
Saat sadar tangan Mona sudah terikat. Dia ada di sebuah ruangan, sepetinya sebuah kamar dengan ukuran kecil. Hanya ada ranjang kecil tempat Mona berbaring, dan kursi di sudut ruangan.
Mona sangat ketakutan, badannya gemetar, dia menebak-nebak siapa yang menculiknya. Apa yang diharapkan penculik dari dia yang hanya orang biasa. Dia ingat-ingat apakah dia punya musuh, tapi Mona terlalu takut untuk berpikir. Dia ingin teriak tapi dia juga takut akan memanggil penculik itu. Dia mencoba melepaskan ikatan tangannya tetapi susah. Tangannya sakit karena ikatan itu.
Saat Mona sudah mulai putus asa. Dia mendengar ada orang yang mendekati pintu tempatnya di sekap. Keringat dingin keluar membasahi tubuhnya. Cemas, takut terbayang wajah bengis penculiknya.
'Bagaimana kalau aku nanti dijual? Atau diambil ginjalnya, matanya, bagaimana kalau aku dimutiasi badanku dibuang terpisah' pikiran Mona mrngacau karena takut. Dia membayangkan sampai hal terburuk akan menimpanya.
Pintu terbuka, Rey masuk dengan seorang lelaki. Rey mendekati Mona. Mona takut sampai menangis. Tapi dia merasa pernah melihat Rey, dia berpikir kapan dia bertemu dengan orang yang menculiknya ini. Lalu dia teringat kalau Rey adalah orang yang datang ke kantor dengan Bela.
"Kamu pasti bertanya-tanya kan kenapa kamu ada disini?" kata Rey. Dia mengambil kursi dan meletakannya dekat Mona.
"Kamu siapa? Kenapa aku disini?" kata Mona suaranya bergetar karena takut. Rey tertawa.
"Aku hanya ingin bertanya satu hal sama kamu. Kamu sahabat Nat kan? Kamu tau dimana Nat sekarang?" kata Rey.
"Aku gak tau, Nat hilang, aku gak tau" kata Mona, dia teringat kata-kata Bob kemarin. Dia harus merahasiakan keberadaan Nat. Atau Nat akan dalam bahaya.
"Jangan bohong!!! Aku tau kamu dan Bob menyembunyikan sesuatu!" kata Rey kemudian dia memukul Mona. Dengan tujuan Mona akan mengatakan. Mona menangis karena sakit.
"Tapi aku gak tau dimana Nat" kata Mona merintih.
"Kamu gak tau dimana Nat, berarti Nat masih hidup?!" lata Rey, tangannya menarik rambut Mona hingga kepala Mona mendongak ke atas.
__ADS_1
"Aku gak tau!" kata Mona mencoba bertahan. Pukulan kembali di layangkan Rey ke tubuh Mona.
"Dasar brengsek!! Kamu mau mati ya?! Hah!!!" Rey mendorong Mona sampai kepalanya membentur ujung ranjang. Mona pingsan karena kepalanya terluka.
Melihat Mona pingsan, Rey keluar meninggalkannya. Dan menyuruh orang menjaga di depan pintu kamar itu.
Sementara itu di kantor Ryan, Bob yang mendengar kabar Mona gak masuk kerja tanpa alasan merasa curiga. Dia menghubungi keluarga Mona dan ternyata mereka mengatakan Mona berangkat kerja dari pagi seperti biasa.
"Ryan, sepertinya ada sesuatu. Mona hari ini gak ke kantor, aku sudah hubungi keluarganya dan mereka bilang kalau Mona kerja seperti biasa dan tadi aku juga coba cek sekitar rumahnya dan disana ada yang melihat Mona dinaikan ke dalam mobil oleh dua orang. Dan aku curiga ini ada hubungannya dengan Bela karena kemaren waktu aku bicara dengan Mona tentang Nat tiba-tiba ada Bela. Aku takut kalau Mona kenapa-napa" kata Bob menjelaskan pada Ryan.
