
Pagi ini cerah secerah hati Nat. Dengan semangat dia berangkat kerja. Sepanjang jalan senyumnya sering nampak di bibirnya. Dia sangat bahagia dangan hari yang baru. Karena hari ini dia bisa dekat-dekat dengan Ryan. Dia sudah menjadi sekretaris pribadi, yang artinya kemanapun Ryan pergi dia bisa terus berada disampingnya.
Dengan semangat baru dia memasuki kantor. Walaupun tetap masih ada tatapan sinis dari teman-temannya, tapi dia gak peduli. Dia tau apapun yang terjadi Ryan ada didepan untuk membelanya.
"Natt......" teriak Mona saat melihat Nat. Dia berlari ke arah Nat langsung memeluknya.
"Aduuhhh pelan-pelan Mon, sakit nii" kata Nat, kemudian Mona tertawa.
"Naatt selamat yaa... Kamu diangkat jadi sekretarisnya bos... Wah aku iri banget... Diam-diam selama ini ternyata kamu pacarnya bos yaa" kata Mona dengan semangat. Muka Nat memerah, tidak mengiyakan tapi tidak menyangkalnya juga.
"Belum kok Mon,..."
"Belum berarti mau kan...." goda Mona. Nat semakin merona.
"Nat..." tiba-tiba Ryan sudah ada di belakang Nat. Mona yang terkejut langsung memperbaiki sikap berdirinya.
"Pagi Pak" kata Mona hormat. Ryan mengangguk sambil tersenyum.
"Ke ruangan saya Nat" kata Ryan sambil berlalu.
"Aaaahhh senyum Pak Ryan manis bangeettt, siapa cewek yang gak tergoda, udah kaya, ganteng. Kamu beruntung banget si Nat" kata Mona lagi. Nat tertawa melihat tingkah temannya itu. Tapi memang hanya Mona yang selama ini selalu baik padanya. Bahkan saat teman-teman yang lain membullynya, memusuhinya Mona selalu membelanya. Nat bersyukur bertemu dengan Mona di kantor ini.
"Udah ah... Aku harus ke ruangan bos dulu"
"Cieee ciee... Salam yak buat bos" goda Mona lagi. Nat hanya tersenyum kemudian pergi ke ruangan Ryan.
Saat masuk ke ruangan, senyum masih ada di bibir Nat.
"Nah gitu donk... Kerja sambil tersenyum jadi kan enk lihatnya, biar semua orang tau senyum kamu tuh yang paling manis" kata Ryan menggoda Nat. Membuat Nat salah tingkah.
"Apaan sii... Aku tuh masih geli inget tingkah Mona tadi" kata Nat mencoba menjelaskan.
"Mona? Oh yang tadi ngobrol sama kamu itu?"
"Iya... Masa sama karyawan sendiri gak kenal."
"Aku gak perlu tau mereka juga kan... Lagian gak masalah aku gak kenal mereka, yang penting aku terkenal diantara mereka" kata Ryan bangga.
"Sombong amat" kata Nat pelan.
"Apa?"
"Gak... Gak papa. Tapi Kamu sadar gak kamu menjadi seperti apa sekarang juga karena karyawan kamu, kalau gak ada mereka kamu gak mungkin di sebut bos. Dan gak mungkin juga bisnis kamu berjalan. Jadi kamu harus baik sama mereka semua. Walau mereka hanya OB disini kamu harus hargai mereka donk. Kamu sudah terkenal bos yang baik walaupun dingin kayak es. Tapi kalau kamu gak kenal sama aja boong"
"Kamu bawel juga yaa... Baru kali ini loh ada yang berani kritik aku begitu" seketika Nat terdiam. Karena terlalu semangat dia lupa kalau Ryan adalah bosnya. Nat menutup mulut dengan tangannya. Ryan tersenyum.
"Udah gak papa... Makasih ya buat masukannya. Aku janji ke depannya aku akan lebih memperhatikan karyawanku semuanya. Puas Tuan putri?" kata Ryan sambil mencubit pipi Nat.
"Maaf ya bos..."
"Apaan si minta maaf. Terus jangan panggil aku bos, panggil aku Ryan atau sayang" mendengar itu Nat gak bisa menahan tertawanya.
"Kok malah ketawa" tanya Ryan bingung
"Kami suka nonton acara rayu+rayuan di televisi yaa... Tapi jujur aja gak cocok" kata Nat sambil terus tertawa. Ryan cemberut tapi juga malu. Ryan angsung memasang muka dinginnya. Seketika Nat berhenti tertawa.
