Rasa Ini

Rasa Ini
kumenemukanmu


__ADS_3

Saat malam badan Nat menggigil, mungkin karena luka di kakinya hanya diobati dengan obat seadanya. Mbok sum bukan orang yang berada. Jadi dia gak bisa membawa Nat ke dokter. Sedangkan Nat dompet dan handphonenya ada di mobil yang tenggelam. Semalaman mbok Sum merawatnya. Nat sangat berterimakasih pada mbok Sum.


Siang harinya anak mbok sum pulang. Pemuda dengan badan kekar, kulitnya gelap mungkin karena kerjanya di kebun dan sering mengangkat berat. Dia terlihat ramah. Umurnya lebih muda dari Ryan tapi dari tampangnya lebih tua. Mungkin karena tekanan hidupnya.


"Nat ini katanya mau pinjem handphone" kata mbok Sum setelah mengenalkan anaknya.


"Ini mbak kalau mau pinjam handphonenya" kata samsul anak mbok sum sambil memberikan handphonenya. Tangan Nat bergetar menerimanya. Sudah hampir tiga hari dia menghilang. Untung dia sempat menghafalkan nomor Ryan dulu. Saat dia mulai suka Ryan.


Nat menekan nomor Ryan. Tersambung. Tapi Ryan gak angkat. Dia mencoba lagi, kali ini panggilan di tolak. Dia mencoba lagi tapi tetap gak berhasil.


Sementara itu Ryan sedang ada di kantornya. Dia cemas karena belum mendapat kabar dari Nat.


Handphone Ryan berdering taoi nomor yang gak dia kenal. Ryan membiarkannya karena dia pikir paling orang-orang iseng atau dari Bank menawarkan kartu kredit. Seperti biasanya. Dia hanya menunggu kabar dari Vino. Menunggu Vino memberikan kabar baik telah menemukan Nat.


Tapi Vino tetap belum kasih kabar. Malah lagi-lagi nomor asing itu yang menghubunginya. Bob melihat handphone Ryan terus berbunyi dan Ryan enggan mengangkatnya dia merasa heran.


"Kenapa gak kamu angkat Ryan?" tanya Bob.


"Nomor baru, paling juga dari Bank atau orang iseng."


"Tapi itu sudah berkali-kali mencoba telepon kamu. Siapa tau itu kabar dari Nat. Karena kalau orang iseng gak sampai berkali-kali begitu" kata Bob.


"Ya udh nanti kalau dia coba hubungi aku lagi aku coba angkat" kata Ryan akhirnya.


Ryan menunggu hingga sore tapi nomor itu gak hubungin dia lagi. Akhirnya da yakin itu hanya orang iseng. Saat dia bersiap untuk pulang ke rumah handphonenya berbunyi. Dia segera mengangkatnya.

__ADS_1


"Siapa? Cepat bicara" kata Ryan gak sabar. Tapi dia hanya mendengar orang menarik nafas panjang. Ryn semakin gak sabar.


"Kalau kamu gak bicara aku tutup sekarang." kata Ryan


"Akhirnya kamu angkat juga" kata seseorang di seberang telepon. Suara orang yang sangat diharapkannya. Suara yang dia rindukan beberapa hari ini.


"Nat... Ini kamu?" kata Ryan dengan penuh harap, semoga dia gak salah mengenali suara orang.


"Apa kabar Ryan" kata Nat.


"Kamu dimana Nat, Aku jemput kamu sekarang" Ryan sangat senang. Bebannya seakan terangkat setelah mendengar suara Nat.


"Sebentar ya.." Nat memberikan handphonenya ke anak mbok Sum, kemudian dia memberikan alamatnya ke Ryan.


Tanpa pikir panjang Ryan langsung menghubungi Bob untuk menemaninya menuju rumah mbok Sum. Sepanjang perjalanan Ryan dan Bob banyak diam. Ryan asyik dengan pikirannya sendiri.


Dari jalan beraspal mereka berjalan kaki melalui jalan setapak. Kanan kiri mereka pepohonan. Sepertinya gak ada rumah lain disini. Sepanjang jalan hanya pohon atau kebun sayur.


Akhirnya mereka sampai di sebuah rumah kecil. Rumah yang sangat sederhana. Didepan rumah ada mbok Sum menunggu kedatangan mereka. Saat melihat mbok Sum, Ryan merasa seperti pernah bertemu.


"Wah tamunya sudah sampai, masuk den" kata mbok Sum ramah. Tiba-tiba Ryan tertegun dia memegang tangan mbok Sum. Mbok Sum bingung.


"Mbok Sumi?" tanya Ryan.


"Iya.. Aden kenal mbok?" tanya mbok mencoba mengingat siapa orang di depannya.

__ADS_1


"Saya Ryan mbok, cucu kakek Rudiantoro" kata Ryan. Mbok Sum kaget tapi dari raut mukanya dia senang bisa bertrmu Ryan.


"Ya ampun, den Ryan sudah besar. Gagah sekarang"


"Mana Nat mbok?"


"Oh iya si Nat di dalam, cepat den. Tadi badannya menggigil mungkin karena luka di kakinya" kata mbok sum bergegas masuk ke dalam kamar Nat. Diikuti Ryan dan Bob.


Saat masuk kamar Ryan melihat Nat berbaring, badannya di tutup selimut. Ryan bergegas mendekatinya. Nat menggigil, badannya bergetar, bibirnya biru.


"Nat... Nat..." Ryan panik. Nat gakerespon panggilannya.


"Luka di kakinya semakin parah den, sebaiknya segera di bawa ke rumah sakit" kata mbok Sum. Ryan langsung mengangkat Nat, menggendongnya. Bob yang akan membantunya pun gak dia ijinkan. Dia mau membawa Nat sendiri.


Mereka langsung pamit untuk pergi ke rumah sakit. Ryan menggendong Nat dan berjalan dengan cepat ke mobilnya.


Dalam perjalanan ke rumah sakut badan Nat terus menggigil. Ryan memeluknya dan terus memanggil namanya.


"Nat... Nat... Maafin aku" bisik Ryan. Tiba-tiba Nat membuka mata. Dia merasa hangat dan mencium wangi yang dia kenal.


"Ryan... Kamu datang" kata Nat lirih.


"Iya Nat ini aku. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit"


"Dingin" kata Nat.

__ADS_1


"Bob... Bisa lebih cepat gak" Ryan gak sabar. Dia gak tega melihat keadaan Nat. Dia takut Nat gak bisa selamat. Dia sangat takut


__ADS_2