Rasa Ini

Rasa Ini
akhirnya bisa keluar rumah


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu Nat akhirnya datang juga. Hari ini Ryan akan membawa Nat jalan. Dia hanya rindu untuk minum kopi di cafe. Seperti yang sering dia lakukan dulu. Dia kangen dengab cappucino kesukaannya.


"Nat kamu bahagia banget hari ini" kata mbok Sum ikut senang melihat senyum Nat dari pagi.


"Iya donk mbok, hari ini akhirnya bisa keluar setelah sekian lama" kata Nat sambil memeluk mbok Sum. Tinggal bersama dalam waktu beberapa lama membuat mereka dekat.


"Syukurlah Nat. Akhirnya ya semua bisa berjalan dengan baik." kata mbok Sum.


"Kamu sudah siap Nat. Kita mau jalan sekarang?" kata Ryan yanv baru datang. Karena dia harus mengurus sesuatu dulu di kantor.


"Udah donk. Udah tunggu dari tadi malah" kata Nat.


"Tadi aku ada urusan dulu di kantor jadi baru bisa kesini, mau jalan sekarang?" Nat mengangguk kemudian melihat ke arah mbok Sum.


"Mbok Sum mau ikut?" kata Nat. Mbok Sum langsung menggeleng mendengar tawaran Nat.


"Gak lah... Biar Den Ryan sama Nat aja yang jalan. Mbok mah udah tua atuh" kata mbok Sum.


"Ditinggal gak papa mbok?" kata Nat lagi.


"Gak papa kok, udah jalan sana sekarang." kata mbok Sum. Akhirnya Nat dan Ryan pamit keluar.


Dalam perjalanan senyum Nat gak pernah lepas dari bibirnya. Ryan uang melihatnya ikut senang.


"Aku seneng deh lihat kamu hari ini" kata Ryan.


"Berarti biasanya gak seneng donk"


"Seneng lah... Cuma hari ini melihat kamu senyum terus itu jadi lebih cantik," kata Ryan menggoda. Nat tertawa. Dia heran juga sekarang Ryan lebih pandai merayu dan memuji.


"Kamu sekarang pinter ngomong ya..." Nat mencubit lengan Ryan. Ryan tertawa.


"Aww sakit Nat. Dendam banget kayaknya cubitannya" kat Ryan bercanda.


Satelah sampai di cafe ternyata sudah ada Vino dan Bob disana. Mereka sedang asyik berbincang sambil tertawa.

__ADS_1


"Wah seru amat lago pada cerita apa si?" kata Ryan setelah mendekat. Kemudian mrngajak Nat duduk bergabung dengan mereka.


"Ah kamu ni mau tau aja. Hai cantik" kata Vino sambil tersenyum ke arah Nat.


"Mendingan kamu cari istri deh Vin, dari pada gangguin Nat terus" kata Ryan .


"Aduuuhh... Pusing kalau udah ada istri ntar gak bisa ngumpul-ngumpul gini sama kalian. Yang ada di teleponin mulu suruh balik" kata Vino sambil tertawa.


"Gak lah.. Nanti kalau aku dan Nat sudah menikah kita masih tetap bisa ngumpul kok" kata Ryan. Ucapan Ryan membuat wajah Nat memerah. Menikah? Apakah Ryan serius? Tanya Nat dalam hati.


"Emang Nat mau? Siapa tau suatu hari dia berpindah hati jadinya sama aku?" kata Vino.


"Berani kamu?" kata Ryan sambil mengepalkan tangannya. Bob tertawa melihat mereka.


Dari jauh ternyata Rey mengikuti Ryan dan Nat. Dia duduk di salah satu sudut. Memakai pakaian tertutup dan memakai masker. Dia duduk membelakangi Ryan dan teman-temannya. Tapi dia bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Eh Vin, Bela gimana?" kaat Ryan mengalihkan pembicaraan.


" udah beres... Aku ada suruh orang mengantarnya. Dan aku bilang kalianela selalu diawasi. Jangan sampai dia kabur" kata Vino.