"Maaf..." kata Nat sambil menunduk sambil menyembunyikan senyumnya.
"Sudah puas ketawanya? Kalau sudah kamu bisa kemeja kerja kamu. Tuh disana" kata Ryan sambil menunjuk ke sudut kanan. Ternyata Ryan menaruh meja kerja Nat di ruangannya juga.
__ADS_1
"Kok disini juga? Bukannya biasa meja sekretaris diluar ya?" tanya Nat bingung.
"Kamu kan sekretaris pribadi aku jadi harus disini" kata Ryan.
"Tapi kalau kamu mau istirahat bagaimana? Bukankah kalau kamu gak suka kalau istirahat di ganggu? Kalau ada aku gimana kamu istirahat?"
"Aku memang gak suka diganggu saat istirahat. Jadi sebaiknya kamu ikut aku istirahat juga." kata Ryan sambil mendekati Nat untuk menggodanya. Nat langsung menghindar dan berlari keluar.
"Aku bikin kopi dulu" katanya sambil berlari. Ryan tertawa melihatnya.
"Memang cuma kamu yang membuat hidupku berwarna Nat" kata Ryan berbicara sendiri.
Keluar dari ruangan Ryan, Nat mengatur nafasnya.
"Dasar Ryan nyebelin!" gumamnya sambil menghentakan kakinya karena kesal.
"Kenapa Nat?" tiba-tiba Bob ada di dekatnya, Nat terkejut.
"Aduh kaget aku" kata Nat lagi setelah melihat Bob.
"Ryan ada di dalam? "
"Ada... Kamu masuk aja. Mau kopi gak? Sekalian aku buatin" kata Nat menawarkan kopi.
"Kalau gak repotin kamu boleh juga, tapi gula dikit aja ya. Soalnya aku gak suka manis, kan aku udah manis" kata Bob sambil tertawa kemudian masuk ke ruangan Ryan. Nat melongo mendengar kata-kata Bob.
"Ni dua orang memang sama-sama narsis yah. Ampun deh." kata Nat sambil menggelengkan kepala.
Saat sedang membuat kopi dia bertemu dengan Mia.
"Hai Nat... Selamat yah. Sudah diangkat jadi sekretaris pribadi bos." kata Mia lembut. Nat tersenyum. Dia ingat dulu mia juga sering membullynya. Pasti ada maksud lain kalau Mia jadi baik.
"Makasih" jawab Nat singkat. Dia terus membuat kopi untuk Ryan dan Bob.
"Ini buat pak Ryan dan pak Bob." kata Nat singkat. Sebenarnya dia malas menanggapi Mia.
"Nat... Kamu lagi bikin kopi yaa. Aku juga mau donk" tiba-tiba Mona menyela. Mona sengaja berdiri di tengah anatara Nat dan Mia. Mia yang kesal pergi dari situ.
"Kamu ni Mon. Marah tuh Mia..."
"Haduh... Biarin aja lah. Dulu aja dia jelekin kamu mulu. Sekarang tau kamu disayang bos dia mau deket-deket. Manusia begitu dibuang aja" kata Mona sambil membuat kopi kesukaannya.
"Tumben kamu minum kopi hitam Nat, biasa gak suka" tanya Mona lagi setelah melihat gelas yang dipegang Nat.
"Ini buat Ryan dan Bob"
"Oh ada Bob juga yaa... Ya ampun si ganteng udah datang. "
"Siapa si ganteng?"
"Bob lah... Ryan kan udah ada yang punya, kamu."
"Apaan si" kemudian mereka tertawa.
Saat kembali ke ruangan, Ryan dan Bob sedang asyik berbincang. Melihat Nat masuk mereka diam. Nat meletakan kopi di depan mereka.
"Kamu buat kopi Bob juga?" tanya Ryan tidak senang. Bob mengangguk senang.
"Ini buat Pak Ryan, ini buat Pak Bob dengan gula sedikit, karena pak Bob sudah manis" kata Nat. Bob tertawa tapi Ryan cemberut. Dia gak suka Nat memuji Bob.
__ADS_1
"Nat! Kembali ke meja kamu!" kata Ryan dengan keras. Nat dan Bob terkejut. Tapi Bob langsung tau kalau Ryan sedang cemburu.
"Santai donk Ryan... Tadi memang aku yang bilang sama Nat minta gula sedikit. Karena aku memang sudah manis. Gak usah cemburu" kata Bob menenangkan Ryan. Nat diam saja kemudian tanpa berkata-kata lagi dia kembali ke meja kerjanya. Dia terkejut karena di bentak.
