Reinkarnasi Menjadi Vampire Membawa Perdamaian Di Dunia Lain

Reinkarnasi Menjadi Vampire Membawa Perdamaian Di Dunia Lain
Chapter 41 : Akhir Sebuah Mimpi


__ADS_3

Sudah minggu berlalu sejak kencan terakhir Ferisu dengan Mia. Di pagi yang cerah saat berada di sekolahan Haru menghampiri Ferisu.


"Pagi Ferisu!". Sapa Haru dengan penuh semangat.


"Pagi juga, ada apa?". Tanya Ferisu heran.


"Setelah pulang sekolah ini, apa kau mau ikut kami ke tempat karaoke?". Ujar Haru mengajak Ferisu.


"Karaoke yah, boleh tuh!". Ferisu pun menerima ajakan tersebut.


Sekolah pun akhirnya berakhir dengan bell pulang yang berbunyi. Ferisu, Haru, Yoruka, Elis dan ketua kelas pun pergi menuju ke tempat karaoke.


Saat di sana mereka berlima bersenang-senang dan tertawa lepas karena melihat ketua kelas yang berbunyi sangat kaku.


"Apa-apaan itu? ahahah". Haru pun tertawa lepas begitu pula dengan yang lain setelah mendengar ketua kelas bernyanyi.


"Yah, kan aku sudah bilang kalau gk bisa nyanyi". Ujar ketua kelas dengan sedikit jengkel.


Kruuuccckkk~~~


Terdengar suara perut dari Elis. "Ewhhmm~ apa kita bisa pergi ke sebuah cafe untuk makan sesuatu? lagi pula waktu kita disini juga sudah habis". Ujar Elis dengan muka memerah.


Semua orang pun setuju, dan pergi menuju ke sebuah cafe yang berada dekat dengan taman kota. Di cafe tersebut mereka makan dan mengobrol santai, hingga Ferisu melihat suatu hal yang membuatnya shok.


"Ada apa Ferisu?". Tanya Haru karena heran melihat rau muka Ferisu yang nampak terkejut.


Mereka semua pun melihat ke arah dimana Ferisu lihat. Spontan mereka semua juga terkejut karena hal itu.


"Dasar ******* sialan!". Yoruka pun memukul meja dengan keras dan bangun berdiri.


Ferisu pun menahan tangan Yoruka dan menatap nya dengan dingin. "Tak usah di pedulikan Yoruka-san". Ujar nya.


Melihat tatapan itu Yoruka pun kembali duduk setelah meminta maaf pada pelanggan yang lain.


"Ferisu, apa kau baik-baik saja... ?". Tanya Haru dan yang lainnya dengan sedikit kawatir.


"Bohong jika aku bilang tak apa-apa, saat ini dadaku terasa sangat sakit... apa ini yang namanya sakit hati?". Ucap Ferisu sembari melihat ke luar jendela dengan sinis.


Di taman itu terlihat Mia yang sedang duduk bersama dengan seorang pria, mereka terlihat begitu dekat bahkan sampai si pria tidur di atas pangkuan Mia. Haru dan yang lainnya pun hanya bisa diam dan mencoba menghibur Ferisu.


"Tak apa, kalian tak perlu menunjukkan raut sedih begitu. Aku tak apa-apa". Ujar Ferisu dengan senyum di wajahnya yang seolah-olah tak terjadi apa-apa, karena tak ingin membuat teman-temannya kawatir.


"Bagaimana kau bisa setegar itu Ferisu-san...?". Ujar Elis.


"Di banding hal ini, aku sudah mengalami berbagai hal yang lebih buruk. Walaupun hal ini cukup baru bagiku, tapi... yah memang masih sakit sih". Jawab Ferisu.


Setelah itu mereka pulang kerumahnya masing-masing. Namun, Ferisu masih belum pulang, ia membuntuti Mia untuk memastikan hal itu. Bisa saja pria itu adalah kakaknya atau keluarganya.

__ADS_1


Namun pada saat sampai di sebuah gang ia melihat jika Mia dan pria itu berciuman dan hal itu membuat Ferisu merasa sangat kesal namun, ia tetap menahannya dan pergi dari tempat itu.


Keesokan harinya saat di sekolah Mia menghampiri kelas B dan menyapa Ferisu tanpa perasaan bersalah. Teman-teman Ferisu pun menatap Mia dengan rasa kesal dan marah karena kejadian kemarin.


"Mia- tidak, Starla-san apa ada yang ingin kau bicarakan padaku?". Tanya Ferisu dengan senyum simpul di wajahnya.


"Eh? ada apa Ferisu? ahaha apa kamu lagi ngerjain aku sampe manggil nama keluarga ku gitu". Ujar Mia dengan tawa kecil.


"Baiklah langsung ke intinya saja, kita pu-".


Doorrr!!!


Belum selesai mengatakannya terdengar sura tembakan dari arah lapangan sekolah. Sontak semua orang melihat keluar kaca. Di lapangan itu terlihat seorang pria yang mengenakan topeng dan memegang sebuah pistol.


"Perhatian semua orang yang berada di sekolah ini, kami adalah para t3r0ris jika kalian ingin selamat cepat serahkan semua harta kalian dan telpon orang tua kalian untuk membayar tebusan". Terdengar sebuah peringatan dari speaker sekolah.


Ferisu yang sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini pun beranjak dari kursinya dan hendak keluar dari kelas. Namun, ada 3 orang yang masuk kedalam kelas itu sembari menodongkan pistol nya.


"Jangan ada yang bergerak! dan serahkan semua handphone kalian!". Teriak orang itu.


Semua murid pun ketakutan karena hal itu dan hanya bisa mematuhi keinginan para penjahat itu. Ferisu pun menghantarkan handphonenya pada giliran terakhir.


