Rasa Ini

Rasa Ini
kabar baik


__ADS_3

Ryan beberapa kali mencoba menghubungi Nat, tapi gak bisa. Hatinya mulai cemas.


"cewek kamu belum bisa dihubungi kak" kata Rina yang melihat Ryan gak tenang. Ryan hanya mengangguk.


"mungkin dia masih marah sama aku, tapi aku telepon mbok Sum juga katanya Nat gak ada dirumah" kata Ryan seolah berkata pada dirinya sendiri.


"mudah-mudahan gak ada apa-apa kak" kata Rina ikut khawatir. Dia memandang kakaknya ini. Dia baru melihat Ryan sekhawatir ini gara-gara perempuan.


"iya.." kata Ryan, pandangannya menatap keluar jendela. Hujan deras menambah kekhawatirannya.


Tiba-tiba pintu terbuka, ternyata Bob yang datang.


"Ryan, Nat udah pulang?" kata Bob.


"belum" kata Ryan lirih.


"tadi ada yang lihat Nat pergi dibawa orang, aku udah cek cctv, sepertinya itu Joe" kata Bob. Ryan terkejut. Dia semakin cemas.


"kenapa baru kasih tau Bob?"


"aku juga baru tau, sebaiknya kita cepat Ryan. kamu tau kan Joe seperti apa" kata Bob, kemudian mereka semua keluar untuk mencari Nat.


Sementara itu Nat sudah dekat dengan kantor Ryan, dia baru ingat gak membawa uang untuk membayar ongkos taksi. Didepan kantor Ryan dia melihat ada mobil Ryan, ada supirnya juga.


"Pak sebentar ya saya ambil uang dulu, dompet saya ketinggalan" kata Nat pada supir taksi.


"iya mba gak papa" kata supir itu, dia merasa kasihan melihat keadaan Nat.


Nat keluar dari taksi, dia sedang berpikir untuk menemui Mona, atau Ryan? tapi Ryan sudah mengecewakannya. Tapi Nat gak punya pilihan lain.


Saat Nat masih bingung dia melihat dari pintu kaca, Ryan dan Rina sedang berpelukan, bahkan ada Bob disana. Hati Nat kembali sakit, dia gak mungkin masuk ke dalam.


"Non..." tiba-tiba sypir Ryan sudah ada di belakangnya.

__ADS_1


"Eh Pak.. " kata Nat sambil menyeka air matanya. Dia sudah kedinginan karena baju basah semua.


"Non kenapa? kok gak masuk? itu ada Pak Ryan.." kata Pak Min, supir Ryan.


"Gak pak, pak boleh saya minta tolong?"


"kenapa Non" tanya Pak Min.


"Pak Min ada uang gak? boleh saya pinjam dulu? saya mau bayar taksi" kata Nat.


"berapa Non? saya cuma punya 300 ribu" kata Pak Min.


"saya pinjam 200 ribu dulu ya Pak. Ni Pak Min bisa pegang kalung saya, tapi tolong simpan dulu, nanti saya ambil lagi ya Pak" kata Nat memberikan kalungnya.


"gak usah Non, ni uangnya sama kalungnya Non pegang saja" kata Pak Min sambil memberikan uang pada Nat.


"gak papa Pak, tolong simpan, kalau saya gak bisa ambil, tolong kasih ke Nael adik saya" kata Nat memaksa.


"tapi Non,..." saat itu Ryan sudah akan keluar. Nat tanpa menjawab lagi langsung meninggalkan pak Min yang masih bingung dengan kalung yang di pegangnya.


"kenapa Pak Min?" tanya Ryan yang melihat Pak Min.


"eh pak Ryan... tadi itu..."


"cepat pak Min, kita harua buru-buru" kata Ryan langsung masuk mobil tanpa mendengar penjelasan Pak Min.