Ryan dan Bob kembali membicarakan bisnis mereka. Nat tetap diam di tempatnya. Sesekali Ryan melempar pandang kearahnya tapi Nat tidak peduli. Nat heran kenapa hanya msalah kecil Ryan sampai membentaknya. Padahal itu juga untuk sahabatnya.
Setelah Bob pergi, Ryan mendekati meja Nat. Tapi Nat tidak peduli dia tetap melanjutkan kesibukannya.
"Nat..." kata Ryan denga lembut. Nat mengangkat wajahnya melihat ke arah Ryan.
"Ada yang bisa aku bantu lagi Pak?" kata Nat dingin. Dia masih kesal.
"Maaf ya.. Aku sudah bentak kamu" kata Ryan meminta maaf.
"Gak papa kamu bos disini. Bebas untuk melakukan apapun. Lagi pula aku hanya karyawan biasa" jawab Nat. Ryan tau Nat sedang marah jadi dia mencoba bersabar.
"Bukan begitu Nat... Aku cuma gak suka kamu puji cowok lain apalagi di depanku. Masa kamu bilang Bob manis."
"Cuma karena itu?" kata Nat heran.
"Intinya aku gak suka kamu perhatian sama cowok lain, dan mulai sekarang jangan buatin kopi lagi buat yang lain. Kecuali buat aku. Walaupun itu Bob. Dia bisa buat sendiri kok. Atau suruh orang lain" Nat menatap Ryan kesal. Masa gara-gara kopi aja sampai begitu. Nat menarik nafas panjang.
"Baiklah bos... Saya janji"
"Bagus... Ingat ya" kata Ryan lagi. Nat mangangguk. Akhirnya Ryan tersenyum. Mungkin sekarang Nat harus berhati-hati supaya Ryan gak cemburu.
"Sebentar lagi jam makan siang. Aku ada janji ketemu orang. Kamu gak papa kan ditinggal?"
"Gak papa lah, nanti aku bisa makan bareng Mona. Kamu pergi aja. Aku bukan anak kecil lagi kok."
"Oke... Kalau udah selesai aku akan langsung balik kantor. Oh iyaa... Hari ini aku antar kamu pulang. Jadi tunggu aku." kata Ryan lagi.
"Siap pak" jawab Nat.
Setelah Ryan pergi Nat mencari Mona untuk makan siang bersama.
"Mon mon kita makan yuk." kata Nay setelah sampai di meja mona.
"Eh ibu sekretaris gak sama bapak Direktur ni?" goda Mona saat melihat Nat datang mengajaknya makan.
"Apaan si... Ryan ada janji ketemu orang"
"Cieee mesra amat sebut namanya" goda Mona lagi. Membuat Nat salah tingkah.
"Udah ah... Ayuk makan aku udah lapar" Nat menarik tangan Mona.
Di ruang makan karyawan sudah ramai. Mia yang melihat Nat datang langsung memanggilnya
"Nat, duduk disini aja... Ni masih ada kosong." kata Mia sambil menunjuk kursi kosong disebelahnya. Nat dan Mona akhirnya setuju duduk dengan dia.
"Kenapa kamu gak sama Bos Nat?" tanya Mia setelah Nat duduk.
"Bos lagi ketemu rekan bisnisnya..."
"Wah kok kamu gak diajak. Pasti rekannya itu cewek deh. Rekan bos kan banyak yang cewek cantik. Enak ya jadi Bos dikelilingi xewek cantik dan seksi" kata Mia berusaha membuat Nat kesal. Tapi Nat bersikap biasa. Dia tau kalau dia menunjukan sikap gak suka Mia akan merasa menang.
"Iya donk... Namanya bos pasti banyak yang suka. Tapi kan gak semua juga disukai bos." kata Nat.
"Tapi selera bos pasti tinggi ya, gak mungkin dia suka sama orang biasa" kta Mia menyindir. Mendengar itu Mona menjadi emosi tapi Nat menahannya.
__ADS_1
"Mungkin begitu... Mungkin yang disukai bos levelnya lebih tinggi dari kamu" kata Nat tetap tenang. Mia tersinggung karena semua tau yang dekat dengan bos itu Nat. Berarti level Mia lebih rendah dari Nat. Mia marah dan meninggalkan makannya. Mona tersenyum puas.
"Sekarang udah hebat ya bu sekretaris" kata Mona menggoda Nat