
Keesokan hari nya setelah penyerangan para assasin untuk kedua kalinya, Ferisu memgakap salah satu dari mereka dan di kurung di penjara bawah tanah.
Di pagi hari itu, Alfred dan kapten kesatria sudah berada di sana untuk menginterogasi assasin itu. Namun tetap saja assasin itu tak membuka mulutnya.
"Apa introgasinya berjalan lancar?". Ujar Ferisu yang datang ke penjara itu.
"Tidak, mulut gadis ini sangat rapat". Ujar Alfred.
"Gadis?". Gumam Ferisu heran.
Ia pun melihat seorang dark elf wanita di ikat di sebuah kursi dalam penjara itu. Pada saat bertarung ia tak tahu jika assasin itu seorang pria atau pun wanita karena di tutupi oleh pakaian serba hitam dan penutup kepala.
"Apa kalian bisa biarkan aku saja yang menginterogasi nya sendiri?". Ujar Ferisu pada Alfred dan kapten kesatria.
"Yah, tapi apa kami perlu pergi dari sini juga?". Ujar Alfred dengan kebingungan.
"Begitulah, karena aku akan menggunakan sihir yang cukup mengerikan. Jadi tolong jaga agar tak ada satupun krang yang masuk kesini". Ujar Ferisu dengan serius.
"B~baiklah...". Alfred pun pergi keluar bersama kapten kesatria.
2 orang kesatria pun di perintahkan oleh kapten kesatria untuk menjaga pintu masuk penjara agar tak ada satupun krang masuk.
...----------------...
"Baiklah semua orang sudah keluar, apa kau bisa memberi tahu ku siapa yang mengirim mu?". Ujar Ferisu sambil menatap mata dark elf itu.
"Mau kau menyiksaku seperti apapun aku tak akan pernah mengkhianati orang yang mengirim kan misi". Ujar gadis itu.
"Huft, yah bisa kubilang kesetiaan kalian sangat lah hebat dan kuacungi jempol, Tapi...". Ujar Ferisu sambil menghela nafas.
Swooofttt...!!!
Sontak semua orang yang berada di dekat penjara merasakan aura yang begitu menakutkan.
"Aku akan bertanya padamu sekali lagi, siapa yang mengirim mu!?". Ujar Ferisu dengan mata yang merah menyala disertai aura intimidasi yang kuat.
Sreet..!!
Ferisu pun menggoreskan sebuah pisau darah di leher elf itu sembari mengancam akan membunuhnya jika ia tak buka mulut.
Namun sekali lagi dark elf itu tetap saja tidak membuka mulutnya. Ferisu yang melihat hal itu pun menarik semua aura nya dan menghela nafas pendek.
"Aku akan kembali lagi nanti". Ujar Ferisu sambil meninggalkan penjara.
Saat ia keluar dari gerbang penjara, para penjaga terlihat ketakutan saat melihat dirinya akibat aura intimidasi yang ia pancarkan sebelumnya.
"Ada apa?". Tanya Ferisu dengan heran.
"Ah, tidak ada apa-apa!". Balas para penjaga itu dengan tegang.
"Ouh, kalau begitu aku akan kembali ke istana dulu". Ujar Ferisu berpamitan.
"Huft... Apa dia benar-benar manusia?". Gumam penjaga 1.
__ADS_1
"Aku juga meragukannya, aura yang sebelumnya begitu mencekam". Ujar penjaga 2.
"Iyah...". Balas penjaga 1.
...----------------...
Saat sampai di istana Alfred pun langsung menanyai Ferisu perihal dark elf itu. Ferisu pun memberi tahu kalau ia juga tak bisa mendapat kan informasi apapun karena mulut dark elf itu benar-benar terkunci rapat.
"Hei Alfred-san, apa di sini ada sistem perbudakan?". Tanya Ferisu.
"Ah, emang ada. Apa yang kau rencanakan?". Ujar Alfred.
"Aku berfikir menjadikan dark elf itu seorang budak agar dapat mengambil informasi darinya". Jelas Ferisu.
"Hmmm... Kurasa itu bukanlah ide yang buruk, baiklah kita akan mencobanya. Tapi kita memerlukan sebuah kalung budak". Ujar Alfred.
"Apa di kota ini tak ada pedagang budak?". Tanya Ferisu.
"Kalau tak salah ada pedagang budak di distrik timur ibu kota". Ujar Alfred sambil memegang dagunya.
Ferisu dan Alfred pun pergi menuju ke distrik timur untuk membeli sebuah kalung budak setelah makan siang. Ada beberapa orang kesatria juga yang ikut sebagai pengawal.
Disisi lain...
"Haaahh..! bagaimana bisa ada yang di tangkap!". Ujar Gery dengan kesal di ruangannya.
