Rasa Ini

Rasa Ini
persahabatan


__ADS_3

Hari ini Nat sangat sibuk. Banyak yang harus dia kerjakan. Sebelum makan siang dia harus menyelesaikan banyak dokumen. Sedangkan Ryan belum datang karena harus bertemu klien dari pagi hari.


Saat Nat membawa dokumen dari bagian personalia tiba-tiba dia bertabrakan dengan seseorang semua dokumen jatuh berserakan. Nat yang memang dari tadi sibuk merasa kesal. Dengan kesal dia mengambil dan merapikan dokumen yang berserakan.


"Aduh... Kalau jalan lihat-lihat donk. Gak tau orang lagi sibuk apa?" kata Nat sambil terus merapikan dokumen. Tanpa melihat orang yang berdiri didepannya.


Saat Nat berdiri dan melihat orang itu dia terkejut. Karena cowok yang berpakaian rapi didepannya seperti gak asing buat dia. Dia melihat beberapa saat sampai dia teringat kalau orang itu yang menolongnya waktu dia diserang orang di halte.


"Kamu.." kata Nat dan cowok itu bersamaan. Kemudian mereka tertawa.


"Ternyata kamu ya, gimana tangan kamu? Sudah sembuh?" tanya cowok itu dengan lembut.


"Sudah kok, cuma luka kecil. Tapi makasih ya... Waktu itu udah nolongin aku" kata Nat. Cowok itu tersenyum.


"Oh ya kita belum kenalan.. Kenalkan namaku Vino" kata Vino sambil mengulurkan tangannya. Nat membalas uluran tangannya.


"Aku Nat"


"Siapa?" kata Vino sambil mendekatkan telinganya ke wajah Nat. Nat agak mundur kebelakang. Tapi belum semat Nat menyebutkan namanya lagi tiba-tiba ada tangan yang mendorong wajah Vino dari Nat.


"Kamu tuh tuli ya" ternyata Ryan yang datang. Dengan cepat tangannya melepaskan jabat tangan Vino dari Nat.


"Kamu ganggu aja Ryan" kata Vino kesal.


"Kamu belum berubah ya Vin, masih saja playboy seperti dulu" kata Ryan. Nat tersenyum, dia sekarang tau kalau Vino itu temen Ryan juga.


"Bukan aku playboy tapi setiap cewek yang melihatku otomatis langsung jatuh cinta, emang kamu tampang oke, duit banyak apa aja punya. Tapi cewek gak ada. Ah gak asyik" kata Vino membalas Ryan.

__ADS_1


Tiba-tiba Ryan merangkul pundak Nat.


"Sayang jangan dekat-dekat buaya ya, nanti kamu dimakan" kata Ryan. Nat mengangguk sambil tertawa. Vino terkejut.


"Jadi Nat ini, pacar kamu?" tanya Vino gak percaya. Ryan mengangguk.


"Iya... Jadi jangan coba-coba godain dia" kata Ryan mengancam.


"Yaaahhh aku patah hati deh" kata Vino memasang muka lesu.


"Sayang, tolong buatin aku kopi ya" kata Ryan sama Nat.


"Oke, tapi setelah aku taruh dokumen ini ya" kata Nat sambil menunjukkan dokumen yag dipegangnya.


"Itu sama aku aja" kata Ryan mengambil dokumen itu dari tangan Nat.


"Aku ikut Nat" kata Vino tiba-tiba.


"Nat aku mau kopi juga" teriak Vino, dia pasrah di tarik Ryan.


"Minta OB bikinin" kata Ryan melarang. Nat tersenyum melihat tingkah dua sahabat itu. Memang kita bisa menjadi diri kita yang sebenarnya saat bersama sahabat kita.


Selama ini Ryan di depan orang-orang bersikap sangat dingin. Sehingga orang lain sering sungkan terhadapnya. Tetapi sebenarnya di depan sahabatnya Ryan bisa jadi seperti anak kecil. Tidak perlu bertingkah kuat atau tangguh. Cukup menjadi diri sendiri.


"Bagaimana dengan tugas yang aku berikan, sudah ada kemajuan?" kata Ryan serius setelah beradandi dalam ruangannya.


Vino yang duduk dihadapannya pun tampak serius.

__ADS_1


"Aku udah menyelidiki semuanya. Tapi aku masih harus menelitinya lebih jauh. Karena untuk kasus ini ditutupi sangat rapi. Jdi sementara waktu kamu harus menahan Bela disini. Jangan samai dia tau kalau kit curiga" kata Vino. Ryan mengangguk-angguk. Saat itu Nat masuk ke dalam. Dia meletakan kopi di depan Ryan.


"Punya aku mana?" kata Vino.


"Maaf tapi Ryan gak suka buat kopi untuk orang lain" kata Nat gak enak hati.


"Tapi kan aku bukan orang lain. Aku penolongmu" kata Vino.


"Penolong?" kata Ryan bingung.


"Oh iya... Dia itu yang menolongku waktu itu. Waktu aku diserang orang" kata Nat menjelaskan.


"Kamu payah Ryan. Katanya acar kamu tapi kamu biarin dia dalam bahaya. Sama aku aja Nat, aku pasti setiap saat ada buat kamu" kata Vino menggoda. Ryan menatap garang ke arah Vino.


"Kamu ngerayu Nat lagi liat aja ya. Gak akan bisa jadi laki-laki lagi" kata Ryan mengancam. Vino tertawa melihat reaksi sahabatnya itu.


"Wah udah ada ngumpul yaa" Bob tiba-tiba membuka pintu.


Nat kembali ke meja kerjanya. Dia memperhatikan tiga sahabat ini. Terkadang mereka serius saat membicarakn bisnis. Kadang juga mereka tertawa. Mengejek satu sama lain tetapi terlihat mereka sling mendukung. Nat melihatnsisi lain dari Ryan. Bersama mereka Ryan terlihat lrbih santai, lebih kekanakan seakan bukan seorang bos besar yang harus memasang wajah dingin dan angkuh setiap hari.


"Nat ikut kita makan yuk" panggilan Ryan membuyarkan lamunan Nat.


"Oke... Tapi aku beresin meja dulu ya" kata Nat. Ryan mengangguk sambil membantu Nat membereskan meja Nat.


Bob dan Vino yang melihat itu tersenyum.


"Sepertinya Ryan benar-benar menyukai Nat" kata Vino pada Bob.

__ADS_1


"Kamu gak akan percaya apa yang Ryan lakukan buat Nat, tapi dia terlalu cemburuan. Aku pernah dibuatkan kopi sama Nat tapi Ryan marah-marah" kata Bob, Vino terkejut.


"Ternyata bukan cuma aku ya, aku tadi minta kopi sama Nat juga gak boleh" mereka saling pandang kemudian tertawa. Menertawakan keluguan Ryan


__ADS_2