
Sudah 1 jam Nat ditangani dokter. Ryan menunggu dengan cemas. Kaki Nat terinfeksi bakteri yang membuatnya demam. Kata dokter bisa saja kakinya diamputasi. Ryam duduk diruang tinggu ditemani Bob. Gak lama Vino datang.
"Ryan.. Gimana keadaan Nat?" kata Vino setelah mendekat.
"Nat udah diangani dokter. Doakan saja semua baik-baik saja"
"Tadi di telepon kamu bilang Nat ditolong oleh mbok Sumi? Kamu gak salah orang kan?" kata Vino penasaran karena selama ini dia mrncari keberadaan mbok Sumi tapi gak tau jejaknya. Sekarang tanoa sengaja ternyata Ryan menemukannya.
"Iya bener. Mbok Sum juga masih kenal aku" kata Ryan yakin.
"Kalau mbok Sumi udah ketemu berarti kasus kakek asti sebentar lagi terungkap. Kita harus cepat cari informasi dari mbok Sum" kata Vino.
"Sebaiknya tetap rahasiakan keberadaanbok Sumi. Jangan sampai dikacaukan lagi dan kita gak dapat apa-apa" kata Ryan. Vino mengangguk tanda setuju
Sementara itu di rumah Bela sedang ada Rey.
"Bagaimana? Apakah ada kabar tentang Ryan?" tanya Rey pada Bela. Bela mengambil minumannya dan meneguknya.
"Aku dengar tadi sore Ryan da Bob buru-buru keluar kantor, entah kemana. Atau mungkin Nat sudah ketemu?" kata Bela.
"Gak mungkin Bel, aku sendiri yang melihat mobilnya jatuh ke sungai srtelah tertabrak hebat. Kalaupun ketemubpasti dia mati, apalagi sudah berapa hari" kata Rey yakin. Karena dia ikut mengejar mobil Nat waktu itu
"Bukankah Nat itu mantan pacar kamu, kenapa sepertinya kamu gak peduli dengan nyawanya"
__ADS_1
"Aku memang dulu pernah suka Bel, tapi sekarang aku lebih benci dia. Ryan menendang aku ke luar negeri hnya karena Bela. Kalau bukan karena kamu mungkin entah apa yang bisa aku lakukan" Bela merasa tinggi mendengar kata Rey. Dia yakin sekarang Rey akan menuruti perintahnya.
"Kalau begitu kita rayakan kemenangan kita yang sudah di depan mata" kata Bela mengangkat gelas minumnya.
"Lihat saja Ryan sebentar lagi kamu akan menderita" kata Ryan penuh dengan dendam.
Di rumah sakit
Seetelah 2 jam akhirnya dokter yang merawat Nat keluar. Ryan langsung mendekatinya.
"Dok, bagaimana keadaan Nat?"
"Syukurlah pak Ryan membawanya tepat waktu, kalau sedikit lagi terlambat maka pasien gak akan selamat. Mas kritisnya sudah lewat dan sekarang pasien sedang beristirahat" kata dokter menjelaskan. Ryan dan dua sahabatnya menarik nafas lega. Mereka senang kalau Nat baik-baik saja. Tentu saja disini yang lebih bahagia Ryan.
"Apakah Nat sudah bisa dilihat Dok?"
"Bob, besok kamu mengurus urusan kantor, Vino nanti aku kasih alamat mbok Sum dan kamu tau kan apa yang harus kamu lakukan" kata Ryan. Vino dan Bob mengangguk mengerti. Kemudian mereka pulang. Karena mereka tau, Ryan pasti ingin menemani Nat.
Ryan masuk ke kamar perawatan Nat. Dengan sangat pelan Ryan membuka pintu. Dia mendekati ranjang. Dia melihat Nat terbaring lemah disana. Dia baru sadar ada beberapa luka lecet dan memar di wajah dan tanga Nat.
Ryan menatapnya dengan sedih. Hatinya skit seperti tertusuk pisau. Dalam hatinya bergumul, apakah dia akan melepaskan Nat ayau mempertahankannya. Dia sadar kalau dia terus memaksa Nat disampingnya, Nat akan terus dicelakai orang tapi kalau dia melepaskannya apakah dia sanggup. Apakah Nat akan memaafkannya.
Keesokan harinya, setelah makan siang, Ryan kembali ke kantor. Bob yang mrlihatnya heran, karena dia tau Ryan sedang menjaga Nat.
__ADS_1
"Kamu ke kantor siapa yang jaga Nat? Dia sudah sadar?" kata Bob.
"Belum. Aku sudah menitipkan Ryan sama suster. Nanti saat Nat sadar mereka menghubungiku. Aku ke kantor karena aku gak mau musuh kita curiga, jangan sampai mereka tau kalau Nat sudah ditemukan selamat" kata Ryan. Bob mengangguk setuju.
Tiba-tiba pintu terbuka. Bela masuk dengab senyum jahatnya. Melihat je meja Nat masih kosong dia tersenyum puas.
"Wah... Kemana perginya pelakor itu?" kata Bela berpura-pura
"Bukan urusanmu" kata Ryan dingin.
"Aduh sayang jangan ketus-ketus gitu donk. Kalau kamu sedih karena ditinggal wanita itu, kan kamu bisa ke tempat aku, aku siap menemani kamu siang malam" kata Bela sambil memeluk manja Ryan. Ryan mendorongnya dan menjauh.
"Mau apa kamu kesini?" kata Ryan lagi.
"Ooo iya. Ku hanya mau kasih tau kamu kalau bulan depan adalah tanggal pertunangan kita. Jadi kapan kamu temenin aku cari baju sayang. Aku harus tampil lebih cantik di hari itu" kata Bela. Bela membuat Ryan sakit kepala.
"Diundur aja acaranya" kata Ryan.
"Kenapa? Ini kan amanat Kakek. Kalau gak kamu akan jadi gembel. Mau?" kata Bela tersenyum licik.
"Terserah kamu saja, aku banyak urusan. Sebaiknya kamu pulang" kata Ryan mengusir Bela.
"Oke... Aku juga ada yang harus dikerjakan. Salam yah buat pelakor kalau ketemu, kalau masih hidup itu juga" kaya Bela sambil keluar.
__ADS_1
"Benar-benar wanita yang menakutkan. Bagaimana dengan pertunanganmu Ryan?" kata Bob. Ryan tampak sedang berpikir.
"Kita hanya bisa berharap sebelum hari itu tiba, Vino sudah mrndapatkan bukti yang sebenarnya atas kematian kakek" kata Ryan. Srkarang dia hanya bisa mengharapkan Vino menemukan sesuatu dari mbok Sum