Rasa Ini

Rasa Ini
pergi


__ADS_3

Dua bulan Nat sudah bekerja dan tinggal di tempat Ryan. Sampai suatu hari saat Nat tidak sengaja mendengar percakapan Ryan dan Bob.


"Kamu jatuh cinta pada Nat?" tanya Bob. Pertanyaan ini membuat Nat menghentikan langkahnya dan mencuri dengar.


"Kenapa?" Ryan balik tanya.


"Kamu sangat peduli dengan nya, belum pernah ada cewek kamu perlakukan seperti dia"


"Kamu pasti sudah tau kisah hidupnya, kasihan" jawab Ryan. Mendengar itu hati Nat kecewa. Jadi selama ini Ryan hanya kasihan. Dia berbalik dan meninggalkan tempatnya berdiri. Dengan penuh kekecewaan dia berlari menjauh. Nat tidak mendengar alasan Ryan selanjutnya.


"Hanya kasihan?" ejek Bob.


"Tidak. Aku ingin melindunginya, membuatnya bahagia. Hatiku sakit saat melihatnya menderita, aku takut dia pergi dari aku" Bob tertawa. Dia tau sahabatnya yang dingin ini sedang jatuh cinta.


"Itu namanya kamu jatuh cinta Ryan" Ryan hanya tersenyum, saat ini dia rela memberikan apapun untuk Nat, bahkan nyawanya. Tapi Nat tidak tau itu, yang Nat tau Ryan hanya karena kasihan padanya. Hatinya sedih.


Saat jam kerja berakhir Nat berjalan sambil melamun tiba-tiba ada temannya yang tertabrak dan menumpahkan air ke bajunya.


"Kenapa kamu melamun Nat?" kata temannya itu.


"Maaf maaf" kata Nat sambil berjalan menuju kamar mandi. Ternyata kesempatan itu dimanfaatkan Fara untuk mengerjai Nat. Saat Nat masuk ke bilik kamar mandi Fara menumpahkan minyak didepan pintu bilik Nat. Saat Nat keluar karena licin dia terpeleset dan kepalanya terbentur lantai. Nat pinsan. Karena sudah jam pulang kantor gak ada lagi yang masuk ke kamar mandi.


Saat Ryan pulang kerumah Nat belum pulang, dia menanyakan bibi kemana Nat.


"Non Nathania belum pulang den" kata bibi.


"Apa dia lembur ya?" kata Ryan.


"Sebentar lagi mungkin pulang den" Ryan


mengangguk. Jam sepuluh malam Nat belum juga pulang. Ryan mulai gelisah. Dadanya sakit. Dia tau saat dadanya sakit pasti terjadi sesuatu sama Nat. Ryan langsung kembali ke kantornya.


"Pak Ryan ada yang tertinggal?" tanya satpam kantornya.


"Pak, apakah masih ada yang lembur?"


"Gak ada pak Ryan, semua sudah pulang. Tadi diruangan saya cek sudah gak ada orang" kata satpam itu yakin. Tapi Ryan yakin pasti Nat masih didalam, dia datangi meja kerja Nat. Tas masih ada tapi dimana Nat. Ryan berlari ke kamar mandi. Disana Ryan melihat Nat pinsan, dan saat mendekati lantai dia mengetahui lantainya licin.


"Minyak?? Siapa lagi yang berani berbuat ini?" Ryan segera mengangkat Nat dengan hati-hati karena lantainya sangat licin. Dia meminta satpam membersihkan minyak supaya tidak ada yang menjadi korban lagi.

__ADS_1


Ryan membawa Nat pulang kerumahnya. Dia memanggil dokter pribadinya datang.


"Kepalanya terbentur tapi untuk sementara tidak berbahaya, tapi kalau setelah sadar dia mual-mual atau pusing berkepanjangan panggil saya lagi" kata dokter itu. Kemudian dokter pamit.


"Nat ijinkan kali ini aku membelamu" kata Ryan.


Gak berapa lama Nat sadar. Dia melihat sekeliling, kamar yang dia kenal. Dia tau pasti Ryan yang membawanya pulang.


"Nat kamu sudah sadar" kata Ryan masuk kamar. Nat hanya mengangguk.


"Aku suapin makan ya?" Nat menggeleng. Saat Ryan mau menyuapinya, Nat memalingkan wajahnya.


