
Seperti biasa setelah urusan di kantor selesai, Ryan datang menemui Nat.
"Mbok hari ini masak apa?" tanya Ryan sama mbok Sum yang sedang asyik di dapur.
"Tadi mbok masak rendang den. Nat katanya lagi pingin makan rendang" jawab mbok Sum.
"Waah enak mbok. Aku juga lagi ingin makan rendang." kata Ryan, mbok Sum tersenyum.
"Yeee ada yang ikut-ikutan minta rendang" kata Nat yang baru keluar dari kamarnya.
"Biarin. Kita kan sehati" kata Ryan. Nat tertawa.
"Panggil Bob sama Vino, biar kita makan sama-sama mbok Sum masak banyak tadi" kata Nat.
"Oke" jawab Ryan, kemudian dia menghubungi Vino dan Bob.
Gak menunggu lama Bob dan Vino datang. Suasana langsung ramai kalau sudah ada mereka.
"Cepet ya kalau diundang makan" kata Ryan. Bob dan Vino tertawa.
"Kalau ditawarin masakan mvok Sum perut dan mulut gak bisa nolak. The brst lah mbok Sum" kata Vino.
"Bisa aja den Vino kalau lagi ngerayu. Paling minta dimasakin lagi ya" kata mbok Sum, semua tertawa.
"Gak lah mbok, masakan mbok Sum emang enak kok, iya gak?" kata Vino. Semua mengangguk setuju. Semua memuji masakan mbok Sum.
Mereka makan bersama diselingi dengan candaan. Seringkali Vino dan Bob merasa iri dengan kemesraan Nat dan Ryan.
"Kalau di depan kalian kenapa kita ngerasa lagi jadi nyamuk ya" kata Bob, saat melihat Ryan menyuapi Nat.
"Aku bukan nyamuk Bob, tapi jadi udara di sekitar mereka, kagak kelihatan" kata Vino, muka Nat merah, dia malu juga.
"Makanya cari pacar sendiri, jangan ttm mulu" kata Ryan.
"Kalau pacaran itu malas Ryan, kebanyakan cewek sekarang banyak nuntut. Lagian kalau ada cewek juga pas liat kamu malah nanyain kamu mulu, mendingan gak bawa cewek pas ketemu kamu" kata Bob lagi.
"Oh iya... Jadi banyak ya yang deketin Ryan?" kata Nat, sifat iseng Vino pangsung muncul.
"Bener banget tuh, dah banyak banget lah. Kemaren aja gebetan aku pas sekali liat Ryan langsung minta nomor kontaknya, dikasih lagi sama Ryan, mana ceweknay cakep banget lagi. Gagal deh aku pacaran sama dia" kata Vino. Nat melihat ke arah Ryan.
__ADS_1
"Kamu ngomong ngaco lagi aku hajar ya Vin" kata Ryan, tangannya sudah diangkat mengancam Vino. Vino malah tertawa.
"Jadi begitu?" kata Nat pura-pura terpancing omongan Vino.
"Gak Nat, gak ada aku bukan tipe orang yang sembarangan kasih nomor ke orang lain, apa lagi ke cewek. Vino bohong dia" kata Ryan
"Dulu kan kamu langsung kasih nomor kamu ke aku, aku kan cewek juga" kata Nat.
"Kamu kan beda Nat"
"Bedanya?"
"Kamu yang bisa buat aku deg-degan, buat aku gak bisa tidur" kata Ryan, dia mendekati Nat akan memeluknya tapi dia ditarik sama Vino.
"Sebelum aku lupa, ayo aku mau ngomong sesuatu" kata Vino.
"Kamu ganggu aja Vin, kenapa?" kata Ryan. Vino mengajak Ryan menjauh dari Nat.
"Aku sudah selidiki orang yang bernama Joe, ternyata dia orangnya Bela. Kamu harus berhati-hati, dia orang yang licik" kata Vino.
"Ternyata Bela masih belum kapok ya, oke kita ikuti saja permainan dia. Jangan sampai nat tau, biarkan Joe mendekatinya. Pasti dia memakai cara ini untuk melawanku" kata Ryan, Vino mengangguk setuju.
"Iya Nat, udah kok. Masa udah kangen ditinggal sebentar?" kata Ryan.
"Iiihhh geer banget si, orang ada telepon juga. Itu hape kamu bunyi terus" kata Ryan sambil memberikan hape Ryan.
"Makasih sayng" kata Ryan kemudian mengangkat telepon.
