
Setelah pergi dari guild Ferisu pun mencari penginapan, namun dia hanya menemukan satu penginapan besar di kota tersebut. Setelah bertanya ke sana kemari semua orang bilang jika hanya ada satu penginapan di kota itu, yakni penginapan silver smith.
Setelah memesan kamar dan tiba di depan pintu kamar miliknya, Ferisu bertemu dengan seorang gadis yang memberikan tumpanagan padanya pagi tadi.
"Hei, ternyata kamu juga menginap disini yah" ucap gadis itu.
"Ahaha, lagi pula cuma ini satu-satunya penginapan di kota ini..." balas Ferisu dengan canggung.
"Ada apa?" tanya gadis itu heran.
"Ah tidak apa-apa.. hanya saja..." jawab Ferisu sembari mengalihkan pandangannya dan menunjuk ke arah pakaian gadis itu.
Gadis itu pun melihat ke arah pakaiannya dan melihat jika kancing bajunya terbuka sehingga menampakkan pakaian dalamnya. "Eh, kyya..." gadis itu pun berteriak kecil sembari menutup dadanya.
"Kalau begitu aku masuk ke kamarku dulu" ujar Ferisu membuka pintu kamarnya dan masuk kedalam.
Hari pun berganti, Ferisu pergi menuju ke guild petualang untuk mencari sebuah party demi pergi ke dungeon. Namun, sulit untuk membuat sebuah party mengetahui jika guild itu begitu sepi. Di pagi hari itu, ia bertemu dengan ketiga petualang yang di tolong sebelumnya dan juga rombongan gadis bangsawan.
Ferisu pun menghampiri meja resepsionis untuk meminta bantuan pencarian party. Namun, resepsionis itu bilang jika dirinya bisa pergi ke dungeon sendirian. setelah mendengar hal itu Ferisu pun meninggalkan guild dan langsung pergi menuju ke dungeon.
Tetapi ketiga petualang dan rombongan gadis bangsawan itu juga ikut menuju ke dungeon. Walau pun begitu, tujuan mereka semua berbeba. Para petualang bertujuan mengumpulkan kristal sihir untuk dijual, rombongan gadis bangsawan hanya melakukan latihan, sedangkan Ferisu mencari sebuah pedang sihir.
Dungeon yang di masukki adalah dungeon bertipe goa, memiliki lorong yang bercabang dan terkadang membuat para petualang tersesat. Memiliki beberapa jebakan seperti lingkaran sihir teleportasi dan ruangan yang di penuhi oleh monster. Tetapi ada suatu hal yang belum di ketahui oleh Ferisu mengenai sebuah dungeon.
"Jadi ini dungeon yah... bukannya sama seperti goa biasa?" gumam Ferisu melihat sekitar dungeon.
"Yah, karena ini dungeon tipe goa" ujar petualang yang mendengar gumaman Ferisu.
__ADS_1
Walau tujuan mereka semua berbeda, mereka tetap berjalan bersama untuk menelusuri dungeon tersebut. Singkat perjalanan mereka pun sampai di lantai 5 dungeon, dimana para monster akan mulai bermunculan. Ketika berjalan menuju ke arah tangga lantai 6 mereka di hadang oleh sekelompok goblin.
"Semuanya bersiaplah! kita akan menghabisi mereka!" ujar petualang, begitu pula dengan rombongan gadis bangsawan. Mereka semua bersiaga untuk melakukan pertarungan, berbeda dengan Ferisu yang enggan melakukannya.
"Tunggu.." sela Ferisu berjalan mendekati kawanan goblin tersebut.
Ferisu mencoba untuk berbicara pada para goblin itu, namun dia diserang secara tiba-tiba dengan niat membunuh yang begitu kuat. "Apa yang kalian lakukan!?" teriak Ferisu mundur sembari menghindari setiap lemparan pisau beracun.
Melihat hal itu para petualang dan rombongan gadis petualang itu pun maju dan menghabisi semua goblin tersebut. "Apa yang kau lakukan barusan? itu sangat berbahaya kau tau?" ucap gadis bangsawan dengan heran.
"Mereka itu dari ras demond bukan? setidaknya aku ingin berbicara dengan mereka dan meminta mereka membiarkan kita lewat..." jawab Ferisu.
