
Pasukan beastman terus menyerang demi menghancurkan dinding pelindung. Tetapi pelindung itu sangatlah kuat, karena kekuatan roh dan seorang dewi.
"Apa-apaan pelindung itu?! tak ada satupun serangan yang dapat menembus atau menghancurkannya". Ujar penyihir beastman.
Raja pun mengangkat tangannya lagi dan memberikan kode untuk berhenti menyerang, karena hanya akan membuang energi sihir dan membuat mereka melemah karena kekurangan energi sihir.
Beberapa prajurit beastman pun mendekati pulau itu dengan perahu dayung. Saat sampai di tepi pantai, mereka di sambut oleh Kenshin dan beberapa kijin yang lainnya.
"Apa yang kalian ingin kan di pulau ini?!". Tanya Kenshin dengan tatapan tajam.
"Hmph! tentu saja untuk membunuh iblis keji seperti kalian!". Ujar prajurit itu sembari menyerang Kenshin dengan pedangnya.
Tingg!!!
Kenshin pun menahan serangan itu dengan pedang miliknya. "Iblis keji? kami bahkan tak pernah menyerang kalian, kenapa kalian menyerang kami?!". Ujar Kenshin mendorong beastman itu hingga membuat jarak.
"Bukan kah kalian menyerang sekutu kami kerajaan elven garden?!". Balas beastman itu.
Mereka terus beradu pedang di pinggir pantai sampai saat seorang imp datang untuk menyuruh pasukan mundur dan masuk kedalam pelindung.
"Pasukan kijin, kembali lah kedalam pelindung". Ujar imp itu dengan lantang.
Tanpa berlama-lama semua pasukan pun mundur dengan cepat dan memasuki pelindung, berbeda dengan para beastman yang tak dapat memasuki pelindung itu.
"Hei pengecut keluar kalian!!!". Teriak pasukan beastman dari luar pelindung.
"Tch, jika bukan karena perintah aku pasti akan memenggal kepala nya". Gumam Kenshin dengan kesal sembari melihat pasukan itu dengan tatapan tajam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di pertengahan desa, tepat nya di depan rumah Ferisu. Semua orang berkumpul dan membicarakan soal penyerangan para beastman.
"Untuk saat ini kita akan diam dan berlindung saja". Ujar Licia.
"Kenapa? kita bisa mengalahkan mereka". Ujar Kenshin.
"Yah, aku tahu kalian semua menjadi lebih kuat karena Ferisu-sama memberikan kalian nama". Ujar Licia.
"Kalau begitu-".
"Tidak, kalian tetaplah berada di dalam pelindung. Aku dan Sui-san akan keluar dan berbicara dengan para beastman itu". Ujar Licia dengan tegas.
"Maaf jika saya menyela". Ucap Takumi.
"Ya, ada apa?". Tanya Licia.
"Terlalu beresiko jika Licia-sama dan Sui-sama yang keluar, terlebih lagi kalian lah yang membuat pelindung ini". Ujar Takumi.
__ADS_1
"Itu benar juga". Gumam Licia sembari memegang dagunya.
Sui pun mengangkat tangannya. "Kalau begitu begini saja, kita akan diam selama 3 hari dan kita liat apakah mereka akan tetap menunggu atau masih menyerang. Aku yakin mereka akan kekurangan persediaan makanan jika terus-terusan menunggu seperti itu". Ujar Sui memberikan usulan.
Semua orang pun setuju mengenai usulan dari Sui. Mereka pun melanjutkan pekerjaan mereka dalam pembangunan dan perluasan tanah tanpa menghiraukan para beastman.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di kapal pasukan beastman.
"Apa yang mereka lakukan?". Tanya sang raja dengan heran.
"Mereka... sedang bekerja?". Ujar prajurit yang meneropong dari kapal dengan kebingungan.
"Bekerja? apa mereka tak menghiraukan kita?". Ujar raja.
Raja pun meminjam teropong tersebut dan melihat dengan mata kepalanya sendiri. "Elf? kenapa bisa ada elf disana?". Ujar raja yang meneropong dan melihat Licia.
"Mungkin saja dia elf yang di sandra oleh para iblis". Ujar salah seorang prajurit.
"Hmmm, kau memang ada benarnya. Tapi, kelihatannya elf itu baik-baik saja dan tampak seperti dia lah yang memberikan perintah pada para iblis". Ujar raja dengan kebingungan.
"Mungkin saja dia adalah dalang yang menyebabkan para iblis menyerang kerajaan elven garden". Ujar prajurit itu.
"Hmmm, kau ada benarnya". Ujar raja sembari memegang dagunya dengan sedikit menganggukkan kepalanya.
