Rasa Ini

Rasa Ini
cemburu


__ADS_3

Cerita Mona tentang Bela membuat Nat gak tenang. Dia hanya bertanya-tanya kenapa Ryan gak cerita apapun tentang Bela. Besok saat Ryan pulang Nat ingin bertanya tentang hal ini.


Malam hari saat Nat sudah bersiap akan tidur, Ryan menelepon.


"Nat, kamu belum tidur?" kata Ryan dari seberang telepon.


"Kan kamu telepon. Tadi sebenarnya udah mau tidur."


"Aduh aku ganggu ya... Aku cuma mau ucapin selamat malam, Mona masih disana?"


"Mona udah pulang tadi. Ryan ada yang mau aku tanyakan" kata Nat, dia gak bisa menahan keingintahuannya tentang Bela.


"Tanya apa?"


"Itu.. Kemarin di kantor.."


"Ryan kamu lagi telepon siapa? Kok kamu tinggalin aku?" tiba-tiba ada suara cewek di sebelah Ryan. Nat berhenti berbicara. Hatinya berkecamuk. Samar-samar dia seperti pernah mendengar suara ini.


"Ryan kamu sama siapa?" tanya Nat, dia mencoba tenang. Dia hanya mendengar suara ribut-ribut tapi dia gak begitu jelas apa yang mereka bicarakan.


"Maaf tadi ada..."


"Oh gak papa. Udah ya aku ngantuk" Nat memotong kata-kata Ryan kemudian menutup telepon. Hatinya berdegup kencang adabrasa cemburu. Ini sudah malam dan Ryan disana dengan seorang perempuan. Dan perempuan itu sepertinya Bela. Karena Nat bisa mendengar suaranya,dan dia mengenal suara itu. Dia mencoba tenang mencoba percaya tapi gak bisa. Kenapa Ryan berbuat seperti itu? Apakah dia masih ada di hatinya Ryan?


Sementara itu di tempat lain Ryan mencoba mrnghubungi Nat lagi, tapi nihil. Handphone Nat sepertinya gak aktif. Berkali-kali dia coba tapi tetap sama. Bela yang melihat Ryan gelisah, tersenyum menang. Dia mendekati Ryan lagi. Memeluknya dari belakang. Ryan dengan kasar melepasjan pelukan Bela. Walaupun Bela memakai pakaian yang sangat minim, tetap Ryan merasa muak dengan Bela. Dan tidak tergoda sama sekali.


"Auuu kasar banget sih kamu, kenapa sih marah-marah? Kamu gak ada cewek lain lagi kan? Aku baru tau setelah Nat gak ada ternyata kamu cepat cari gantinya" kata Bela memancing amarah Ryan. Bela masih belum tau kalau Nat selamat.


"Kamu sengaja kan tadi, aku udah nurutin kamu untuk datang kesini ya. Jangan mencoba menguji kesabaranku" kata Ryan dengan emosi. Bela hanya tertawa.


"Kamu tau gak kamu marah-marah begitu semakin ganteng, malam ini sama aku aja ya" kata Bela sambil mengelus dada Ryan. Tangan Ryan dengan cepat memegang tangan Bela dan menepisnya.

__ADS_1


"Jangan mimpi!" kata Ryan merasa muak.


"Aku gak percaya kamu gak tertarik melihat tubuhku" kata Bela, dia sengaja membusungkan dadanya.


"Sama sekali tidak, jadi lebih baik kamu gak usah dekat-dekat" kata Ryan sambil berjaln meninggalkan Bela. Bela tersenyum. Dia merasa memiliki tantangan baru untuk mendapatkan Ryan, selain hartanya ternyata Ryan juga menarik.


Setelah meninggalkan Bela, Ryan bertemu dengan Rey.


"Aw aw aw aku lihat tadi kamu menolak Bela. Padahal badan dia lebih wow dari si Nat, eh gak boleh nyebutin orang yang gak ada ya?" kata Rey


"Kamu gak layak sebut nama Nat dengan mulut kotormu itu. Jangan sekali-kali aku mendengar kamu menyebut namanya" kata Ryan menatap tajam Rey.


