
Hujan gerimis menemani awal hari yang baru. Membuat beberapa orang sedikit mengeluh karena harus berangkat kerja dengan gerimis yang membuat kurng nyan beraktivitas. Apalagi mereka yang harus bekerja di jalanan, atau yang beraktivitas dengab sepeda motor. Genangan air sepanjang jalan membuat orang enggan melewatinya. Mereka yang beruntung dapat menggunakan mobil mungkin sedikit lebih baik. Tapi hidup harus berjalan, walaupun gerimis atau hujan, mereka harus keluar demi sesuap nasi atau hanya untuk menyambung hidup.
Nat hari ini naik taksi untuk sampai ke kantor. Karena kesiangan dia lupa untuk sarapan. Kebiasaan Nat tidur terlalu malam ternyata sedikit sulit untuk dihilangkan. Karena waktu sudah hampir terlambat dia buru-buru masuk kantor. Sebenernya perutnya sudah minta diisi. Tapi karena memang sudah ewaktunya bekerja, Nat mengurungkan niat untuk makan.
"Kamu lesu amat Nat" kata Mona. Dia memperhatikan Nat yang dari tadi diam.
"Kepalaku sakit Mon." kata Nat sambil memijit kepalanya.
"Kamu lagi gak enak badan?" kata Mona khawatir. Dia memegang dahi Nat dengan telapak tangannya.
"Gak Mon, cuma belum sarapan aja. Jadi sakit. Aku laper."
"Kenapa tadi gak makan dulu?"
"Aku tadi kesiangan. Gak sempet lagi buat makan" Mona mengambil Roti yang ada di laci meja kerjanya. Yang selalu dia siapkan. Dia menyodorkannya.
"Gak Mon, lagi kerja mana boleh makan" Nat menolak roti itu. Tapi Mona tetap memaksanya.
"Gak papa makan dikit, dari pada kamu sakit malah gak bisa kerja, gaji dipotong, iya kan? Udah makan aja"
"Iya Mon, makasih ya" saat Nat mau mengambil roti itu,tiba-tiba Bob datang.
"Nat, ikut aku. Ada kerjaan buat kamu. Sekarang." kata Bob.
"Tapi pak, Nat lagi sa.." belum selesai Mona bicara Nat dengan cepat menutup mulutnya.
"Baik Pak," kata Nat cepat. Memotong kalimat Mona.
"Katanya kamu lagi sakit kepala." Kata Mona kesal. Dia tau Nat gak boleh telat mkan kalau sudah sakit.
"Gak papa, aku masih bisa nahan kok" kata Nat kemudian mengikuti Bob.
Bob menyuruh Nat masuk dalam mobil. Dia duduk di sebelah supir. Saat Nat masuk mobil ternyata Ryan sudah ada didalam. Nat sedikit terkejut tapi dia juga gak bisa berkata apa-apa.
Sepanjang jalan Nat hanya diam. Ryan dan Bob membicarakan bisnis. Yang membuat Nat tau ternyata Ryan mempunyai banyak bisnis di beberapa kota.
__ADS_1
Tiba-tiba Nat merasa sakit kepalanya semakin parah, perutnya sakit, keringat dingin mulai keluar. Tapi dia mencoba bertahan. Dia terus melihat keluar.
Nat terkejut saat tangan Ryan memegang dahinya. Dia melihat ke Ryan.
"Kamu sakit?" tanya Ryan. Nat diam saja. Dia hanya menunduk malu. Kenapa selalu dalam keadaan yang begini kalau dekat Ryan.
"Pak kita ke arah Rumah sakit" kata Ryan pada supir
"Baik pak Ryan" jawab supir dengan sopan.
"Gak usah Ryan gap papa kok. Nanti gimana urusan kamu. Kan mau ketemu orang" kata Nat lagi. Pandangannya mulai kabur. Dengan sekuat tenaga dia bertahan tetap duduk.
"Bob... Kamu ketemu saja dulu dengan mereka. Aku antar Nat kerumah sakit dulu" kata Ryan yang langsung diiyakan oleh Bob. Akhirnya Bob turun di pinggir jalan.
Ryan membawa Nat kerumah sakit. Setelah diperiksa ternyata memang Nat sakit maag akut. Dan kepalanya saki juga karena kurang tidur. Nat malu, mukanya memerah. Dan dia harus diinfus untuk menambah cairan di tubuhnya.
