
Siang begitu terik, matahari seperti berada di atas kepala sangat tidak bersahabat. Hujan yang entah kapan akan turun sudah sangat dirindukan. Nat baru keluar dari minimarket, karena panas dia memicingka matanya, tangan kanannya ada di dahinya untuk menghindari matahari yang menyilaukan, dia jalan sambil menunduk. tiba-tiba ada seseorang yang menabraknya. Kantong belanjaan yang dia pegang terjatuh. Dan membuat semua berserakan. Dia sedikit mengeluh.
"Aduh maaf maaf. Aku gak sengaja" kata orang yang menabraknya. Dia membantu memungut barang Nat yang berserakan.
"Gak papa kok" kata Nat. Saat berdiri dia melihat orang yang menabraknya. Seorang laki laki berkulit putih, tinggi dan berpakaian rapi. Tampan. Dan cukup membuat Nat terkagum. Nat terpesona pada pandangan pertama. cowok itu tersenyum. senyum yang membuat Nat tersadar dari rasa terpesonanya.
"Hei... Gak papa kan?" kata lelaki itu membuyarkan pikiran Nat. Nat tergugup. dia langsung menunduk.
"Gak.. Gak papa kok" kata Nat sambil tersenyum, lelaki itu membalas senyumnya dan mengangguk kemudian masuk ke dalam minimarket. Saat melihat lelaki itu entah kenapa jantung Nat bedetak kencang. Saat dengan Rey yang secara status sebagai pacar saja, Nat tidak pernah merasa seperti ini. 'Apakah kita akan bertemu lagi?' kata Nat dalam hati. Lamunannya harus berakhir karena telepon dari Rey.
"Nat kamu ada dimana? Kenapa gak ada di rumah? Tau gak aku panas-panas ke rumah kamu malah gak ada orang." kata Rey marah dari ujung telepon.
"Kamu kan gak bilang mau ke rumah. Jadi aku keluar untuk belanja bulanan." kata Nat membela diri.
__ADS_1
"Cepat pulang, atau kamu akan terima akibatnya. Kenapa kamu gak kasih tau aku kalau lagi diluar? Tau begini mending aku di rumah tau gak." kata Rey langsung menutup telepon.
"Datang datang sendiri gak kasih tau sekarang marah-marah. Maksudnya apa si?" gerutu Nat sambil jalan. Sebenarnya dia malas pulang kerumah. Tapi pasti masalah tambah rumit kalau dia menghindar. Samapi dirumah, Nat melihat Rey sedang duduk dengan muka garangnya, membuat Nat gak nyaman. Melihat Nat pulang dia langsung berdiri.
"Lama banget sih, emang jauh banget ya belanjanya? Atau kamu pergi ama cowok lain?" kata Rey marah. Mendengar ocehan Rey, Nat merasa kesal.
"Cukup ya. Kamu datang gak kasih tau sekarang marah-marah. Aku cape tau gak, kamu begini terus. Marah-marah gak jelas. Kalaupun aku pergi sama cowok lain itu lebih baik!" teriak Nat. Dia merasa semua penuh di dadanya.
PLAK!!!
"Berani macam macam dengan laki-laki lain, kamu lihat saja nanti, apa yang terjadi dengan adikmu" ancam Rey.
"Kamu kasar Rey, selalu mengancamku!" teriak Nat.
__ADS_1
PLAK!!! sekali lagi Rey menampar Nat.
"Kamu harus tau diri ya." Kemudian Rey meninggalkan Nat yang menangis sejadinya. Dia merasa hancur, ingin pergi tapi tak mampu.
Malam harinya Rey datang lagi ke rumah Nat. Dia minta maaf karena sudah menampar Nat.
"Maaf Nat, tadi aku terlalu emosi. Kamu juga kan yang buat aku marah. Aku cemburu kalau kamu dekat dengan lelaki lain. Maafin aku ya." kata Rey. Nat diam saja.
" Kamu besok mau beli
apa? Tas, sepatu? Baju? Nanti aku beliin." sambung Rey mencoba mengambil hati Nat.
" gak perlu... Tolong jangan kasar lagi." kata Nat lirih.
__ADS_1
" iya aku janji... " kata Rey sambil memeluk Nat. Tetapi Nat tidak pernah percaya dengan janji Rey. Seringkali dia minta maaf dan berjanji tetapi selalu mengulangi lagi. 'Aku sangat lelah' kata Nat dalam hati.