
Di kedalaman hutan di dekat kota Azpire, Ferisu sedang melakukan quest dari guild untuk membasmi 10 ekor goblin. Namun karena Ferisu di beri tahu jika goblin juga termasuk kedalam ras demon, ia mengurungkan niat nya untuk membunuh.
Di desa goblin setelah bertarung dengan para goblin, ada 1 dari mereka yang merupakan hobgoblin yang menjadi kepala desa itu. Karena perbedaan kekuatan yang besar, hobgoblin itu pun bersujud dan memohon belas kasih pada Ferisu untuk membiarkan para goblin yang lain pergi.
"Huft... Dari awal aku sudah bilang kan. Aku datang kesini bukan untuk membunuh kalian, dan jika aku ingin membunuh kalian, hanya dalam hitungan detik saja aku bisa membantai habis kalian jika mau". Ujar Ferisu.
"Ka~kalau begitu, untuk apa anda datang kesini?". Ujar hobgoblin.
"Aku hanya meminta telinga kanan kalian 10 potong, tapi tenang saja. Aku akan langsung menyembuhkan kalian dan meregenerasi telinga itu agar tumbuh kembali seperti sebelumnya". Ujar Ferisu.
"A~apa benar hanya itu saja?". Ujar Hobgoblin.
"Yah...". Balas Ferisu sembari menghilangkan intimidasi nya.
Setelah intimidasi hilang, para goblin pun berkumpul dan berdiri di belakang hobgoblin.
"Maaf, tapi aku hanya tak menyangka akan ada seorang manusia yang berperilaku seperti anda". Ujar Hobgoblin.
"Manusia? ah, maaf". Ujar Ferisu.
Ferisu pun melepaskan penyamarannya dan kembali ke wujud vampirnya. Para goblin itu sontak terkejut melihat hal itu.
"Ra~rambut putih silver dan mata merah itu!. Apakah anda seorang vampir!!!?". Ujar Hobgoblin dengan sangat kaget.
"Yah, seperti yang kau lihat. Aku juga berasal dari ras yang sama seperti kalian". Balas Ferisu.
"Ta~tapi, bukannya suku vampir sudah punah 200 tahun yang lalu, akibat penyerangan secara sepihak dari berbagai macam ras yang bersatu". Ujar Hobgoblin.
"Yah begitulah, mungkin aku adalah vampir terakhir atau mungkin ada vampir lain yang selamat selain diriku". Ujar Ferisu.
"Be~begitu yah...". Ujar Hobgoblin dengan gemetaran.
"Jadi, apa aku boleh meminta telinga kalian?". Ujar Ferisu sambil tersenyum simpul.
"Soal itu, apa bisa hanya telinga saya saja?". Ujar Hobgoblin.
"Yah, kurasa tak masalah. Lagi pula itu akan tumbuh kembali nanti". Balas Ferisu.
Hobgoblin itu pun berjalan perlahan mendekati Ferisu dan duduk. Ia memberanikan dirinya untuk menerima rasa sakit agar goblin yang lainnya tak perlu merasakan sakitnya.
Namun pada saat Ferisu hendak memotong telinga hobgoblin tersebut.
"Tolong berhenti sebentar!". Ujar goblin yang mengatur strategi.
"Ada apa?". Tanya Ferisu.
"Bisakah saya yang menggantikan ketua?". Ujar goblin itu.
"Bisa-bisa saja sih...". Balas Ferisu.
Goblin itu pun mendekat dan duduk di depan Ferisu tepat di samping hobgoblin.
"Apa yang kau lakukan?. Biarkan aku saja yang melakukannya, lagi pula aku adalah ketua desanya". Ujar hobgoblin.
Kedua goblin itu terus-terusan berdebat karena tak ingin melihat temannya merasakan rasa sakit.
"Apa kalian berdua sudah selesai?". Tanya Ferisu yang sedari tadi menunggu.
"Ah, maaf. Tolong potong telinga saya saja!". Ujar hobgoblin.
"Tidak, biar saya saja!". Ujar goblin.
Slaassshh...!
Darah pun bercucuran di tanah, kedua goblin itu pun terkejut dengan apa yang terjadi.
"Kalian bisa tenang, tak akan ada rasa sakitnya saat di potong". Ujar Ferisu dengan santai.
__ADS_1
"Tu~tuan, lengan anda...". Ujar Hobgoblin.
