
"Nat... Kamu takut?" kata Ryan. Dia menggenggam tangan Nat. Nat menatapnya cukup lama. Mungkin Nat sedang berpikir. Apa yang dia rasakan saat ini. Apakah takut karena trauma akibat perlakuan kasar Rey dulu, atau dia merasa kecewa akan kehidupannya dulu, kehilangan semua yang dia miliki. Semua yang dia sayangi harus menderita. Atau dia menyimpan rasa dendam yang membuatnya gak tenang.
Nat menatap Rey, lelaki yang memegang erat tangannya ini tersenyum. Membuat Nat merasa hangat , merasa kuat, merasa ada harapan untuk hidup yang lebih baik. Walaupun akan banyak kesulitan, masalah, rintangan yang akan dia hadapi. Tapi dengan menggenggam tangan Ryan dia yakin dia akan menemukan jalan kebahagiaannya. Nat tersenyum. Sekarang dia yakin dia gak takut apapun.
"Apakah kamu akan membiarkanku takut? Aku gak takut Ryan. Karena ku percaya kamu akan terus memegang tanganku. Memberikanku keberanian" kata Nat tersenyum. Dengan yakin dia percaya pada Ryan. Ryan tersenyum lalu memeluknya dengan erat.
"Aku janji Nat, aku akan selalu memegang tanganmu. Gak peduli itu Rey, Bela atau siapapun yang mencoba merusak kebahagiaan kita, akan kita hadapi bersama." Ryan mencium kening Nat lembut.
"Oouuu oouuu kayaknya aku datang disaat yang kurang tepat ni" kata Vino tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. Bob berjalan di belakangnya sambil tersenyum. Membuat Nat malu. Dan segera melepaskan diri dari pelukan Ryan.
"Gak usah malu Nat, kita udah biasa kok" kata Bob menggoda Nat. Nat buru-buru berlari ke arah mejanya.
"Ryan tadi di pintu masuk kita ketemu sama Bela, dia bareng sama Rey" kata Bob ada Ryan.
"Iya tadi Nat juga sempat bertemu mereka. Bahkan Rey mau memukul Nat tadinuntung aku datang" katanRyan menjelaskan. Vino dan Bob melihat ke arah Nat. Tapi Nat pura-pura sibuk walaupun sebenarnya dia sedang mencuri dengar pembicaraan mereka.
"Jadi gimana Nat?" kata Bob yang tau tentang trauma Nat.
"Tenang saja. Nat sudah biasa kok. Dia gak takut lagi, kan ada aku yang siap memeluknya" kata Ryan sambil tersenyum. Nat yang mendengar salah tingkah, dia menjatuhkan pena yang dia pegang. Semua melihat ke arahnya. Vino mendekati Nat.
"Aku juga mau donk Nat peluk kamu kalau kamu lagi takut" kata Vino mendekati Nat sambil merentangkan tangannya. Tapi belum sampai dia mendekati Nat, Ryan sudah menarik bajunya.
"Hmmm kebiasaan Vino cari penyakit sendiri" kata Bob sambil tertawa.
__ADS_1
"Berani kamu mendekati Nat, sekarang juga aku kirim kamu kepedalaman kalimantan" kata Ryan. Vino terkekeh karena sebenarnya dia hanya ingin menggoda Ryan saja.
"Ampun bos" kata Vino.
Melihat persahabatan mereka Nat tersenyum. Setidaknya Ryan memiliki orang-orang yang tulus mendukungnya. Mereka bersahabat sejak kecil. Merka selalu mendukung satu sama lain dalam segala hal. Kesusahan satu orang adalah kesusahan mereka semua. Persahabatan yang manis.
Sore ini saat pulang kerja Nat mengajak Ryan untuk membeli baju, karena akan ada pesta yang diadakan perusahaan. Dan Ryan ingin Nat terlihat lebih cantik untuk acara itu. Ryan membawa Nat ke sebuah butik.
Saatelihat harga baju di butik itu mata Nat terbelalak. Setiap baju harganya selalau lebih dari tujuh digit. Sangat mahal bagi Nat. Bahkan Nat gak berani memegang baju-baju disana.
"Kamu pilih aja yang kamu suka Nat" kata Ryan.
