
Dua hari Nat berakting marah pada Rey karena wanita itu. Dan itu hari-hari yang bahagia buat dia. Pada hari yang ketiga Rey datang kembali ke rumah Nat. Dia mengancam kalau Nat masih marah akan menghentikan biaya rumah sakit adiknya. Akhirnya Nat mengalah. Karena adik Nat yang sakit Leukimia membutuhkan biaya yang bukan sedikit. Dan Rey yang membiayai pengobatan itu. Itulah alasan kenapa Nat tidak bisa meninggalkan Rey. Walaupun dia tidak bahagia tapi semua demi kesembuhan adiknya. Karena biaya yang dibutuhkan bukan sedikit. Dan penghasilan Nat sebagai penulis tidak seberapa.
"Kamu gak usah marah lagi, cewek itu cuma temen bisnis aku kok." kata Rey.
"Oke... Aku gak marah kok"
"Ya udah jadi besok kita jalan ya"
"Besok kan jadwal Nael kemo, aku mau ke Rumah sakit." Nael sudah berapa bulan tinggal di rumah sakit. Nat sebenarnya ingin menemani setiap hari. Tapi Rey melarangnya. Hanya sekali-kali Nat boleh mengunjungi Nael. Ancaman selalu sam kalau Nat masih datang maka biaya pengobatan akan dihentikan.
"Jadi kamu gak mau jalan sama aku? Malah lebih memilih ke tempat orang sakit?" Rey mulai emosi.
"Tolong Rey, kali ini aja. Aku mau menemani Nael. Hanya aku saudaranya. Aku mau kasih dia semangat".
__ADS_1
" aku kan udah bayar perawat khusus untuk mengurus Nael. Lagi pula kamu juga gak bisa apa-apa disana."
"Tolong ya Rey ijinkan sekali ini saja." Nat mendekati Rey lalu menciumnya. Dia berharap dapat meluluhkan hati Rey.
"Kalau ada maunya aja kamu jadi manis gini ya, oke. Besok kamu boleh menemui Nael. Tp gak boleh lama-lama ya." kata Rey lembut. Kemudian menarik Nat ke dalam pelukannya. Dan menciumnya.
Pagi ini Nat bangun lebih pagi. Dia akan ke Rumah Sakit. Rey tidak bisa mrngantar karena ada meeting di kantor. Nat dengan bahagia menuju Rumah sakit. Akhirnya dia bisa menemui adiknya. Sampai di kamar rawat adiknya dia pelan-pelan membuka pintu. Ternyata adiknya sedang makan. Wajahnya yang pucat seperti tidak ada srmangat. Melihat keadaan adiknya tanpa sadar Nat meneteskan air mata. Tapi dia buru-buru menghapusnya dan mencoba tersenyum. Dia tidak mau Nael melihatnya bersedih.
"Kak Nat.... Kamu datang?" seru Nael. Raut mukanya langsung berubah menjadi sedikit semangat. Nat tersenyum dan mendekati adiknya.
"Mau gimana lagi kak, aku begini. Kak aku ikhlas kok dengan sakit aku. Kakak gak usah sama kak Rey lagi ya. Aku tau kakak gak bahagia." kata Nael lirih. Tangannya memegang tangan Nat erat. Nael sangat tau perasaan Nat. Dia tau kakaknya tidak bahagia. Kakaknya banyak berkorban banyak hal untuknya.
"Kakak gak papa kok Nael... Kamu fokus saja sama pengobatanmu ya."
__ADS_1
"Aku hanya ingin lihat kak Nat bahagia, aku sedih kalau demi aku kakak menderita."
"Kakak bahagia kalau kamu sembuh Nael, kalau kamu menyerah kakak harus gimana lagi, semua yang kakak korbankan akan sia-sia. Kamu satu-satunya keluarga yang kakak miliki" kata Nat terisak. Dia tau adiknyabtidak mau melihat Nat menderita tapi dia juga gak mau kalau sampai adiknya menyerah. Nael menghapus air mata Nat dengan tangannya yang lemah. Dia tidak bisa kakak yang dia sayangi menderita.
"Kak... Aku pasti sembuh. Aku pasti akan membuat kakak bahagia. Tunggu aku sembuh kak" kata Nael. Dia bertekad untuk sembuh agar kakak yang dia sayangi bahagia. Nat sangan senang karena adiknya sudah menemukan semangatnya lagi.
"Kalau kamu sembuh paling juga akan cari pacar, lupa deh sama kakak" kata Nat meledek. Adiknya tertawa lemah. Tapi Nat bahagia dengan itu.
"Nggak lah kak, kakak akan jadi satu-satunya perempuan yang aku sayangi"
"Wah kalau begitu kakak gak mau, kakak mau ketemu juga sama cowok yang cinta kakak dan kakak cintai." kata Nat sambil menjulurkan lidah. Nael tertawa tapi kemudian dia meringis kesakitan.badannya berkeringat menahan sakit. Nat panik.
"Dokter... Dokter.. Tolong adikku dok!" teriak Nat. Satu orang suster masuk kemudian menyuntikan obat pada Nael. Setelah obatnya bekerja Nael kembali tenang.
__ADS_1
"Mbak keluar dulu ya biar Nael istirahat." kata suster itu. Nat masih kaget dia terdiam.
"Kak... Aku gak papa kok. Ini sudah biasa. Kakak gak usah khawatir lagi ya". Nat mengangguk tapi dalam hati dia menangis. Saat keluar dari rumah sakit Nat sudah tidak bisa menahan sedihnya. Dia duduk di taman dekat rumah sakit, menutup wajahnya dengan tangan. Menangis. Melepaskan semua sedihnya. Dia tidak menyangka adiknya sangat menderita seperti itu. Sedangkan dia tidak bisa berbuat apa-apa. Nat tidak bisa membayangkan Nael melwati hari seperti itu. Dengan kesakitan sedangkan dia tidak bisa mendampingi setiap saat. Hal ini menambah kebencian Nat pada Rey. Karena Rey yang melarang Nat menemani Nael. Saat Nat menangis dengan sedihnya ternyata kebetulan Ryan ada di sana. Dia melihat Nat yang sedang menangis. Awalnya dia ingin membiarkannya. Tapi hatinya berkata lain. Akhirnya dia mendekati Nat. Dia duduk disebelah Nat yang terus menangis dengan sedihnya.