"Ah, tenang saja". Balas Ferisu.
Ferisu pun mengambil potongan lengannya dan menyambungkan nya kembali dengan regenerasi.
"Lihat, seperti baru bukan". Ujar Ferisu sambil menggerakkan tangannya yang sudah di sambung kembali.
Para goblin yang menyaksikan hal itu pun bengong begitu pula Licia yang berada cukup jauh di depan pintu masuk desa. Ferisu pun mengeluarkan sebuah pisau darah.
Slaasshh...!
Telinga hobgoblin pun terpotong begitu cepat.
"Tak ada rasanya bukan?". Ujar Ferisu.
"I~iya...". Balas hobgoblin itu dengan kaget.
Setelah memotong Ferisu pun menggunakan regenerasi dan membuat telinga itu tumbuh kembali. Hingga akhirnya 10 telinga kanan goblin pun terkumpul.
Setelah selesai dengan urusannya, Ferisu pun memutuskan untuk kembali menuju ke kota Azpire.
"Ah, terimakasih karena sudah memberi telinga kalian. Oh ya, siapa nama kalian?". Tanya Ferisu.
Semua goblin pun kebingungan dengan ucapan Ferisu.
"Tuan, ras demon dari clan/suku yang rendah biasanya tak memiliki nama". Ujar Hobgoblin.
"Jadi bagaimana kalian bisa berkomunikasi?". Tanya Ferisu.
"Soal itu, kami bisa menggunakan telepati jika berada di satu clan". Ujar Hobgoblin.
"Apa tak ada goblin yang punya nama?". Tanya Ferisu.
"Hmm... Kalau yang punya nama ada di wilayah ras demon, biasanya mereka sudah berada di tahap evolusi ke 3". Ujar Hobgoblin.
"Evolusi ke-3?". Tanya Ferisu dengan heran.
"Begitu yah, kalau begitu bagaimana caranya agar goblin bisa mendapatkan nama?". Tanya Ferisu.
"Nama bisa di dapat dengan 2 cara, yakni dengan menjadi lebih kuat hingga mendapatkan berkat dan nama dari dewa. Dan yang kedua di berikan oleh orang, biasanya nama pemberian orang dapat membuat demon memperoleh kekuatan yang lebih besar, karena energi sihir dari pemberian nama yang besar". Jelas Hobgoblin.
"Begitu yah, kalau begitu bagaimana jika aku memberi kalian nama?". Ujar Ferisu dengan bibir yang menampakkan sebuah senyuman kecil.
Sontak semua goblin pun terdiam dan kaget dengan ucapan Ferisu barusan.
"A~apa anda benar-benar ingin memberi kami nama?". Tanya hobgoblin.
"Yah, begitulah". Balas Ferisu dengan senyum simpul.
Para goblin pun merasa sangat gembira karena ucapan Ferisu barusan.
"Baiklah, namamu adalah Takeo". Ujar Ferisu pada hobgoblin yang merupakan pemimpin desa.
Seketika tubuhnya pun bersinar saat nama itu diberikan. Takeo pun belutut pada Ferisu dan mengucapkan terimakasih.
"Terima kasih tuan! saya berjanji akan selalu setia pada anda!". Ujar Takeo dengan tegas.
"Eh? a~apa yang kau katakan?". Ujar Ferisu dengan heran dan kebingungan.
Takeo pun kebingungan dengan pertanyaan dari Ferisu.
"Tuan, jika anda memberi nama pada seorang suku dari ras demon. Secara otomatis anda akan menjalin hubungan kontrak dengan suku itu, bisa di bilang tuan dan pelayan". Jelas Takeo.
Aku tak tau soal itu, aku hanya ingin mendapat teman yang bisa di percaya. Terlebih lagi dengan seseorang yang berada dalam ras yang sama. Gumam Ferisu dalam hatinya.
"Ah, ya aku tahu kok soal itu ahaha...". Ujar Ferisu sambil tertawa terpaksa.
__ADS_1
"Baiklah selanjutnya kau si pengatur strategi, nama mu adalah Takumi". Ujar Ferisu.
Ferisu pun terus memberikan nama pada semua goblin yang ada di desa itu. Ada 20 goblin yang tinggal di desa tersebut. Setelah penamaan selesai semua goblin pun berlutut pada Ferisu dan mengucapkan rasa terima kasih mereka.