"Maaf tuan, tapi manusia itu cukup hebat dan gerakannya begitu cepat". Ujar assasin 1.
"Terlebih lagi dia seperti masih menahan dirinya". Ujar assasin 3.
"Haah, baiklah. Jadi bagaimana dengan assasin yang tertangkap?". Ujar Gery sambil menghela nafas berat.
"Tuan tenang saja, kami para assasin tak akan pernah membuka mulut kami walaupun nyawa kami sebagai tawarannya". Ujar assasin 1.
Mendengar hal itu Gery pun lega, hingga Liver pun memasuki ruangan nya untuk melaporkan suatu hal.
"Tuan ini gawat!". Ujar Liver.
"Apa nya yang gawat!?". Tanya Gery yang sedikit panik.
"Alfred-sama dan manusia itu berencana menggunakan kalung budak untuk mengambil informasi dari assasin yang tertangkap". Ujar Liver.
"Apa!?". Ujar Gery dengan kaget.
Gery pun mengerutkan dahinya dan berfikir dengan keras jalan keluar yang dari masalah itu. Ia pun menyuruh ke tiga assasin itu untuk menyelamatkan teman mereka yang di penjara dengan bantuan Liver.
Sementara Gery akan pergi ikut dengan Alfred dan Ferisu ke distrik timur sekaligus memperlama waktu mereka. Gery pun langsung bergegas berjalan ke istana sembari berharap kalau Alfred dan Ferisu belum pergi.
Saat kereta nya sampai di gerbang istana, Alfred dan Ferisu pun baru terlihat ingin berangkat dengan 2 orang kesatria sebagai pengawal.
"Wah-wah, apa Alfred-sama dan Ferisu-sama ingin pergi ke suatu tempat?". Ujar Gery dari pintu kereta kuda.
"Yah, kau ada perlu apa Gery-kun?". Tanya Alfred.
__ADS_1
"Ah tidak, saya hanya ingin memberikan Ferisu-sama bubuk kopi yang kemarin tak sempat saya berikan". Ujar Gery dengan senyum palsu nya.
"Begitu yah, sepertinya kalian berdua cukup dekat". Ujar Alfred.
"Yah begitulah ahaha. Kebetulan saja kami punya hobi makanan manis yang sama". Ujar Gery.
Gery pun menawarkan dirinya untuk mengantarkan mereka ke distrik timur dengan kereta kudanya, Alfred pun menerima hal itu.
Singkat perjalanan mereka pun akhirnya sampai di distrik timur. Tempat itu benar-benar berbeda dengan distrik lainnya, disana ada berbagai macam toko yang menjual peralatan terkutuk, toko lonet, dan suasana yang cukup aneh seperti wilayah terbuang.
"Suasana di tempat ini benar-benar berbeda". Gumam Ferisu saat keluar dari kereta kuda.
Mereka pun bertanya kepada orang yang ada di sekitar lokasi toko budak. Setelah mengetahui lokasinya mereka pun langsung menuju ke toko itu.
"Alfred-sama apa yang kalian butuhkan di toko budak?". Tanya Gery.
"Ah, kami perlu membeli kalung budak untuk menginterogasi assasin yang berhasil di tangkap oleh Ferisu". Jelas Alfred.
"Ehh! jadi assasin yang mencoba membunuh Ferisu-sama berhasil di tangkap?". Ujar Gery.
"Yah, tapi dia orang yang berbeda". Ujar Ferisu.
"Orang yang berbeda!?". Ujar Gery dengan kaget.
Mereka pun akhirnya sampai di depan toko penjual budak. Pemilik toko itu pun menyambut mereka dengan hangat sembari memperlihatkan budak unggulan yang ia punya.
Tak hanya beastman dan manusia bahkan ada juga elf yang di jual? Padahal ini wilayah mereka sendiri...
"Pak apa kami bisa membeli kalung budak?". Ujar Alfred.
"Eh? anda hanya ingin membeli kalung nya saja?". Ujar pedagang budak dengan heran.
"Yah". Balas Alfred.
"Hmmm, kurasa itu sedikit mustahil". Ujar penjual budak.
"Kalau begitu aku akan membeli 1 budak dari mu". Ujar Ferisu menunjuk seorang beastman wanita.
"Hahaha, baiklah mari kita diskusikan harganya". Ujar pedagang itu.
"Sebut saja harganya". Ujar Alfred.
Pedagang itu pun menyebutkan harganya dan tanpa pikir panjang Alfred pun menyetujuinya. Setelah selesai hak kepemilikan budak itu pun di berikan pada Ferisu.
Disisi lain Liver dengan ke 3 assasin pun berhasil menyelinap dan membawa kabur assasin yang di tangkap.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TO BE CONTINUE
__ADS_1