
Setelah pertarungan di kerajaan Rigle, Ferisu pun pergi menuju ke wilayah dwarft untuk menemukan pedang sihir yang di beritahu oleh Kuro. Saat ini kerajaan Rigle melakukan rombak besar-besaran dengan kepemimpinan baru dari putri Erica dan Ryou sebagai raja sementara. Tentu saja mereka juga bersekutu dengan Ferisu.
Sebelum pergi menuju ke wilayah dwarf ia pulang terlebih dahulu ke Death Land. Semua orang yang tinggal di sana dengan senang menyambut dan mengadakan pesta perayaan karena kemenangan di Rigle. Di malam pesta Ferisu duduk di meja makan di kelilingi oleh para blood couplenya.
"Aku akan pergi ke wilayah dwarf besok" ujar Ferisu sembari memakan hidangan.
Semuanya pun kaget mendengar hal itu, padahal baru saja pergi dan sudah mau pergi lagi. "Apa bisa di lakukan nanti saja?" ujar Licia sembari menatap Ferisu dengan sedih.
"Itu benar! kau baru saja kembali" sambung Yuki.
"Padahal aku baru pergi sehari..." gumam Ferisu pelan.
"Haa!" semuanya pun meninggikan suaranya dengan cukup kesal.
Licia pun memukul keras meja "Hei, Ferisu-sama. Aku ingin bertanya satu hal padamu..." ucapnya dengan tatapan serius.
"I~iya..." jawab Ferisu dengan tegang.
"Sebenarnya Ferisu-sama menganggap kami ini seperti apa? Ferisu-sama tau kan jika menghisap darah lawan jenis itu ritual pernikahan? tetapi setelah itu kamu bahkan tak pernah menyentuh kami sekalipun, selain untuk menghisap darah" ujar Licia dengan serius.
"Itu benar, apa kamu hanya menganggap kami sebagai gudang darah?!" sambung Yuki.
"Onee-chan, kurasa Ferisu-sama tak berfikir begitu..." ucap Shiro mencoba untuk membela Ferisu.
"Yah kurasa juga begitu" sambung Sui. "Ferisu-kun, kau pasti punya alasannya bukan?" ucap nya sembari tersenyum simpul.
Mendengar hal itu Ferisu pun mengalihkan pandangannya, sembari memikirkan hal itu "Baiklah... aku akan mengatakannya" ucapnya sembari memejamkan matanya.
__ADS_1
"Besok nanti, kita akan melakukan pertemuan. Disana aku akan mengatakan kebenaran yang ku sembunyikan dari kalian" ucapnya sembari bangun dari kursi dan pergi menuju ke rumahnya.
Di keesokan harinya semua orang berkumpul di alun-alun desa, Ferisu berdiri di depan semuanya. Semua orang kebingungan dengan apa yang terjadi, berbeda dengan para blood couple yang terlihat begitu kawatir dengan apa yang akan di ucapkan oleh Ferisu.
"Selamat pagi semuanya, maaf karena aku meminta kalian semua berkumpul secara tiba-tiba seperti ini" ucap Ferisu memberikan salam.
"Sebenarnya ada satu hal yang ku sembunyikan dari kalian semua, aku sebenarnya berasal dari dunia lain."
Mendengar hal itu sontak semua orang terkejut, kecuali Sui yang merupakan dewi air.
"Pertama-tamu aku ingin minta maaf karena telah menyembunyikan hal ini, terlebih lagi kepada Licia, Sui, Yuki dan Shiro. Sebenarnya aku tak tau soal ritual itu sebelumnya, tetapi setelah bertemu dengan Licia aku tahu mengenai hal itu. Walaupun aku tau, tetapi aku tetap meminum darah kalian tanpa memikirkan hal itu, jadi aku minta maaf" ucap Ferisu dengan begitu tulus.
"Aku tahu ini terdengar cukup egois, tapi aku ingin melihat dunia ini dan berpergian ke tempat-tempat yang belum pernah kulihat. Jika misalnya perasaan kalian padaku menghilang dan menemukan pria lain, aku tak akan menghentikan kalian."