"Apakah mereka sengaja tak bergerak dan menunggu kita kelaparan?!". Ujar prajurit beastman dengan ketus.
"Yah, kurasa memang itu rencana mereka". Ucap prajurit lain.
"Dasar pengecut!". Teriak prajurit itu.
Tiba-tiba sebuah cahaya yang terang muncul dari pulau itu, dan sebuah bangunan muncul dari cahaya itu.
Swooofttt!!!
Sebuah peternakan dengan seluruh bangunan dan hewan berpindah ke pulau itu. "Syukurlah aku mendapat skill teleportasi ini". Gumam Ferisu saat sampai di pulau.
"Ferisu-sama!". Ujar semua orang.
Semua orang pun berkumpul disana dan menyambut kedatangan Ferisu dengan sangat senang. Disisi lain Aiko dan kakeknya merasa kebingungan serta takut karena di kelilingi oleh banyak iblis.
"Tak perlu takut, mereka tak akan menyakiti kalian". Ujar Ferisu dengan tersenyum.
"Na~ Nak, kenapa bisa ada banyak iblis disini". Ujar kakek Aiko dengan gemeteran.
"Tentu saja karena kami tinggal disini, dan aku juga iblis seperti mereka". Ujar Ferisu dengan senyuman sembari berubah ke wujud vampirnya.
__ADS_1
"Ma~ mata merah dan rambut silver itu... ja~ jangan-jangan kau adalah vampir nak?!". Ujar kakek Aiko dengan terkejut.
"Tepat sekali". Ucap Ferisu.
"A~ Apa tang kau inginkan?". Ujar kakek itu.
"Tak ada, bukannya aku sudah bilang saat di tempat kalian tadi. Aku hanya ingin kalian mengajari mereka cara merawat hewan sekaligus kalian juga bekerja untukku merawat hewan-hewan itu". Ujar Ferisu.
Aiko dan kakeknya pun kebingungan karena hal itu, mereka berdua tak pernah menyangka jika Ferisu adalah iblis dan mereka akan mengajarkan para iblis soal peternakan.
"Na~ Nak, apakah kita berada di wilayah iblis?". Tanya kakek Aiko.
"Tidak, saat ini kita berada di Death Land". Jawab Ferisu.
"Eh? eeeehhhhhh!!!!". Teriak Aiko dan kakeknya dengan kaget. "Tu~ tunggu sebentar, bukannya death land itu tanah yang mati, kenapa di sini terlihat sangat subur?". Ujar kakek Aiko dengan heran.
"Ah, soal itu. Aku meminta bantuan para roh untuk mengsuburkan kembali tanahnya, serta memberikan pupuk berkualitas bagus agar tanahnya mendapatkan nutrisi, serta menambahkan mineral dengan batu yang sudah mengalami pelapukan ke dalam tanah". Jelas Ferisu.
Aiko dan kakeknya hanya bisa diam, begitu pula dengan yang lainnya. Mereka semua tak ada yang mengerti dengan aoa yang di bicarakan oleh Ferisu.
"Kalian tak perlu memikirkannya jika tak mengerti". Ujar Ferisu.
"Aku mohon kerja sama nya Aiko dan kakek". Ucap Ferisu dengan tersenyum sembari mengulurkan tangannya.
Kakek Aiko pun menerima uluran tangan itu dan bersalaman dengan Ferisu, menyetujui hal itu.
"Ferisu-sama, saat ini ada beberapa kapal dari kerajaan beastman Triberus di laut dekat pantai". Ujar Licia melaporkan hal itu.
Ferisu pun menoleh ke Licia dengan tampang kebingungan. "Apa yang kau katakan?". Tanya Ferisu.
"Etto, setelah Ferisu-sama pergi, selang beberapa waktu tiba-tiba ada kapal yang datang menuju pulau dan menyerang. Untungnya saya dan Sui-san sudah memasang pelindung untuk melindungi pulau selama Ferisu-sama pergi". Jelas Licia.
"Begitu yah, aku mengerti". Ucap Ferisu sembari menganggukkan kepalanya.
Aiko dan kakeknya yang mendengar hal itu pun menyela pembicaraan. "A~ apakah kau akan memusnahkan pasukan itu?". Tanya kakek Aiko dengan takut-takut.
"Hmm? tak perlu takut begitu, aku akan melihat keadaannya terlebih dahulu. Jika mereka tetap memaksa melawan, aku tak punya pilihan lain selain melawan balik". Ujar Ferisu sembari memegang pundak kakek Aiko.
Ferisu pun mengeluarkan sayap nya dan terbang menuju ke arah kapal para beastman dari kerajaan Triberus.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TO BE CONTINUE
__ADS_1