranjangku. Kamu kapan datang?" kata Nat dia membuka selimut dan melihat pakaiannya. Ternyata dia masih memakai baju tidurnya.


"Masa kamu lupa si, kan kita semalam..." kata Ryan sambil menahan tawanya. Dua senang melihat muka panik Nat.


"Semalam... Semalam kita ngapain? Kan kamu semalam langsung pulang?" kata Nat setengah gak percaya.


"Ya ampun malam yang sangat penting begitu kamu gak ingat... Sayangku" kata Ryan mendekat ke arah Nat. Nat mundur dan menutup badannya dengan selimut.


"Kamu ngomong apa si?" kata Nat. Dia mengingat apa yang terjadi semalam. Tapi dia yakin Ryan semalam pulang setelah mengantarnya.

__ADS_1


"Aku mau lagi donk Nat..." kata Ryan terus menggoda Nat. Nat dengan cepat turun dari ranjang.


"Mau apa!?"


"Yang semalam kamu lakuin ke aku" kata Ryan, muka Nat memerah. Dia tampak bingung.


"Aku gak tau kamu ngomong apa" kata Nat mencoba tenang.


"Kamu kan sudah mengambil sesuatu yang paling penting dalam hidupku. Masa kamu gak ingat padahal kamu juga menik..."


"Gak.. Kamu bohong kan, gak mungkin kiya semalam melakukan itu" kata Nat panik, dia hampir menangis.


"Hahahaha kamu lucu banget si" Ryan tertawa puas melihat respon Nat yang ketakutan. Mengetahui sedang dikerjain Ryan, Nat marah dia berlari ke arah Ryan dan memukulnya.


"Kamuu buat aku kaget tau gak, rasain ni" kata Nat sambil terus memukuli Ryan. Ryan menahan pukulan Nat sambil tertawa. Kemudian dia memeluk Nat.


"Kalau kamu masih terus pukul nanti kita lakukan itu beneran loh" kata Ryan sambil terus memeluk Nat, dengan posisi berbaring. Mendengar itu Nat buru-buru melepaskan pelukan Ryan dan berdiri.


"Kamu pagi amat datangnya? Baru jam tujuh." kata Nat mengalihkn pembicaraan.


"Gombal" kata Nat sambil melempar bantal kearah Ryan.


"Aku memang selalu kangen kamu sayang"


"Udah ah aku mau mandi dulu" kata Nat.


"Ikut" kata Ryan.


"Kamu keluar.." kata Nat sambil menarik Ryan yang masih duduk di ranjangnya. Tapi malah Ryan yang merinarik Nat ke dalam pelukannya lagi.


"Kamu..."


"Biarkan sebentar aku peluk kamu Nat" kata Ryan.

__ADS_1


"Tapi aku belum mandi." kata Nat sambil melepaskan pelukan Ryan, dia berdiri mukanya memerah, karena posisi mereka berpelukan sambil berbaring. Jantungnya berdetak cepat.


"Berarti kalau kamu udah mandi aku boleh..." kata Ryan.


"Gak, kamu sekarang keluar. Sekarang Ryan, nanti mbok Sum salah paham" kata Nat. Ryan berdiri Nat segera mendorongnya keluar.


"Mbok Sum gak akan salah paham Nat, dia kan merestui kita" kata Ryan terus menggoda.


"Udah ya.. Atau aku marah Ni" kata Nat. Nat segera menutup dan mengunci pintu kamarnya setelah Ryan keluar.


"Mandi yang wangi ya sayang aku tunggu di ruang makan" kata Ryan di depan pintu. Kemudiabdia menuju ke ruang makan sambil tertawa.


Setelah sampai di bioskop ternyata Mona sudah menunggu dengan Joe. Ryan sudah gak terkejut kalau ada Joe disana. Melihat Nat datang dengan Ryan, Joe seperti kurang suka.


"Nat, kamu ajak Pacar kamu?" kata Joe.


"Kenapa? Apakah aku mengganggu?" kata Ryan.


"Gak juga" kata Joe. Ryan dan Joe saling menatap seakan mereka akan berperang.


"Ayoo masuk kita beli tiket dulu." kata Nat memecahkan ketegangan. Kemudian Ryan berjalan menggandeng tangan Nat melewati Joe. Dalam hati Joe senang sepertinya dia bisa membuat Ryan cemburu.


"Aku sudah duga cowok ini pergi sama kalian" kata Ryan berbisik di telinga Nat. Mona dan Joe sedang antri membeli tiket, jadi Ryan bisa bicara dengan Nat. Nat menjadi gak enak hati. Dia sekarang tau kenapa Ryan memaksa ikut.


"Aku gak tau Ryan, kalau Joe mau ikut" kata Nat sungguh-sungguh.


"Aku percaya sama kamu kok" kata Ryan sambil mengelus kepala Nat.


"Bahagia banget bisa pacaran begitu" kata Mona yang melihat kemesraan Nat dan Ryan.


"Apakah Ryan bener-bener cinta sama Nat?" tanya Joe pada Mona.


"Tentu saja. Apapun bisa Ryan berikan untuk Nat. Lihat saja perlakuan dia sama Nat" kata Mona.

__ADS_1


"Apapun?" kata Joe mengulang perkataan Mona. Mona mengangguk yakin. Joe tersenyum. Jadi dia semakin yakin, Nat adalah kunci untuk bisa menjatuhan Ryan


__ADS_2