
Saat kembali ke perdesaan, suasana nya begitu berbeda. Pada saat sampai desa tersebut tak di huni oleh siapapun, namun saat ini ada banyak sekali dryad yang muncul di desa tersebut.
"Iblis!?"
"Apa yang ingin kau lakukan terhadap Lily!?"
Para dryad yang ada di desa tersebut terlihat waspada terhadap Ferisu dan memancarkan aura permusuhan yang kuat.
"Tidak-tidak, semuanya tenanglah. Ferisu-sama bukanlah orang jahat, kami kesini bersama dengannya"
Licia pun menenangkan para dryad dan menjelaskan tentang hubungannya dengan Ferisu. Walaupun sulit di percaya, para dryad itu pun menurunkan aura permusuhan nya tetapi tetap waspada terhadap Ferisu.
Lily merupakan dryad yang sedang di gendong oleh Ferisu, ia merupakan salah satu penjaga desa. Biasanya para dryad dapat menyerap energi sihir dari alam sekitar untuk memenuhi kebutuhan tubuh mereka. Namun, karena adanya miasma tersebut mereka tak dapat menyerap energi dari alam sekitar sehingga menjadi lemah.
Karena kehabisan energi sihir, Lily di bawa ke salah satu rumah di desa dan di baringkan di atas kasur. Wajah nya tampak pucat karena tak bisa memulihkan energi sihir miliknya. Para dryad yang lain tampak begitu kawatir terhadap kondisi yang terjadi pada Lily.
"Tch! jika saja para iblis itu tak datang kemari dan berbuat onar..."
Salah satu dryad spontan bergumam dengan wajah yang sangat kesal.
"Iblis? apa miasma ini ada kaitannya dengan para iblis?"
Ferisu yang mendengar gumaman tersebut pun bertanya pada dryas itu. Walaupun begitu, para dryad tetap tak menjawab pertanyaan Ferisu, karena dirinya merupakan seorang iblis.
"Huft, yah sudah tak perlu menjawabnya. Apa kalian para dryad dapat menyerap energi sihir dari makhluk hidup?"
Mendengar hal itu para dryad tampak terkejut, mereka langsung menoleh ke arah Ferisu dengan ekspresi yang sama semua.
"Yah, kami bisa menyerap energi dari makhluk hidup. Namun..."
Tak mendengarkan sampai selesai, Ferisu langsung menuju ke rumah tempat dimana Lily tertidur. Dengan memberikan setetes darah miliknya yang sudah di aliri dengan energi sihir. Wajah Lily mulai menjadi cerah dan membuka matanya secara perlahan.
"Ehm...?"
Lily pun menoleh ke arah Ferisu dengan tatapan kosong, ia pun meloncat hingga membuat Ferisu terhentak ke dinding kamar.
"Lily-san..?"
Saat itu Lily masih dalam ke adaan setengah tidur, ia duduk di atas tubuh Ferisu. Tanpa sepatah kata pun ia pun menyodorkan bibirnya pada Ferisu, dengan menyerap energi sihir melalui mulut.
"Tung-... ugh... energi sihir ku... diserap?"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di alun-alun desa, Licia sedang memasak bersama dengan Shiro untuk makan malam bersama dengan para Dryad. Walaupun begitu, sebenarnya para dryad tak memerlukan makanan, mereka dapat memenuhi nutrisi tubuh hanya dengan menyerap energi alam. Tetapi karena miasma tersebut, mau tak mau mereka memerlukan makanan untuk memenuhi nutrisi tubuh mereka.
"Biarkan aku bantu memasak"
Yuki pun mengajukan dirinya untuk bantu-bantu dalam memasak, tapi Shiro langsung melarangnya.
"Gak boleh! onee-chan duduk saja disana!"
"Ta~ tapi kan... baik..."
Yuki pun pergi menuju kereta kuda dan duduk di sana sembari melihat Licia dan Shiro memasak dengan muka yang cemberut.
"Bukannya tak apa-apa Shiro-chan, membiarkan Yuki-chan membantu?"
"Licia-chan... apa kamu lupa kejadian di balai kota waktu itu?"
Licia pun mengingat kejadian di mana Yuki membuat semua orang yang berada di meja makan pingsang karena masakannya.
