
Sejak Bela menabuh genderang perang pada Nat. Sepertinya ada saja hal-hal yang secara kebetulan menyusahkan hidup Nat. Seperti pagi ini, tiba-tiba dokumen yanh sudah Nat siapkan hilang. Nat mencari kemana-mana tapi belum menemukan juga.
"Memang kamu taruh dimana Nat? Kamu kan tau itu dokumen penting dan kita pakai hari ini" kata Ryan sedikit menyalahkan Nat.
"Aku tau, aku juga udah simpan semua file disini, kan semalam kamu juga liat sendiri aku simpan tapi gak ada" kata Nat. Sambil tetap mencari-cari. Semua file dia bongkar dan buka tetapi gak ada. Nat sampai hampir menangis karena merasa bersalah menghilangkan dokumen yang sangat penting itu.
"Kamu yakin gak bawa pulang ke rumah?" tanya Ryan lagi.
"Iya ku yakin. Aku gak pernah bawa dokumen ke rumah. Aku jelas-jelas ingat aku taruh disini" kata Nat sedikit putus asa.
"Ya udah pelan-pelan aja carinya. " kata Ryan. Walaupun dia juga pusing mencari.
"Yuhuuuu ada pahlawan datang" tiba-tiba Vino masuk dengan gaya seorang pahlawan kesiangan. Ryan dan Nat melihatnya dengan tatapan heran.
"Kalian pasti sedang mencari ini kan?" kata Vino sambil menunjukan dokumen yang dia pegang. Ryan merebut dokumen itu dan melihatnya. Itu memang dokumen yang sedang mereka cari-cari.
"Kenapa bisa sama kamu?" tanya Nat penasaran.
"Ceritanya panjang kalau mau tau cium aku dulu" kata Vino sambil mendekatkan pipinya pada Nat. Dengan cepat Ryan mendorong wajah Vino dengan tangannya.
"Kalau mau cerita ya cerita aja. Ngapain minta cium-cium segala" kata Ryan sambil mengambil tempatbdi antara Vino dan Nat.
"Dikit aja gak boleh" kata Vino. Nat tersenyum melihat tingkah mereka.
"Jadi gimana ceritanya" kata Nat penasaran.
"Jadi tadi tuh pas aku baru masuk, aku lihat salah satu OB ada bawa sampah kertas dia mau buang, dan aku enasaran donk lihat ada ini. Aku ambil lah pas aku lihat ternyata dokumen kerjasama kita dengan perusahaan RH." Vino menjelaskan.
"Kamu tau gak OB itu ambil file dimana?"
__ADS_1
"Dia sih bilangnya dia ambil di di tong sampah." kata Vino lagi.
"Periksa cctv. Aku mau tau siapa yang berbuat begini" kata Ryan pada Vino.
"Siap Bos. Ayo Nat temenin aku" kata Vino sambil mengulurkan tangannya sama Nat.
"Kerjakan sendiri. Nat hari ini temanin aku rapat. Bahaya kalau dekat-dekat sama buaya" kata Ryan sambil memukul tangan Vino.
"Bukan makasih malah dapat begini. Lihat kan Nat sifat Ryan." Nat hanya tersenyum.
"Udah jangan banyak omong. Ayuk Nat kita pergi" kata Ryan sambil menggandeng tangan Nat.
"Duluan ya Vin" kata Nat ada Vino.
"Iya sayang. Hati hati hati ya" jawab Vino, Ryan langsung melotot ke arah Vino mendengar kata 'sayang' Vino untuk Nat. Vino pura-pura gak lihat.
Akhirnya Nat ikut Ryan meeting dengan perusahaan RH. Perusahaan besar yang ada di kota ini. Dan ini adalah pertemuan yang sangat penting karena membicarakan kerjasama dua perusahaan besar. Nat mendapatkan sisi yang lain dalam diri Ryan. Saat Ryan meeting dia bersikap seperti seorang yang berwibawa, serius, fokus, dan sangat tampan dimata Nat. Bicaranya tegas dan tidak bertele-tele. Membuat orang percaya kepadanya.
"Lelah ya?" kata Nat sambil memegang tangan Ryan. Ryan melihatnyabdn tersenyum.
"Ada kamu aku gak akan lelah. Makasih ya udah mau nemenin. Tapi kenapa dari tadi lamu liatin aku sambil senyum-senyum si. Ada yang salah ya di wajahku" kata Ryan.
"Iya ada." jawab Nat tersenyum.
"Apa?"
"Salahnya kamu terlalu tampan" kata Nat. Mendengar itu Ryam memerah wajahnya. Dia tersenyum senang.
"Akhirnya kamu mengakui ya kalau aku tampan" Nat tertawa. Mereka bahagia akhirnya semua berjalan lancar. Walaupun ada pihak-pihak yang mencoba menghancurkan mereka.
__ADS_1
Saat kembali ke kantor Vino sudah menunggu mereka. Dihadapannya ada seorang karyawan yang ketakutan.
"Ada apa ini Vin" tanya Ryan mendekati mereka diikuti oleh Nat.
"Sesuai perintahmu aku sudah periksa cctv dan ternyata orang ini yang mencuri dan membuang dokumen itu."
"Maaf pak Ryan. Saya terpaksa melakukannya" kata orang itu ketakutan.
"Kenapa kamu lakukan itu? Siapa yang memerintahkanmu melakukannya?" kata Ryan mencoba tenang. Dia tau seorang karyawan kecil gak akan tau dokumen mana yang penting.
"Saya takut pak, kalau saya kasih tau anak istri saya akan celaka. Mereka mengancam saya pak" kata orang itu gemetar.
"Siapa yang mengancam?" tanya Vino.
"Itu dia bilang istri pak Ryan" kata orang itu memberitahu.
"Bela" kata Ryan, Vino, dan Nat bersamaan.
"Maafkan saya pak, saya terpaksa."
"Apa Bela ada kasih duit sama kamu?" tanya Ryan lagi menyelidiki lebih jauh.
"Tadinya saya ditawari uang pak, tapi saya gak mau malah anak istei saya uang diancam. Sekarang mereka ada di rumah pak. Ada orang yang bersama mereka. Tolong anak istri saya pak" kata orang itu lagi sambil menangis.
"Sepertinya Bela gak main main. Vino kamu hubungin Bob, bawa orang kita kesana dan bantu dia selamatkan anak istrinya." Vino mengangguk dan langsung menghubungi Bob.
"Kamu mulai besok aku pindahkan ke kantor cabang di luar kota. Jangan ke kota ini sebelum aku perintahkan. Mengerti?" kata Ryan pada karyawannya itu.
"Baik pak, terimakasih" akhirnya orang itu pulang bersama Bob untuk melepaskan keluarganya dari tangan Bela.
__ADS_1
"Ternyata Bela sangat berbahaya ya Ryan" kata Nat yang dari tadi diam saja. Dia gak nyangka Bela bisa melakukan hal-hal semacam itu.
"Iya... Tapi kamu gak usah takut. Kan kamu ada disampingku terus. Pasti aman" kata Ryan memeluk Nat. Nat mengangguk yakin. Dia percaya Ryan akan melindunginya