
Setelah mengalahkan semua kesatria yang menyerang desa itu, Ferisu dikelilingi oleh kesatria elf yang sudah mengarahkan panah dan pedang mereka. Begitu pula dengan para penduduk desa, mereka semua mengangkat kapak, garpu rumput, celurit dan cangkul.
Ferisu menoleh sedikit dengan tatapan yang begitu dingin. "Apa kalian ingin bertarung melawanku juga?" tanyanya dengan aura membunuh yang besar.
Semua elf yang ada disana tersentak saat merasakan aura membunuh yang begitu kuat hingga membuat kaki mereka gemetaran. "Se-semuanya, turunkan senjata kalian!" teriak seorang elf yang terlihat seperti pemimpin pasukan.
Mereka semua seorang elf yah. Apa sekarang sedang terjadi perang disini? Sampai para bajingan ini menginvasi wilayah para elf.
"Hei, apa ada kota di dekat sini?" tanya Ferisu pada para elf.
"Apa yang kau rencanakan di kota?" tanya balik elf dengan curiga.
"Aku hanya ingin hidup dengan tenang," jawab Ferisu. "Itupun kalau aku bisa ... ," gumamnya pelan.
Para elf itu tampak tak percaya dengan perkataan Ferisu setelah melihat pembantaian yang ada di depan mata mereka. Namun, disisi lain mereka juga berterima kasih karena Ferisu telah mengalahkan semua pasukan dari Rigle sehingga tak ada korban jiwa dari para penduduk desa.
"Apa kamu bukan manusia?" tanya seorang elf dengan ragu.
"Begitulah, aku seorang vampir," jawab Ferisu sembari menyarungkan pedangnya.
Mendengar jawaban itu semua elf tampak berjalan mundur secara perlahan dengan ekspresi yang ketakutan. Ferisu merasa heran karena hal itu, ia mencoba bertanya kepada para elf. Namun, tak ada satupun yang berani untuk menjawab pertanyaannya.
"Kenapa kalian terlihat begitu takut setelah tau aku adalah vampir?"
Seorang elf yang memimpin pasukan maju kedepan. "Itu karena ras vampir sudah punah 200 tahun yang lalu. Dhampir mungkin masih ada namun, jika vampir murni itu sangatlah langka," jelasnya.
"Aku tak peduli soal itu, sekarang jawab pertanyaan ku sebelumnya, dimana arah kota terdekat?"
"Apa kau tak akan melakukan kerusakan disana? Ingatlah, sekarang kau berada di wilayah elf, jika kau bertindak yang tidak-tidak semua elf bisa menjadi musuhmu!" ingat pemimpin pasukan elf.
"Ya, ya, jadi dimana arahnya?" saut Ferisu seolah tak peduli dengan peringatan elf itu.
"Naiklah, kami akan membawamu kesana," ujar pemimpin pasukan mengulurkan tangannya dari atas kuda.
__ADS_1
Ferisu menerima tumpangan itu dan pergi bersama pasukan elf menuju kota terdekat. Sebuah kota yang berada di pinggir wilayah, merupakan kota yang di penuhi oleh kesatria dan petualang. Untuk memperkuat pertahanan, mereka selalu mendidik banyak orang menjadi seorang kesatria demi menjaga keamanan kota.
Para petualang merupakan sekumpulan orang yang bebas, mereka tak terikat oleh apapun, baik negara ataupun kekuasaan. Bisa dibilang para petualang hampir sama dengan prajurit bayaran. Hanya dengan memberikan mereka uang, mereka akan mengerjakan apapun sesuai dengan apa yang disepakati. Para petualang biasanya berada di sebuah guild dan mengambil quest (pekerjaan) disana.
Setelah perjalanan yang cukup lama akhirnya mereka sampai di gerbang kota. Para penjaga gerbang menyambut para kesatria yang kembali dengan hangat, tanpa mempertanyakan soal pemuda berambut silver yang ikut bersama dengan mereka.
"Terima kasih atas tumpangannya," ucap Ferisu setelah turun dari kuda.
"Ya, tapi ingat soal apa yang kukatakan sebelumnya. Jika kau membuat sebuah keributan dan membahayakan kota ini, jangan harap kami akan berbuat baik padamu," tegas elf itu.