"Ada masalah ya Vin?" kata Nat saat Ryan sedang mengangkat telepon.
"Ohh sedikit. Tapi udah beres kok" kata Vino, dia melihat ke arah Bob. Dan Bob langsung mengerti, dia mengangguk.
"Nat, besok bisa bantu aku di kantor?" kata Ryan setelah kembali bersama mereka.
"Jadi aku boleh kerja lagi?" kata Nat senang. Dia memang kangen dengan suasana kantor, dengan Mona.
"Iya, kamu senang?" kata Ryan.
"Senang banget, akhirnya aku bisa kumpulin duit buat beli..." kata Nat tapi dia gak terusin kalimatnya, Ryan melihat kearahnya.
__ADS_1
"Kamu mau beli apa Nat? Kenapa gak kasih tau aku. Kamu minta apa kan pasti aku kasih" kata Ryan, Nat nyesel udah keceplosan. Dia memang ingin membeli laptop baru, dia ingin melanjutkan hobi menulisnya. Tapi dia gak mau kalau di belikan Ryan. Dia mau usaha sendiri sehingga hutangnya gak semakin banyak. Walaupun dia tau kalau saja dia mau minta, Ryan pasti kasih.
"Gak kok, bukan beli apa?" kata Nat.
"Mulai bohong kan sama aku" kata Ryan gak suka.
"Kita bantu mbok Sum yuk Bob" kata Vino menarik tangan Bob, Bob langsung berdiri mengerti maksud Vino.
"Aku gak bohong kok"
"Tadi kamu bilang kamu mau kumpulin duit buat beli apa? Selama ini aku kasih uang selalu kamu tolak, kamu anggap aku gak si Nat?" kata Ryan.
"Bukan begitu Ryan, aku cuma gak mau dianggap matre"
"Kan kamu gak minta, tapi aku yang kasih" kata Ryan bingung dengan jalan pikir Nat. Setau dia cewek sekarang sangt suka di kasih uang, beliin barang mewah. Tapi Nat selalu menolak.
"Kamu udah kasih terlalu banyak Ryan. Untuk Nael, untuk aku, itu terlalu banyak, aku takut gak bisa balas nantinya" kata Nat.
"Apa aku pernah meminta kamu membalas atau mengembalikan semua Nat? Gak kan? Aku merasa kamu selalu menolak pemberianku itu kamu sedang jaga jarak sama aku Nat"
"Ryan bukan maksud aku begituu... Lagian aku hanya ingin membeli dengan hasil kerjaku sendiri. Baru aku merasa puas. Kalau hanya minta sama kamu, aku tau itu lebih mudah, tapi itu gak ada usahaku didalamnya." kata Nat. Ryan menarik nafas panjang, mencoba mengatur emosinya.
"Oke... Terserah kamu." kata Ryan kemudian dia meninggalkan Nat.
"Ryan..." panggilan Nat gak dihiraukan Ryan. Nat jadi bingung. Apakah dia harus menjadi cewek matre agar Ryan senang? Nat menutup menundukan kepalanya, dengan tangan menutupi wajahnya. Apakah Ryan marah? Apa yang harus dia katakan?
"Jadi sebenarnya kamu lagi pingin beli apa Nat?" kata Bob tiba-tiba sudah ada di dekatnya.
"Apakah Ryan marah Bob?" kata Nat, mengangkat kepalanya.
"Sebenarnya Ryan hanya terlalu peduli dengan kamu Nat, dia ingin mengabulkan semua apa yang kamu mau. Dia gak mau kamu kekurangan apapun. Tapi kenapa kamu selalu menolak pemberiannya? Kamu pasti tau kan apapun yang kamu minta, Ryan bisa memberikannya" kata Bob.
"Tapi aku gak mau begitu Bob. Kamu pernah dengar jika seorang cowok banyak memberi nanti suatu saat dia akan menuntut lebih" kata Nat
"Tapi Ryan tulus sama kamu Nat"
"Aku tau, aku hanya gak mau dia jadi benci aku kalau aku terlalu banyak meminta. Kamu tau Bob, Ryan sangat penting buat aku, gak bisa bayangin kalau dia benci aku" kata Nat, Ryan yang mendengarkan di belakang Nat langsung memeluknya dari belakang.
"Aku gak akan benci kamu Nat, kamu minta semua yang aku punya pun pasti aku kasih" kata Ryan. Bob tersenyum melihat dua sejoli ini
__ADS_1