"Aku lelah, kepalaku sakit. Aku ingin tidur" kata Nat. Ryan heran ada apa dengan Nat.


"Tapi kamu harus makan biar..."


"Tolong Ryan aku ingin tidur, aku gak lapar" Nat memotong kata-kata Ryan, matanya berkaca-kaca.


"Nat.." Ryan memegang lembut kepala Nta tapi lagi-lagi Nat membuang muka.


"Aku ingin sendiri..." kata Nat pelan. Ryan tau Nat lagi gak tenang. Dia berdiri.


"Oke, kalau kamu sudah tenang panggil aku.." Ryan keluar kamar Nat.


Keesokan paginya Ryan sudah rapi akan berangkat ke kantor. Dia masuk kamar Nat. Nat sebenarnya sudah bangun tapi mendengar pintu kamar dibuka dia pura-pura tidur lagi. Ryan mendekati Nat, mata Nat bengkak karena menangis. Hati Ryan csangat sedih. Dia tidak mau membangunkan Nat. Dia hanya menatap Nat. Tanpa sadar dia mencium kening Nat. Nat kaget, tetapi dia tetap diam.


"Istirahat ya Nat.." pelan-pelan Ryan membuka pintu dan keluar. Nat membuka matanya. Dia sudah bertekad, hari ini dia akan keluar dari rumah Ryan. Dia gak mau dikasihani. Gak mau menjadi beban orang. Nat bangun dan mengambil tas dan kunci rumahnya. Yang sudah lama dia tinggalkan.


"Bi.. Aku keluar dulu ya"


"Mau kemana Non? Kan masih sakit? Kapan pulang?"


"Mau kerumah saudara Bi, udah baikan kok Bi"


"Terus pulang jam berapa Non?"


"Gak tau bi. Gak bisa janji"


"Kalau den Ryan tanya gimna?"

__ADS_1


"Gak Bi, aku udah bilang sama Ryan." kata Nat berbohong.


"Non di antar Pak soleh?"


"Gak bi, nanti aku dijemput saudara di depan, pergi dulu ya Bi." pamit Nat sambil melangkah keluar.


"Ati-ati Non." kata Bibi. Akhirnya Nat kembali keruamhnya. Ke kamarnya yang lama dia tinggalkan.


Sesampainya Ryan di kantor dia memanggil Fara.


"Ada apa Fara kamu dipanggil?" tanya Mia.


"Aku gak tau Mi, mudah-mudahan bukan karena Nat mengadu"


"Memang kamu sudah berbuat apa?" Fara tidak menjawab. Dengan gemetar dia mengetuk pintu ruang direktur.


"Masuk" suara dingin Ryan terdengar dari dalam. Fara masuk perlahan, diiringi tatapan dingin Ryan.


"Pak Ryan memanggil saya?"


"Iya"


"Ada apa ya Pak" suara Fara bergetar karena takut.


"Apa yang kamu lakukan kemarin?"


"Saya tidak melakukan apa-apa Pak?"


"Saya punya bukti, kalau jamu tidak jujur


saya bisa panggil polisi sekarang" mendengar kata polisi Fara kakinya lemas, dia terduduk.


"Maaf Pak saya khilaf, itu semua karena Nat sudah berani menggoda pak Ryan" suara Fara bergetar karena takut.


"Lalu apa urusan kamu kalau Nat menggodaku?"


"Maaf pak, karena dari awal saya suka pak Ryan, tapi pak Ryan gak pernah melihat saya, sedangkan Nat yang anak baru...." Fara tidak melanjutkan perkataannya.


"Kamu tau siapa Nat?" tanya Ryan. Fara menggeleng. "Dia adalah calon istriku, dan kamu sudah mencelakainya." mendengar itu Fara pucat, dia ingat selama ini dia jahat sama Nat. Dia takut setakut takutnya. Dia tau Ryan orang yang dingin. Dia sudah pasrah.

__ADS_1


"Sekarang ambil gaji kamu dan keluar dari perusahaan ini" kata Ryan dingin. Fara berdiri perlahan dan dengan lemas dia keluar dari kantor Ryan. Dia menyesal karena iri hati sekarang dia hancur. Tapi dia juga menyimpan amarah dengan Nat. Karena Nat dia duusir dari perusahaan.


'Lihat saja nanti Nat, aku akan menghancurkanmu


__ADS_2