Reinkarnasi Menjadi Vampire Membawa Perdamaian Di Dunia Lain

Reinkarnasi Menjadi Vampire Membawa Perdamaian Di Dunia Lain
Chapter 64 : Ingatan Pahit Yang Kembali


__ADS_3

Setelah bertemu dengan raja, para pahlawan yang merupakan mantan teman sekelas Ferisu ketika SMA menyadari jika mereka mengenali sosok vampir tersebut. Namun, Ferisu pergi dengan memberikan alasan "Kalian salah orang" dan pergi begitu saja meninggalkan ruangan.


Licia, Shiro dan Yuki pun merasa heran dengan tingkah Ferisu yang berbeda saat berkaitan dengan pahlawan dari Holan. "Ferisu-sama, apa ada hal yang terjadi di antara kamu dengan pahlawan itu?" tanya Licia.


"Itu benar, seolah-olah kau menghindari mereka" sambung Yuki.


"Tidak, untuk sekarang kita harus fokus dalam pembentukan aliansi. Kita akan pergi menuju ke wilayah para dryad setelah ini" jawab Ferisu.


Ketiga gadis itu pun saling menatap satu sama lain, mereka tahu jika Ferisu menyembunyikan sesuatu dari mereka. "Ferisu-sama, Shiro meninggalkan sesuatu di ruangan sebelumnya. Apa boleh Shiro kesana sebentar untuk mengambilnya?" ujar Shiro dengan mata bersinar-sinar.


"Iya... apa perlu ku temani?" ujar Ferisu dengan keheranan.


"Tidak, cukup onee-chan sama Licia-chan aja" jawab Shiro.


"Baiklah, aku akan pergi untuk berkeliling kota" ujar Ferisu sembari menunjuk ke arah kota.


"Oky"


Shiro dan dua lainnya pun kembali ke ruangan raja. Namun, saat ingin membuka pintu tersebut, secara tak sengaja mereka bertabrakan dengan salah satu pahlawan yang berlari saat membuka pintu tersebut.


Bamm!


"Aduh..." gumam pahlawan tersebut. Saat ia melihat ketiga wanita di depannya ia langsung berdiri "Maaf, karena menabrak kalian. Apa ada yang terluka?" ujarnya sembari mengulurkan tangan.


"Tak apa-apa..." ujar Licia bangun, sembari melihat pahlawan tersebut dengan heran. "Kenapa anda terlihat begitu buru-buru?" tanya Licia.


"Ah iya! dimana Ferisu?" ujar pahlawan tersebut dengan panik.


"Eh, Ferisu barusan pergi untuk melihat-lihat kota" jawab Yuki dengan heran.


"Terimakasih, maaf karena menabrak kalian" pahlawan tersebut langsung berlari meninggalkan ketiga gadis tersebut.

__ADS_1


Ia terus berlari dengan harapan bisa mengejar Ferisu, hingga sampai di gerbang keluar dari area kastil. "Tunggu sebentar!" ia pun berteriak menghentikan pria yang hendak keluar dari gerbang.


"Hmmm?" pria itu pun menoleh dengan heran karena teriakan barusan. "Apa ada yang bisa saya bantu Yuusha Mia-sama?" ujar pria itu.


"Apa kamu melihat pria berambut putih keluar dari sini?" tanya Mia.


"Pria dengan rambut putih? tidak ada orang dengan rambut putih yang melewati gerbang ini" jawab pria itu dengan kebingungan. "Ah iya, tadi ada satu pria yang lewat. Tapi rambutnya berwarna hitam" ujar pria tersebut setelah mengingat-ingat.


"Apa dia memakai jubah berwarna hitam?" tanya Mia untuk memastikan.


"Iya..." jawab pria itu.


"Kemana dia pergi?"


"Dia mengarah ke distrik perdagangan" ujar pria tersebut.


Mia pun langsung berlari setelah berterima kasih pada pria yang menjaga gerbang tersebut.


Di sisi lain...


"Kalian terlihat begitu akrab, apa kalian pernah bertemu?" Yuki pun bertanya karena penasaran.


"Iya, kami pernah bertemu di dunia kami sebelumnya Yuki-sama" jawab Via seorang pahlawan dari kerajaan Rigle.


"Dunia sebelumnya? maksud mu bumi?" tanya Yuki.


"Itu benar" jawab Via.