"Kenapa kamu gak masukin dia ke penjara aja Ryan. Takutnya dia akan krmbali berulah lagi. Kamu tau kan dia gak akan pernah menyerah." kata Bob.


"Aku ada alasannya Bob kenapa hanya meminta dia pergi dari sini. Aku masih menghargai orang tuanya" kata Ryan.


"Yah memang benar kamu. Tapi kan kita juga harus memikirkan ke depannya" kata Bob.


"Sudahlah Bob, kalau dia melakukan hal jahat lagi kita masih pegang bukti kejahatannya." kata Ryan.


"Baiklah terserah bos aja" kata Bob akhirnya. Nat dari tadi hanya menyimak percakapan mereka. Tiba-tiba matanya melihat seseorang yang sangat dia kenal. Dia berjalan mendekati orang itu dengan hati-hati.


"Rey.." kata Nat setelah dekat. Rey terkejut karena dia ketahuan. Tanpa pikir panjang dia mendorong Nat kemudian berlari keluar. Nat jatuh karena dorongan Rey. Ryan, Bob, dan Vino terkejut. Melihat Nat jatuh Ryan langsung membantunya, sedangkan Vino dan Bob berlari mnegejar Rey.


"Kamu gak papa Nat?" kata Ryan sambil membantu Nat berdiri.


"Tadi siapa orang itu Nat?"

__ADS_1


"Itu Rey. Dari tadi dia duduk disini dan mendengarkan pembicaraan kalian" kata Nat kemudian dia dusuk di kursi. Orang-orang yang ada di cafe melihat kearah mereka.


Gak lama kemudian Vino dan Bob kembali. Dengan kelelahan karena berlari. Bob langsung meminum air yang ada dimeja.


"Gila.. Kenceng banget dia lari. Gak kekejar" kata Vino terengah-engah. Dia langsung menjatuhkan dirinya di sofa.


"Rey memang jago lari." kata Nat spontan. Ryan cemberut gak suka kalau Nat memuji Rey.


"Oh jadi tadi itu Rey." kata Bob.


" Kamu masih ingat dia ya?" kata Ryan pada Nat, dia cemburu. Bob dan Vino tersenyum geli.


"Ya kan aku cuma kasih tau, Rey itu jago lari." kata Nat serba salah.


"Ada yang cemburu kayaknya" kata Vino.


"Udah donk jangan marah, gak enak banget tadi udah seneng jalan, sekarang malah gini" kata Nat sambil menunduk membuat Ryan merasa bersalah.


"Ya udah tapi kamu jangan puji-puji orang itu lagi ya." kata Ryan.


"Oke" Nat memjawab sambil tersenyum.


Rey berhasil berlari melepaskan diri. Dia berjalan ke arah mobilnya yang sengaja di parkir sedikit jauh dari cafe Ryan.


"Untung aku bisa kabur, kalau sampai tertangkap abis aku ama mereka. Dasar Nat brengsek! Bisa bisanya dia masih kenalin aku. Lihat aja gak lama lagi dia yang aku habisi" kata Rey bicara sendiri. Tiba-tiba handphonenya berbunyi. Ternyata Bela yang menghubunginya.


"Rey.. Kamu lagi dimana?" kata Bela di telepon.


"Aku lagi di dekat cafe Ryan. Aku tadi mengikuti mereka kesini. Ada Nat juga" kata Rey. Mendengar nama Nat, Bela marah.


"Jadi kamu udah ketemu sama cewek brengsek itu??"


"Iya Bel, gara-gara dia juga tadi aku ketahuan. Untung aku bisa kabur." kata Rey.


"Memang itu cewek bawa sial! Sekarang aku gak bisa apa-apa karena orang Rey selalu mengawasiku. Kamu nanti urus Nat. Aku akan kirim orang kepercayaanku untuk membantumu. Ingat kamu harus menghabisi cewek sialan itu" kata Bela kemudian dia menutup teleponnya.

__ADS_1


__ADS_2