"Tuan apa yang ingin anda lakukan untuk kedepannya?". Tanya Takumi.
"Untuk sekarang aku akan kembali ke kota Azpire untuk melaporkan quest ini". Ujar Ferisu sambil memperlihatkan kertas questnya.
"Jadi kami harus melakukan apa?". Tanya Takeo.
"Kalian..?". Gumam Ferisu.
Hmmm, itu benar tak mungkin aku meninggalkan mereka, terlebih lagi aku sudah membuat kontrak dengan mereka. Yang pasti mereka tak akan berkhianat pada ku.
...Kontrak ras iblis : Kontrak pelayan dan tuan, memungkinkan untuk para pelayan tak bisa mengkhianati tuan mereka. Jika seorang pelayan ingin berkhianat mereka akan secara otomatis kehilangan kekuatan dan bisa juga langsung mati di tempat....
Yah, kontrak ini sedikit terlalu kuat, bahkan jika ingin berkhianat bisa langsung mati...
Ferisu pun mengerutkan dahi nya dan memikirkan tentang para goblin yang telah ia beri nama.
"Ah begini saja, lusa nanti aku akan pergi melanjutkan perjalananku. Untuk sekarang kalian bersembunyi saja dan berlatih agar menjadi lebih kuat, dan lusa nanti kalian akan ikut dalam perjalananku". Ujar Ferisu.
"Baik tuan!!!". Ujar semua goblin.
"Tuan, apa saya boleh menanyakan sesuatu?". Ujar Takeo.
"Ya?".
"Gadis elf disana, apakah itu kekasih tuan?". Ujar Takeo.
"Ah, dia. Aku tak punya hubungan semacam itu, aku hanya bertanggung jawab untuk mengantarnya ke ibu kota kerajaan elf". Balas Ferisu.
"Tapi, dia kelihatannya begitu menempel pada tuan. Dan saya rasa tuan dan dia cukup serasi". Ujar Takeo.
Hahaha, yah aku tak bisa bilang soal itu, lagi pula putri elf satu ini orangnya terlalu polos dan sangat mudah percaya pada orang...
Terlebih lagi, aku sering menggunakannya sebagai alasan kepada orang-orang. Bahkan aku pernah bilang jika dia adalah orang yang ku cintai agar bisa masuk ke kota Azpire.
"Yah, kalau begitu sampai jumpa lusa nanti. Aku akan mengunjungi kalian jika waktunya tiba". Ujar Ferisu sambil melambaikan tangannya dan pergi.
...----------------...
Setelah keluar dari hutan, Licia pun penasaran dengan apa yang di bicarakan oleh Ferisu dan para goblin. Karena pendengaran Licia terhalang akibat perisai angin yang di buat oleh Ferisu.
"Ferisu-sama, apa yang anda diskusikan dengan para goblin tadi?". Tanya Licia dengan polosnya.
"Hmm? oh, aku hanya membuat kontrak dengan mereka dan mereka menjadi pengikut ku. Lusa nanti kita akan melanjutkan perjalanan bersama dengan mereka". Ujar Ferisu.
"Kontrak pengikut! a~apa Ferisu-sama memberi mereka nama?". Tanya Licia dengan kaget.
"Yah, begitulah". Balas Ferisu dengan santai.
"Bukannya itu sihir level tinggi!". Ujar Licia dengan kagum.
"Eh?". Ferisu pun terkejut dan menampakkan ekspresi keheranan.
"Membuat kontrak dengan ras demon, biasanya bisa dilakukan juga oleh ras lain dengan cara menggunakan sihir kegelapan. Tapi kontrak itu hanya berlaku sementara, berbeda dengan kontrak yang di lakukan secara langsung dengan memberikan sebuah nama. Pemberian nama akan menyerap begitu banyak energi sihir si pemberi nama, namun kontraknya akan menjadi abadi atau pelayan tak akan bisa mengkhianati tuannya". Jelas Licia.
Pantas saja, aku merasa energi sihir ku keluar begitu saja, padahal tidak menggunakan sihir apapun.
Yah aku tak perlu memikirkannya, energi sihir ku cukup melimpah. Memberikan nama 19 goblin dan 1 hobgoblin hanya menyerap 7% dari energi sihir ku.
Setelah sampai di kota, Ferisu pun melaporkan quest nya dan mendapatkan hadiah dari quest.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TO BE CONTINUE....