"Hah?" semua orang pun heran dengan apa yang di bicarakan oleh Ferisu.
"Etto... apa kamu gak tau kalau, ras demon dengan para monster di dungeon itu berbeda?"
Gadis itu pun menjelaskan mengenai hal tersebut pada Ferisu dengan baik. Semua monster yang berada di dalam dungeon biasanya memang mirip dengan para demond. Seperti goblin, orc, ogre dan lain sebagainya. Namun, mereka memiliki perbedaan yakni memiliki akal dan tidak.
Monster di dalam dungeon hanya memiliki insting yang kuat untuk mengalahkan semua penyusup yang memasuki dungeon. Itulah mengapa mereka tak akan pernah takut mati untuk mengalahkan setiap penyusup. Tak peduli seberapa kuat orang yang masuk kedalam dungeon, mereka tak akan ragu-ragu untuk melompat dan melawannya.
Tetapi, bukan berarti semua monster di dalam dungeon seperti itu semua. Ada beberapa dari mereka yang memiliki kecerdasan, seperti bos lantai dan beberapa individu yang spesial. Setelah mendengar penjelasan itu, Ferisu pun bisa dengan tenang untuk mengalahkan monster di dalam dungeon.
Walaupun dia masih tetap enggan melakukannya, meski pada kehidupan sebelumnya dia dijuluki mesin pembunuh. Ia masih memiliki sebuah hati, dimana dia tak ingin menyakiti keluarganya atau orang yang di sayangi nya. Hal itu terjadi akibat trauma yang di alaminya saat masih kecil, dimana dia membunuh kedua orang tuanya sendiri. Dari sana dia berjanji untuk melindungi semua keluarganya dan tak ingin menyakiti mereka.
...----------------...
Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju ke lantai 10 dimana bos lantai pertama akan muncul. Tujuan mereka yakni pergi menuju ke lantai sebelas, dimana pada lantai itu dan ke atas nya banyak sekali monster yang kuat dan kristal sihir yang bernilai.
__ADS_1
Penjaga lantai 10 adalah minotaur, sebuah monster manusia setengah banteng. Memiliki tubuh yang besar dengan kekuatan penghancur, senjata yang digunakannya adalah sebuah palu yang besar.
Selama perjalanan menuju ke ruangan bos tersebut Ferisu tak pernah ikut dalam pertarungan sama sekali. Semua monster diatasi oleh para petualang dan rombongan gadis itu. Sehingga kakak gadis itu terus-terusan mengoceh dan mencaci Ferisu sepanjang perjalanan.
"Hoi, sampah sebaiknya kau tak menggangu kami"
"Ya.. aku hanya akan menonton di belakang" balas Ferisu tak acuh sembari berjalan mundur kebelakang.
"Tch.. dasar tak berguna"
Pertarungan pun berlangsung dan berhasil di menangkan, sehingga pintu menuju lantai ke-11 terbuka. Lantai 11 sangat lah berbeda dengan 10 lantai sebelumnya yang berbentuk sebuah goa, di lantai 11 adalah sebuah lapangan yang luas dengan padang rumput hijau. Bisa dibilang ini adalah zona aman untuk para petualang beristirahat, sedangkan untuk lantai 12 dan seterusnya akan kembali menjadi goa.
"Sebuah padang rumput?" gumam Ferisu melihat pemandangan yang berbeda dari sebelumnya.
"Itu benar, ini adalah sebuah zona aman bagi para petualang" ujar gadis itu.
"Zona aman, biasanya akan berada di pertengahan 10 lantai atau bisa ada di lantai pertama setelah mengalahkan bos" jelas petualang.
"Begitu yah, terimakasih karena telah menjelaskan hal tersebut. Mulai dari sini aku akan melakukan perjalanan sendiri" ujar Ferisu berpamitan dengan rombongan tersebut.
"Ya, berhati-hatilah" ujar ketiga petualang itu sembari melambaikan tangan.
"Heh, akhirnya beban itu pergi juga" ujar kakak gadis itu dengan angkuh.
"Apa tak apa membiarkan dia sendirian?" tanya gadis itu dengan kawatir.
"Tak apa, walau pun begitu dia pasti orang yang kuat, mungkin..." jawab petualang itu mengingat kejadian sebelumnya dimana Ferisu menyembuhkan teman mereka.
__ADS_1