"Kamu kenapa bisa telat makan? Kaan terakhir kali kamu makan? Semalam kenapa bergadang?" omel Ryan pada Nat. Nat sampai bingung harus menjawab gimana.
"Aku..."
"Kenapa sih Nat kamu gak bikin aku khawatir. Kamu jaga diri sendiri aja gak bisa. Gimana kamu jagain orang lain, apa gaji yang aku kasih kurang? Sampai gak bisa beli makan?"
"Kalau bukan kenapa lagi? Kamu bilang mau jagain Nael. Yang ada kalau Nael tau dia yang khawatir terus sama kamu" oceh Ryan lagi. ya ampun si bos yang terkenal dingin ini kalau udah ngomel gak bisa berhenti, kata Nat dalam hati.
"Maaf..." akhirnya hanya itu yang bisa Nat katakan.
"Jangan minta maaf sama aku. Kalau kamu menyesal jangan buat lagi"
"Bisa udahan gak marahnya? Aku pingin makan" kata Nat pelan. Ryan menarik nafas panjang.
"Ya udah aku beliin makan dulu, kamu diam disini. Jangan kabur" kata Ryan lagi. Kemudian dia keluar.
Gak lama kemudian Ryan sudah kembali dan membawakan bubur. Ryan membantu menyiapkan bubur itu. Saat dia mau menyuapi Nat menolak.
"Aku masih bisa makan sendiri."
__ADS_1
"Kamu masih gak mau nurut ya.." kata Ryan lagi. Ekspresinya gak suka ditolak. Akhirnya Nat membuka mulutnya perlahan.
"Kalau masih panas kasih tau ya" kata Ryan lembut. Sesekali dia meniup bubur sebelum menyuapkan ke mulut Nat.
"Ryan... Kamu masih kasihan sama aku?" tanya Nat dengan suara pelan. Karena dia ragu untuk bertanya.
"Kalau keadaan kamu kayak gini bagaimama bisa orang gak kasihan." kata Ryan sekenanya. Mendengar jawaban Ryan membuat Nat sedih. Tiba-tiba Ryan tertawa. Nat terkejut, dia tau Ryan sedang usil.
"Ketawanya puas amat" Nat cemberut.
"Muka kamu lucu kalau lagi cemberut. Makanya belajar dengar penjelasan orang, baru bersikap."
"Maksud kamu?"
"Kenapa aku baik sama kamu, bantu kamu, aku juga gak tau kenapa. Yang aku tau aku ingin bahagiain kamu, lindungin kamu, dekat sama kamu. Tapi kamunya gak mau tau, gak mau terima... Selalu salah sangka" kata Ryan sambil mencubit hidung Nat.
"Kenapa? Kenapa kamu mau dekat sama aku?"
"Karena aku sayang kamu tuan putrikuuu" jawaban Ryan membuat muka Nat merah. Mendengarnya dia sangat bahagia. Tapi ada rasa takut juga. Takut semuanya cuma mimpi. Takut semua palsu. Takut kalau rasa ini hanya sementara, takut akhirnya akan seperti yang dia alamai dengan Rey.
"Kenapa? Kamu masih ragu?" tanya Ryan yang melihat Nat diam.
"Apakah nantinya kamu akan ninggalin aku? Atau akan bersikap seperti Rey?"
"Bodoh" Ryan sentil jidat Nat. Nat mengelus jidatnya.
"Apa kamu pikir aku seperti Rey?" Nat menggelengkan kepalanya.
"Percaya sama aku sekali aja Nat. Aku gak akan kecewain kamu. Aku pasti akn selalu ada buat kamu" Nat tersenyum, Ryan mencium kening Nat.
"Ya sudah abisin makannya ya. Oh iya... Mulai besok kamu jadi sekretaris pribadiku. Jadi kemana aku pergi kamu harus ikut"
"Tapi..."
"Itu perintah. Inget ya kamu masih karyawan aku"
__ADS_1
"Baiklah bos. Memang bos selalu benar" kata Nat. Ryan tertawa mendengarnya.
Nat memutuskan mencoba mempercayai Ryan. Mencoba membuka lembaran baru untuk hubungannya. Walaupun dia masih takut untuk kecewa. Tapi dengan Ryan ada di sampingnya dia tau dia pasti bisa melewatinya.