"Ahahah... yah kurasa kamu ada benarnya.."
Mereka berdua pun akhirnya selesai memasak dan mulai membagikannya ke para dryad.
Licia pergi menuju rumah di mana Ferisu merawat Lily yang tengah tak sadarkan diri. Namun, saat Licia masuk ke dalam ruangan kamar.
"A~ a~ a~ a..apa... yang kalian lakukan?!"
Di kamar tersebut terlihat Lily yang penuh dengan gairah menyerap energi sihir dari mulut Ferisu. Saat energi sihirnya penuh kembali Lily pun melepaskan bibir Ferisu.
"Terima kasih atas makanannya"
Ujar Lily dengan manja, mukanya tampak begitu merah dengan keringat di sekujur tubuhnya. Walaupun energi sihirnya telah pulih, ia melanjutkan hal yang sebelumnya dan memeluk Ferisu dengan begitu erat, sampai tak ingin melepaskannya.
"Hei!"
Licia yang tak tahan melihat hal itu pun berteriak dan menarik Ferisu dengan paksa.
"Siapa kamu?"
Lily pun menatap Licia dengan dingin, ia pun menarik kembali tangan Ferisu ke arahnya.
__ADS_1
"Lepaskan, dia adalah suami ku sekarang"
Mendengar ucapan itu Licia terkejut dan menatap Ferisu dengan tajam.
"Apa maksudnya Ferisu-sama?"
Dengan senyuman yang begitu menyeramkan, Licia menatap Ferisu dengan tajam.
"Eh?! tung- tidak, dengarkan dulu penjelasanku. Aku tak tau apapun mengenai ucapan dryad ini"
Ferisu pun menjawab pertanyaan Licia dengan panik hingga berkeringat dingin. Disisi lain, Lily melepaskan pelukannya dan menatap Ferisu dengan dingin.
"Heee... jadi maksudnya kau hanya mempermainkan ku saja?"
Ferisu yang kebingungan dengan ucapan Lily, mundur secara perlahan karena merasakan energi sihir yang cukup besar keluar.
"A.. aku tak tau apa yang kau katakan.."
Tanah di bawah mereka pun bergetar, tak lama kemudian muncul akar-akar runcing yang mengarah pada Licia. Dengan sigap Ferisu pun langsung menggendong Licia dan keluar dari rumah itu.
"Hoi! apa yang kau lakukan!? apa kau ingin membunuh kami?"
Lily berjalan secara perlahan keluar dari rumah tersebut dengan aura membunuh yang memancar kuat.
"Jika aku membunuh elf itu, kau akan menjadi milikku seorang, kan?"
"Kau kira aku akan membiarkannya?"
Ferisu pun menjawab dengan tatapan tajam sembari mengeluarkan Meian dari sarungnya. Karena ia tak bisa menggunakan ski dan sihirnya, Ferisu memilih untuk menggunakan kemampuan fisiknya. Walaupun dia bisa menggunakan spirit magic, hal itu cukup sulit karena ia jarang menggunakannya.
"Hei tunggu! Lily saat ini hanya mengalami gejala perubahan energi sihir!"
Seorang dryad berteriak memberi tahu Ferisu. Mendengar hal itu, perhatian nya lepas terhadap Lily hingga terkena serangan dari akar yang di kendalikan olehnya. Akar-akar itu pun mengikat Ferisu dengan begitu kuat.
"Ugh... akar-akar ini... lebih kuat dari sebelumnya..."
Setelah itu, Lily pun berjalan secara perlahan mendekati Licia. Namun, Shiro dan Yuki menyerang ke arah Lily dengan serangan fisik untuk menghentikan nya. Walaupun begitu, hanya Yuki yang dapat membuat perhatian Lily berpindah. Karen dalam pertarungan fisik, Yuki lebih unggul dari pada Shiro.
"Sebenarnya apa yang terjadi Licia-chan?"
Shiro pun bertanya pada Licia mengenai situasi yang sedang terjadi. Licia pun memberikan penjelasan mengenai hal yang terjadi di kamar sebelumnya. Mendengar hal itu Shiro pun melirik Ferisu dengan muka yang cemberut.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...