Ferisu berjalan pergi dan melambaikan tangannya tanpa menghiraukan peringatan elf itu. Berjalan mengitari kota, kebanyakan penduduknya adalah elf, walaupun ada beberapa ras lain disana.
Ugh~ aku sudah berjalan cukup lama tapi, aku tak bisa membaca tulisan di kota ini.
Ferisu menoleh ke kiri dan ke kanan, melihat sebuah bangunan dengan tulisan "ᏝᎥᏁᎴᏗ ᏰᏗᏦᏋᏒᎩ" karena mencium aroma yang harum, ia berjalan masuk kedalam toko.
Bangunan itu merupakan sebuah toko roti yabg menjual berbagai macam jenis rerotian. Bau harum yang tercium dari roti yang baru selesai dipanggang benar-benar membuat perut tergoda untuk memakannya. Ferisu berjalan dan mengambil berbagai macam roti lalu membawanya ke meja kasir.
"5 perak?" gumam Ferisu pelan.
Saat itu ia baru tersadar kalau dirinya tak memiliki uang sepeserpun. Ia termenung diam di depan meja kasir sembari memikirkan sesuatu.
"Tuan pelanggan?" ucap kasir itu dengan heran.
Ferisu pun tersentak, "Ah, maaf. Aku lupa kalau sedang tak memegang uang, apa bisa aku membayarnya dengan material monster?"
Kasir itu menggelengkan kepalanya. "Maaf tuan, tapi kami tak menerima pembayaran melalui material monster. Jika material monster, anda bisa menjualnya di guild petualang atau toko terkait," jelas kasir itu.
"Hmmm~ baiklah, bungkus saja roti-roti itu. Aku akan kembali setelah menjual material monsternya," ujar Ferisu berjalan keluar dari toko.
Ah, seharusnya aku bertanya dimana lokasi guild petualang.
Karena tak bisa membaca huruf yang ada di dunia itu, Ferisu berjalan berkeliling dan bertanya kepada orang-orang lokasi guild petualang hingga pada akhirnya ia pun sampai di sana.
__ADS_1
"Jadi ini guild petualang kota ini?" gumam Ferisu di bangunan guild.
Saat memasuki bangunan itu suasananya begitu berbeda dengan di kota. Ada banyak sekali orang yang terlihat kuat, bukan hanya elf tetapi ada juga berbagai macam ras yang lain. Ferisu berjalan menuju ruang resepsionis untuk menjual material monster yang ada di dalam penyimpanannya.
"Permisi," ucap Ferisu.
"Iya, apa ada yang bisa saya bantu?"
"Apa aku bisa menjual material monster disini walaupun belum mendaftar sebagai petualang?" tanya Ferisu.
"Tentu, anda bisa menaruh materialnya disini. Kami akan menilainya dan memberikan bayaran," jelas resepsionis.
Ferisu mengeluarkan seekor blade tiger yang masih utuh. Semua orang yang ada di dalam guild sontak terkejut melihat mayat monster tingkat tinggi. Ferisu terlihat cukup kebingungan melihat reaksi dari resepsionis serta semua orang yang ada di guild.
Apa? Apa aku melakukan hal yang tak seharusnya?
"T-Tuan, apa anda seorang petualang tingkat atas?"
"Hah? Bukannya aku sudah bilang kalau aku belum mendaftar sebagai petualang," jawab Ferisu dengan heran.
"A-apa anda yang mengalahkan monster ini?"
"Iya, apa ada yang salah? Apa mungkin monster ini terlalu murah?" tanya Ferisu memastikan harga.
"Tidak, tidak, tidak, material dari monster ini sangat mahal!" ujar resepsionis itu dengan lantang.
Ferisu tersenyum, "Kalau begitu tolong dibeli."
Setelah melakukan pengecekan setiap tubuh, monster itu dibunuh dengan cukup rapi hingga tak menimbulkan dampak yang buruk bagi kualitas materialnya. Para staff guild kebingungan bagaimana caranya Ferisu membunuh monster itu, tak ada satupun bekas sayatan ataupun luka sihir di bagian luar monster.
"Aku mengalahkannya dengan menghancurkan jantungnya," ucap Ferisu dengan santai melihat para staff guild itu kebingungan.
Setelah selesai Ferisu mendapatkan bayaran yang cukup banyak dari monster yang ia jual kepada pihak guild.
__ADS_1