"Pak min segera masuk mobil dengan kalung Nat ada ditanyannya. saat akan menyalakan mesin mobil, dia menyimpan kalung di saku bajunya, saat itu Ryan melihat kalung itu.


" apa itu Pak?" kata Ryan penasaran.


"oh ini den..." pak Min mengeluarkan kalung Nat dari saku bajunya.


"darimana dapat kalung ini pak?" kata Ryan terkejut, bagaimana bisa kalung Nat ada di Pak Min.

__ADS_1


"itu tadi Non Nat kasih saya Pak, dia pinjam uang sama saya dia bilang mau bayar taksi, tadi dia mau masuk kantor tapi melihat Pak Ryan dan Non Rina berpelukan, dia gak jadi malah nangis pak" kata Pak Min. Ryan merasakan sakit di dadanya. ternyata Nat tadi mencarinya.


"sekarang dia kemana pak?" kata Ryan.


"tadi dia berlari kejalan Pak, kalau dia gak naik taksi mungkin masih dekat, karena kasihan pak, sepertinya Non terluka" mendengar cerita pak Min, Ryan langsung berlari mencoba mencari Nat.


Ternyata taksi yang ditumpangi Nat sudah pergi sebelum Nat sempat membayar. Nat berjalan menjauhi kantor Ryan. Hujan lebat tidak dihiraukannya. Hatinya sakit, saat dia membutuhkan Ryan ternyata dia sedang bermesraan dengan cewek lain. bahkan tidak mencarinya sama sekali. kaki Nat berat, pandangannya mulai kabur. Sebelum Nat terjatuh ada seseorang yang menangkapnya, Nat mencoba melihat orang itu. Diantara derasnya air hujan yang turun, dia melihat orang yang menolongnya.


"Ryan..." kata Nat lirih sebelum pingsan.


"Nat... Nat... bangun Nat" Ryan memeluk Nat ditengah hujan.


"Ryan cepat bawa Nat masuk mobil" Bob ternyata mengejar Ryan dengan mobil, setelah tau Ryan mencari Nat. Ryan menggendong Nat masuk mobil dan membawanya ke rumah sakit.


Melihat Nat terluka, Ryan sangat marah. Marah sama Joe, tapi lebih marah pada dirinya sendiri kenapa membiarkan Nat pergi saat itu.


"Kak, makan dulu... kan kata dokter Nat gak papa, hanya perlu istirahat. lukanya juga gak masalah" kata Rina melihat Ryan terus berada disisi Nat sampai lupa makan.


"harusnya kemarin aku langsung kejar dia kan Run, harusnya dari awal aku kenalin kemu ke Nat sehingga dia gak salah paham" kata Ryan lirih.


"semua sudah terjadi kak, sekarang Kak Ryan jagain aja Nat, tapi jangan lupa jaga kesehatan juga" kata Rina. Ryan mengangguk perlahan. saat Ryan akan berdiri, tiba-tiba Nat tersadar.


"Nat.. Nat..." Ryan memegang tangan Nat.


"Ryan... kamu..." Nat menghentikan kata-katanya saat melihat Rina. Dia menarik tangannya dati genggaman Ryan, tapi Ryan menariknya lagi.


"ini Rina, adikku, dia yang aku percayakan merawat Nael disana" Ryan langsung menjelaskan sebelum Nat salah paham lagi. mendengar itu Nat terkejut, dia merasa sangat kekanak-kanakan karena sudah cemburu gak jelas.


"hai kakak ipar, aku adiknya Si jelek ini" kata Rina sambil tersenyum, Nat tersenyum malu.


"jadi kamu yang jaga Nael disana? bagaimana Nael?" kata Nat. dia langsung memikirkan Nael.


"Nael baik-baik aja kok, kakak ipar tenang aja. mungkin gak lama lagi bisa ketemu" kata Rina, Nat sangat bahagia mendengar itu.

__ADS_1


"aku memang selalu nomor dua" kata Ryan yang merasa di cuekin.


__ADS_2