
Sore hari saat Ryan pulang kerumah, dia langsung menujub kamar Nat. Tetapi Nat gak ada di kamar, dikamar mandi juga gak ada. Dia turun ke bawah mencari ke ruang baca, ke ruang makan sampai dapur, Nat gak ada.
"Bi, dimana Nat?" kata Ryan khawatir.
"Non belum pulang den." bibi menjawab ragu, melihat tuannya yang cemas.
"Dia pergi kemana? Dia kan lagi sakit Bi?"
"Non bilang sudah pamit sama den Ryan. Jadi bibi gak cegah." bibi merasa bersalah sudah membiarkan Nat pergi.
"Dia bilang mau pergi kemana?"
"Kata Non mau kerumah saudaranya"
"Dia gak punya saudara bi di kota ini" Ryan mulai cemas. Bibi ikut cemas. Ryan teringat kunci rumah Nat. Dia berlari kekamar Nat, membuka laci tapi kunci itu gak ada. Yang ada hanya secarik kertas. Dia mengambil dan membaca tulisan di kertas itu.
'Ryan
Terimakasih untuk semua kebaikanmu. Sudah saatnya aku keluar dari rumah kamu. Aku ingin sendiri dulu. Aku akan masuk kerja saat sembuh. Sekali lagi terimakasih banyak. Semua hutangku akan aku bayar.
__ADS_1
Nat.
Ryan *** kertas itu. Ryan berlari keluar, dia masuk ke dalam mobil. Langsung menuju rumah Nat. Dia yakin Nat ada dirumahnya.
Sementara Nat sudah tenang tinggal di kamarnya. Ditempatnya tumbuh dewasa. Baru saja Nat memejamkan mata, dia mendengar namanya dipanggil.
"Nat... Nat... Kamu dirumah Nat" itu suara Ryan. Nat diam membisu. Lebih baik dia gak ketemu sama Ryan dulu. Dia gak mau berharap terlalu banyak. Dia gak mau kecewa. Tapi Ryan tidak putus asa. Dia tetap menunggu Nat membuka pintu. Dia tau Nat di dalam.
Akhirnya Nat memutuskan keluar menemui Ryan. Melihat Nat keluar, Ryan sangat bahagia.
"Nat , kenapa kamu pergi"
"Maaf Ryan, aku lebih baik dirumah sendiri, aku gak mau repotin kamu"
"Tapi aku gak mau Ryan" kata Nat.
"Kenapa?"
"Aku gak mau kamu kasihani!"
__ADS_1
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?"
"Aku dengar semua Ryan. Kamu terhadap aku karena kasihan kan?" Ryan terkejut.
"Kamu dengar dari mana?"
"Aku mendengar sendiri kamu mengatakannya"
"Kamu mendengar aku ngomomg sama Bob?" Nat mengangguk. " apakah kamu mendengar semua?"
"Untuk apa? Toh aku sudah dengar. Sudahlah aku mau istirahat" Kata Nat sambil berbalik masuk rumah. Tapi Ryan menarik tangan Nat, karena sedikit keras sampai kaki Nat menabrak kursi cukuo keras.
"Nat maaf Nat. Aku gak sengaja" Rey merasa bersalah, dia hendak memegang kaki Nat yang terbentur. Tapi Nat dengan cepat menepisnya.
"Cukup! Sebaiknya kamu pergi Ryan" Nat mengusir Ryan. Dia memalingkan wajahnya.
"Oke... Kamu memang keras kepala. Aku gak mau jelasin lagi." kata Ryan berubah menjadi dingin. Namun Nat merasa seperti ini lebih baik. Jadi dia tidak berharap banyak.
"Iya, gak ada yang perlu dijelasin lagi, untuk hutangku dan pengobatan Nael, aku pasti akan membayarnya"
__ADS_1
"Ya.. Kamu harus membayarnya. Kamu ahrus bekerja padaku sampai hutangmu lunas. " kata Ryan sambil berlalu pergi. Nat memandang punggung Ryan. Hatinya sedih. Tapi mungkin ini yang terbaik untuk mereka.
Ryan membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia merasa kesal kenapa Nat tidak mau mendengarkannya