"Kita harus mencarinya Bob, kalau sampai mona ada apa-apa pasti Nat akan sedih" kata Ryan. Dia tau Nat oasti akan sedih apalagi kalau sampai tau semua karena dia.
"Ryan, kamu kan pernah kasih Mona handphone, waktu dia menemani Nat di rumah sakit?" kata Bob
"Oh iya Bob, mudah-mudahan Mona membawa handphone itu, seharusnya GPS masih bisa dilacak" kata Ryan. Waktu itu dia sengaja memasang GPS di handphone itu untuk memastikan Mona benar-benar ke rumah sakit. Dia gak menyangka sekarang itu akan sangat berguna.
Hari ini Nat merasa gak tenang dari agi tadi dia kepikiran Mona. Gak seperti biasanya dia kangen dengan Mona. Tapi dia susah untuk menghubungi Mona, karena Mona gak angkat teleponnya. Akhirnya dia mencoba menghubungi Ryan.
"Ryan, Mona lagi sibuk ya. Aku dari pagi coba hubungi dia tapi gak bisa" kata Nat. Ryan diam gak langsung menjawab. Mungkin kalau berhadapan langsung Nat langsung tau kalau Ryan bingung.
"Iya lagi banyak kerjaan hari ini" kata Ryan berbohong.
"Ooh begitu, ya udah deh kalau begitu. Kamu lanjut sibuk aja. Jadi malam ini gak bisa kesini ya?" kata Nat sedih.
__ADS_1
"Mm ada yang kangenbyah sama aku?" kata Ryan menggoda Nat.
"Iiihh geer. Siapa yang kangen. Udha ah... Mbok Sum udah panggil" kata Nat buru-buru mematikan teleponnya. Ryan tersenyum. Tapi kemudian dia mengingat Mona. Jadi dia menghubungi Bob.
"Bagaimana Bob, sudah ketemu lokasinya?" tanya Ryan.
"Sudah Ryan, ini kita lagi menuju kesana, gak salah lagi ini arahnya ke rumah lama kamu Ryan. Pasti Bela yang melakukannya." kata Bob. Ryan gak terkejut dengan itu karena Ryan tau Bela bisa melakukan apa saja untuk tujuannya berhasil. Dia malah khawatir dengan keselamatan Mona.
"Usahakan bawa Mona dengan selamat Bob" kata Ryan.
"Oke" jawab Bob menyanggupi.
Mona perlahan sadar dari pingsannya. Dia merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Kepalanya sakit. Ternyata Rey sudah menunggunya sadar. Kali ini Rey membawa balok kayu. Mona tau mungkin dia gak akan selamat kali ini. Dia gelisah dia gak ingin mati tapi dia juga gak mau kalau sampai mengkhianati Nat.
"Sepertinya kamu gak peduli dengan nyawamu, tapi kamu pasti peduli dengan keluargamu?" kata Rey
"Jangan ganggu keluargaku, ini semua gak ada hubungannya dengan mereka" kata Mona khawatir. Dia teringat ibu dan adik-adiknya.
"Kalau kamu sayang mereka, kamu katakan dimana Nat" kata Rey dengan nada mengancam.
"Aku benar gak tau dia dimana, aku terakhir kali bertemu dirumah sakit beberapa waktu lalu" kata Mona.
"Berarti benar kalau Nat masih hidup?" tanya Rey sambil menarik rambut Mona. Mona mengangguk perlahan. Kemudian Rey melepaskan tarikannya. Dia tersenyum puas.
__ADS_1
"Tolong lepaskan aku" pinta Mona
"Belum saatnya, kamu masih harus disini sampai Nat ditemukan, nanti akan ada orang yang memberimu makan. Dan kalau masih ingin bertemu dengan keluargamu kamu harus menuruti perkataanku." akta Rey kemudian dia pergi keluar. Dan menyuruh orang yang menjaga Mona melepaskan ikatan tangan Mona