"Dikasih apa si kamu sama Nat. Dia kan gak punya apa-apa. Atau dia udah kasih tubuhnya ya. Dia kan jual mahal banget waktu sama aku, gimana rasanya?" kata Rey membuat kesabaran Ryan habis.


"Sekali lagi kamu membicarakan Nat aku jamin besok kamu gak akan bisa ngomong lagi" ancam Ryan, tangannya mencengkeram kerah baju Rey.


"Ryan.. Lepaskan!!" kata Bela. Ryan melepaskan tangannya.


"Ajari kacung kamu uang benar" kata Ryan sambil melihat ke arah Bela kemudian meninggalkan mereka.


"Belum saatnya kamu berhadapan langsung dengan dia. Kamu bukan apa apa dihadapannya." kata Bela. Rey marah dan tersinggung. Tapi dia sadar saat ini dia belum bisa menghadapi Ryan.


Semalam Ryan gak pulang dan gak datanv menemui Nat. Nat masih cemburu, dia merasa dibohongi dan dikhianati. Pikirannya kacau.


Saat siang hari Ryan datang mengunjunginya. Nat bingung harus bersikap seperti apa. Kalau dia marah akan terlihat dia gak percaya sama Ryan, kalau dia bersikap biasa aja hatinya gak tenang. Dia gak bisa berpura-pura gak cemburu.


"Nat... Gimana hari ini?" kata Ryan sambil mengambil tempat duduk disebelah Nat. Nat duduk melihat ke luar jendela.


"Baik"


"Kamu belum makan ya? Kok itu makanan masih utuh?" kata Ryan sambil menunjuk ke atas meja. Makanan yang disiapkan rumah sakit masih utuh. Nat belum memakannya.

__ADS_1


"Gak laper" jawab Nat singkat matanya masih melihat ke luar jendela.


"Kamu bosan ya sama makanan Rumah sakit, kamu mau makan apa?" kata Ryan berusaha mengjibur Nat.


"Gak usah. Nanti aku makan itu aja" kata Nat sambil melihat makanannya. Sebenernya dia ingin menanyakan perihal semalam, tapi dia ingin Ryan yang berinisiatif untuk mengatakannya sendiri.


Ryan tersenyum, dia tau Nat sedang cemburu.


"Kamu lagi marah ya?" kata Ryan wajahnya didekatkan ke wajah Nat. Sangat dekat sampai wajah Nat memerah, kemudian mengalihkan pandangannya.


"Siapa cemburu?" kata Nat berusaha menghindari tatapan Ryan.


"Kamu marah kan karena semalam ada suara Bela?" kata Ryan, Nat terkejut ternyata wanita itu benar Bela.


"Kenapa harus marah, Bela kan tunangan kamu" kata Nat sambil merajuk. Ryan memeluk pundak Nat.


"Memang aku dijodohin sama Bela, tapi percaya donk aku sama sekali gak suka sama dia, dan semalam juga bukan aku sama Bela doank kok. Memang ada acara dan disitu ada Rey juga"


"Rey?"


"Iya.. Rey sekarang kerjasama dengan Bela, kamu tau siapa yang berusaha mencelakai kamu?"


"Siapa?" Nat penasaran.


"Menurut kamu siapa?"


"Bela? Atau Rey?" kata Nat. Sebenarnya dia gak begitu terkejut kalau mereka sanggup melakukan itu, hanya saja Nat gak habis pikir kenapa dia.


"Kamu tau kan, bahkan sekarang mereka mengira kalau kAmu sudah meninggal, jadi untuk saat ini sebaiknya kamu jangan muncul dulu. Kamu mau apa tinggal bilang aja, nanti aku siapin" kata Ryan. Nat hanya mengangguk, mungkin sebaiknya saat ini dia sembunyi dulu.


"Oke. Tapi aku masih kesel, kenapa kamu deket-deket sama Bela" kata Nat.

__ADS_1


"Ya ampuuuun siapa yang deket- deket dia. Dia kan sengaja ganggu aku terus, kalau gak terpaksa aku juga gak mau ketemu sama dia" kata Ryan sambil mencubit pipi Nat.


"Aaww sakiiit" Nat memukul tangan Ryan, kemudian Ryan tertawa sambil menghindar


__ADS_2