Saat penjahat itu hendak menerima handphone tersebut, Ferisu langsung menghantam mata orang itu dengan keras menggunakan hp nya. Ia pun langsung mengambil pisau di penggangnya dan merebut pistol orang itu.


Dorr! slasshh!!


1 orang penjahat itu tertembak mati dan satunya di seset oleh Ferisu di bagian leher. "Dua orang tumbang...". Gumam Ferisu dengan tatapan dingin.


Sembari menodongkan pistol nya Ferisu menanyai pria itu. "Apa yang kalian ingin kan? tidak seharusnya aku tau hal itu. Aku akan menangkan hal lain, apa semua ruangan di sekolah ini di jaga oleh kalian?!". Tanya Ferisu dengan tatapan tajam pada pria itu.


"Hmph, kau kira aku akan memberi tahu nya padamu? kalau iya kenapa dan kalau tidak kenapa?". Ujar pria itu dengan angkuh.


"Owh tak ada apa-apa kok". Ujar Ferisu dengan santai.


Dorrr!!!


Pria itu pun di tembak mati oleh Ferisu, semua siswa yang berada di kelas itu pun sangat ketakutan dan ada yang pingsan karena melihat kejadian yang mengerikan di depan mereka.


"Aku tau kau masih hidup, tak perlu berpura-pura. Aku hanya menyayat lehermu sedikit". Ujar Ferisu sembari menatap pria yang lehernya di gores menggunakan pisau.


"Kuhh... dasar monster!". Ujar pria itu bangun dan langsung menerkam Ferisu mengunakan pisau.


Ferisu pun bergerak kesamping dan mengarahkan pisau ke mulut pria itu hingga menembus ke belakang kepalanya.


"Fe~ Ferisu... a~apa yang...". Ujar Haru dan yang lainnya terbata-bata.


"Hmmm? seperti yang kalian lihat, aku membunuh ketiga orang ini". Jawab Ferisu dengan raut muka dingin.

__ADS_1


"Oh iya, Starla-san aku belum menyelesaikan kalimat ku tadi. Aku ingin kita putus, aku tak mau dekat dengan seorang penghianat. Sebaiknya kau mengerti setelah melihat hal ini bukan? aku tak akan segan untuk membunuh mu". Ujar Ferisu sembari membersihkan noda darah di pisau.


Mia pun merasa kebingungan dengan ucapan Ferisu saat itu. "Apa yang kamu bicarakan? aku sama sekali tak mengerti". Ujar Mia.


"Hmmm? berjalan dengan laki-laki lain dan berciuman di sebuah gang, apa kau masih belum paham?". Ujar Ferisu dengan sinis.


"Berjalan, berciuman di gang? apa yang kau katakan? aku hanya di rumah saja saat kemarin!". Ujar Mia membela dirinya.


"Tch!". Ferisu pun mendecakkan lidahnya dengan sangat kesal dan menatap Mia dengan tatapan tajam.


"Hei... Ferisu-san, coba tenang lah sebentar...". Ujar Yoruka.


"Itu benar...". Sambung Elis.


"Aku sudah tenang loh, Starla-san aku tak ingin mendengar alasan apapun lagi darimu". Balas Ferisu.


"Apa kalian tau aku sudah terbiasa dengan hal semacam ini, kalian tau bukan berita mengenai pembunuhan berantai di sekolah Yanagi? aku lah orang yang membunuh semua t3r0ris yang menyerang saat itu". Ujar Ferisu dengan senyum simpul.


Sontak semua siswa pun tertegun diam setelah mendengar hal itu, mereka tak pernah menyangka jika satu kelas dengan seorang pembunuh.


"Haru, apa kau bisa menelpon polisi? tak perlu kawatir, bilang saja pada polisi tersebut. Sekolah sedang di serang dan ada cold-blooded killer bersama kami". Ujar Ferisu menyuruh Haru menelpon polisi.


Haru pun mengiyakan Ferisu dan menelpon polisi. Ia berbicara sesuai dengan apa yang di katakan oleh Ferisu. Saat setelah telpon itu di tutup Ferisu sudah pergi dari kelas itu, dan terdengar suara teriakan serta tembakan dari segala arah.


Hingga akhirnya para polisi sampai di sekolah tersebut dan langsung masuk ke dalam setiap ruangan yang berada di sekolah. Tapi mereka terlambat, semua penjahat itu sudah terbunuh mengenaskan.


Ferisu pun berjalan dengan pakaian penuh dengan noda darah ke arah polisi yang berada di dalam kelas 3 B.


"Haahh... lagi-lagi kau melakukannya Ferisu-san...". Ujar polisi itu mengeluh.


Ferisu pun hanya bisa tersenyum mendengar ucapan polisi itu. "Bapak tau apa yang harus di lakukan bukan?". Ujar Ferisu.


"Iya, iya, sana pulanglah dan ganti pakaianmu dulu". Ujar polisi itu.


Semua siswa di kelas itu pun keheranan dengan tingkah polisi dan Ferisu yang terlihat sudah mengenal cukup lama.


"Permisi pak... apa saya boleh menanyakan sesuatu?". Ujar Haru.


"Biar kutebak, kau mau menanyakan hubunganku dengan Ferisu dan apa yang dia katakan soal apa yang harus ku lakukan bukan?". Ujar polisi itu.


"Iya... kenapa bapak bisa tau?". Tanya Haru heran.


"Yah, udah tiap kali kejadian selalu begini... kalian tak perlu kawatir, walaupun dia itu seorang monster pembunuh. Dia tetap lah orang yang baik dan suka menolong orang-orang". Ujar polisi itu dengan tersenyum.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


TO BE CONTINUE


__ADS_2