Setelah mendengar hal itu Licia dan yang lainnya pun menghela nafas lega. "Perasaan ku tak akan pernah berubah, meskipun yang lain pergi saya akan tetap berada di samping Ferisu-sama" ucap Licia dengan senyum manis.
"Siapa yang bilang akan pergi! aku juga akan tetap berada di sisi nya"
"Hahaha, sepertinya mereka bertiga benar-benar mencintaimu Ferisu-kun" ucap Sui.
Semua iblis yang ada disana pun tak memikirkan soal itu, malahan mereka senang jika tuannya begitu kuat tanpa memikirkan latar belakangnya. Waktu pun berjalan dengan cepat, semua orang kembali ke pekerjaan nya masing-masing dalam meningkatkan kualitas hidup di pulau.
Hingga malam hari pun tiba, di dalam rumah Ferisu yang sudah di tingkatkan menjadi lebih besar karena yang tinggal cukup banyak, sekaligus menjadi balai desa. Licia dan Shiro sedang memasak makan malam. Di meja makan mereka semua menyantap hidangan hangat yang telah di siapkan.
"Oh ya, Sui-san kamu sepertinya gak terkejut mendengar Ferisu-sama bilang kalau dia berasal dari dunia lain" ucap Licia.
"Hmmm? karena aku sudah mengetahui saat pertama kali bertemu" jawab Sui dengan polos.
__ADS_1
"Haa! kenapa kau tak memberi tahu kami?" teriak semua orang.
"Eh? kukira kalian semua sudah tahu mengenai hal itu" ucap Sui dengan terkejut. "Saat pertama kali aku bertemu dengannya, dia membebaskan ku dari belenggu yang menyegelku, selain itu aku juga merasakan sedikit kekuatan dewa dari dalam dirinya" jelas Sui.
"Begitu yah... setidak nya aku ingin dia membawa kita jika ingin berpergian" ucap Licia.
"Yah kau benar, tapi dia bilang akan segera kembali" sambung Yuki sembari mengambil air minum.
"Shiro harap Ferisu-sama tak akan bertemu dengan wanita dan menambah orang lagi" gumam Shiro.
Mendengar hal itu semuanya pun sontak terdiam terkejut, mereka pun memikirkan hal itu.
Disisi lain Ferisu yang sedang terbang menuju ke wilayah dwarft "Hacwih... apa ada yang sedang membicarakan ku?" gumamnya sembari turun untuk beristirahat.
"Kurasa aku akan sampai di salah satu kota di pinggiran wilayah dwarf besok" ucap nya sembari membangun tenda untuk tidur.
Malam pun berlalu cepat hingga menjelang pagi hari, Ferisu segera bangun dan membereskan kemahnya sembari memasak sarapan. Setelah itu ia melanjutkan perjalanannya hingga ia melihat sebuah kota dari kejauhan dan turun di sebuah padang rumput.
Hal itu di lakukan olehnya agar tak menarik perhatian, jika dia terbang hingga dekat dengan kota dan terlihat oleh seseorang. Hal itu akan memicu ke salah pahaman dan berfikir jika ada iblis yang ingin menyerang. Setelah turun, ia pun berjalan mengikuti jalan setapak yang mengarah ke kota itu.
Saat berjalan menuju ke arah kota, terdengar suara tapak kaki kuda yang mendekatinya. "Hei kau yang disana!" ujar kusir kuda tersebut.
Mendengar teriakan itu Ferisu pun berhenti dan menoleh kebelakang "Iya? apa ada yang bisa ku bantu?" tanya nya dengan heran.
"Tidak, maaf karena memanggil mu secara tiba-tiba. Tapi, tuan ku ingin memberikan mu tumpangan menuju ke kota yang ada di depan" ucap kusir itu dengan sopan.
Ferisu pun memerhatikan kereta kuda tersebut, kereta itu terlihat megah dan memiliki tanda sebuah keluarga bangsawan. "Terimakasih atas tawarannya, tapi mohon maaf saya tidak bisa menerimanya" ucap Ferisu dengan sopan.
__ADS_1
Pintu kereta itu pun terbuka dan terlihat seorang gadis turun dari kereta tersebut. "Tak perlu bersikap sopan begitu"