"Jadi itu dunia yang sama dengan tempat asal Ferisu-sama kan?" ucap Shiro.


"Ah, ngomong-ngomong soal sensei. Kalau tak salah dia juga ikut terpanggil bersama kami saat di kerajaan Rigle" ujar Leo mengingat kejadian dimana mereka terpanggil.

__ADS_1


"Jadi benar dia Ferisu-san yah..." gumam Yoruka.


"Apa senpai mengenal Sensei?" tanya Via pada Yoruka yang bergumam.


"Eh?! ah, itu benar. Kami dulu adalah teman sekelas, walau tak terlalu lama. Karena dia pindah setelah sebuah kejadian" ujar Yoruka dengan ekspresi suram karena mengingat kejadian yang mengerikan itu.


Bukan hanya Yoruka, tetapi semua pahlawan yang berasal dari Holan juga menunjukkan ekspresi yang sama. Karena penasaran dan heran dengan perilaku mereka Yuki pun bertanya "Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Satu tahun yang lalu, kami bertemu dengan Ferisu-kun dimana dia adalah siswa pindahan yang masuk ke dalam kelas kami. Saat itu kami berteman baik, hingga suatu kejadian yang tak terduga terjadi" ujar Haru.


"Kejadian? maksud senpai penyerang itu!?" ujar Via yang mengingat hal tersebut.


Haru pun mengangguk perlahan "Benar, pada saat itu entah apa yang terjadi Ferisu-kun bergerak dengan begitu cepat dan melumpuh- tidak dia membunuh ketiga penjahat itu tepat di depan mata kami"


"Jika berbicara soal itu... kami juga melihatnya mungkin..." ujar Via yang mengingat hal itu.


"Itu benar, pada saat itu tiba-tiba ada dua orang pria yang masuk dan menodongkan pistol pada kami. Tapi, saat itu ada seseorang yang menembak mereka dari pintu hingga tewas di tempat" sambung Leo.


"Kemungkinan itu Ferisu-kun..." ungkap Haru setelah mendengar pernyataan Leo. "Setelah dia membunuh ketiga penjahat itu, dia mengambil pistol dan pisau kemudian pergi keluar kelas. Setelah dia pergi terdengar begitu banyak teriakan dan bunyi tembakan pistol di mana-mana"


Suasana pun menjadi hening setelah para pahlawan itu bercerita. Karena tak mengetahui soal dunia para pahlawan Yuki pun berkata "Bukankah itu normal? Ferisu mengalahkan para penjahat yang sedang menyerang kalian bukan? membunuh penjahat tak akan merugikan siapapun, dan itu adalah hal yang baik untuk mengurangi ancaman di masa mendatang"


Mendengar pernyataan Yuki, Yoruka pun mengangguk secara perlahan "Yang kau katakan memang ada benar nya, tapi di dunia kami pembunuhan adalah hal yang sangat mengerikan. Biasanya seorang pembunuh akan di jauhi dan di penjara oleh para polisi. Karena kami hidup di dunia yang damai, berbeda dengan dunia kalian yang penuh dengan peperangan"


Orang-orang dari dunia lain pun diam, karena mereka tak menyangka perbedaan dunia mereka sangat jauh. "Ah, iya tadi ada satu pahlawan yang pergi keluar" ujar putri kerajaan Holan.


"Mia-san!" teriak ke empat pahlawan dari kerajaan Holan dengan panik. "Kemana dia pergi?!" tanya mereka pada Licia karena mereka berpapasan.


"Eh, ah tadi dia bertanya soal Ferisu-sama... kurasa dia pergi mengejarnya..." jawab Licia dengan heran.


"Gawat... kita harus mengejarnya" ujar Haru sembari berlari keluar ruangan di ikuti oleh yang lainnya.

__ADS_1


Para pahlawan dari Rigle pun ikut pergi di ikuti oleh Licia dan dua lainnya. Mereka kebingungan dengan sikap para pahlawan dari Holan yang kelihatan panik karena hal itu. Leo pun bertanya mengenai hal tersebut "Senpai, sebenarnya apa yang terjadi hingga kalian terlihat panik begitu?"


"Untuk saat ini aku tak bisa menjelaskannya, kita harus menghentikan Mia agar tak bertemu dengan Ferisu terlebih dahulu. Jika tidak, aku tak tahu apa yang akan terjadi nanti" jawab Haru sembari berlari tergesa-gesa.


__ADS_2