"Tapi terlalu mahal Ryan. Aku gak berani" kata Nat berbisik.
"Apa kamu pikir aku gak sanggup beli baju ini?" kata Ryan mendekatkan wajahnya ke wajah Nat. Sehingga jarak mereka sangat dekat. Muka Nat memerah, dia mundur menjaga jarak. Karena jantungnya dag dig dug jika Ryan terlalu dekat.
"Hey tuan putri, kamu itu calon istri bos besar bukankah lebih memalukan kalau aku gak belikan kamu baju yang bagus? Dan lagi kamu sangat pantas memakainya. Atau aku aja yang memilihnya ya" kata Ryan kemudian dia memanggil manager butik dan memintanya membawakan baju terbaru. Dan memintanya untuk melayani Nat.
Saat manager butik mengambil baju ke dalam, Ryan izin untuk menjawab telepon. Nat masih melihat-lihat baju-baju itu. Dia berpikir kalau papanya masih hidup mungkin juga sekarang dia bisa membeli salah satu baju ini. Papanya mati saay perusahaan sedang berkembang. Nat menarik nafas panjang.
"Wah wah ternyata sedang apa kamu disini?" tiba tiba Rey sudah berdiri di belkang Nat. Nat memutar badannya dia menatap Rey tajam, kali ini dia gak takut.
"Kenapa? Masalah buat kamu?" kata Nat. Rey mendekatinya.
__ADS_1
"Baju-baju disini sangat mahal, kamu gak mungkin bisa membelinya. Atau kamu sudah menjadi simpanan om-om?" mendengar hinaan Rey kuping Nat panas. Dia ingin marah tapi dia menahannya.
"Bisa atau gak aku beli baju disini sama sekali bukan urusanmu" kata Nat tetap tenang.
"Siapa ini Rey?" kata seorang wanita. Dia mendekati Rey dan memeluknya.
"Dia ini dulu mantan aku, dia sudah miskin tapi dia mimpi untuk membeli baju disini" kata Rey, wanita itu memandangnya kemudian tersenyum sinis.
Ryan sebenarnya sudah kembali ketempat itu. Dia bersembunyi di dekat rak-rak baju di belakang tempat Nat berdiri. Ryan sengaja membiarkan Nat mencoba mengahadapi Rey, agar Nat tidak takut lagi kedepannya.
"Jadi begini mantan kamu, ya ampun enggak banget si, kok kamu dulu mau si sama cewek begini" kata cewek itu smbil terua menempel Rey, dan tangannya mengelus pipi Rey. Membuat Nat jijik.
"Dulu dia rayu-rayu aku, aku kasihan sama dia. Cewek gak laku" kata Rey, cewek itu tertawa sambil mengejek Nat.
Ryan keluar dari tempatnya berdiri. Dia memeluk pinggang Nat. Mengecup kepalanya.
"Sayang sudah pilih bajunya?" kata Ryan lembut. Melihat ada Ryan disitu Rey diam, terlihat dia gak berani bersuara di depan Ryan. Sedangkan cewek yang bersamanya melihat Ryan dia terkejut.
"Kamu Ryan kan bos besar NR grup, wah ternyata kamu ganteng banget" kata cewek itu merayu Ryan. Dia akan menyentuh tangan Ryan tapi Ryan menepisnya dengan kasar.
"Kotor!" kata Ryan. Ryan menatap tajam ke arah wanita itu sampai dia gak berani melangkah lagi.
"Jangan berani mengganggu Nat lagi" kata Ryan pada Rey. Kemudian dia memanggil manager butik dan memintanya untuk mengirimkan baju ke rumahnya.
__ADS_1
Rey merasa harga dirinya diinjak-injak. Dengan marah dia menatap Ryan dan Nat yang meninggalkan butik. Dia tau sekarang dia kalah kuat melawan Ryan, tapi dia punya dukungan Bela. Dia merencanakan akan bekerjasama dengan Bela untuk menghancurkan Ryan dan membalas perlakuan Nat. Dengan kesal dia keluar butik meninggalkan cewek yang bersamanya.
"Rey mau kemana? Bagaimana dengan bajuku?" teriak wanita itu. Tapi Rey sudah gak peduli. Dia melangkah dengan kesal meninggalkan tempat itu