Reinkarnasi Menjadi Vampire Membawa Perdamaian Di Dunia Lain

Reinkarnasi Menjadi Vampire Membawa Perdamaian Di Dunia Lain
Chapter 48 : Dendam


__ADS_3

Di ruang tahta kerajaan Rigle, Ferisu berhadapan dengan dua kubu yakni pria berambut abu-abu dan orang Rigle. Saat itu pria berambut abu-abu itu mencoba untuk mengajak Ferisu untuk memihaknya dengan alasan punya dendam yang sama. Pada saat itu Ferisu mengabaikan pria berambut abu-abu itu dan berjalan secara menuju ke orang Rigle.


"Apa yang mau kau lakukan?!". Ujar raja Rigle dengan ketakutan.


Saat berjalan Ferisu secara perlahan mengubah wujudnya menjadi manusia yang pastinya akan di kenali orang Rigle. "Lama tak bertemu". Ujar Ferisu dengan senyum simpul.


"Ka~kamu...!". Ucap raja Rigle dengan gemetaran.


"Aku akan mengurusmu nanti, setelah kedua kesatria disana". Ujar Ferisu menatap kedua orang yang pernah menyiksanya saat pertama kali tiba di dunia ini. Karena pada saat itu statusnya belum selesai di perbarui, kekuatan fisik yang ia punya saat di dunia sebelumnya juga menghilang.


Karena itu lah saat kesatria itu memukulnya, Ferisu bisa langsung mai jika kesatria itu melakukannya dengan kekuatan penuh. Kedua kesatria itu pun gemetaran dan merasakan hawa membunuh yang sangat besar mendekat ke arah mereka.


"Kalian berdua, apa kita bisa bermain sebentar di ruang bawah tanah?". Ujar Ferisu dengan tersenyum sinis.


Kedua kesatria itu tak bisa bergerak karena tubuh mereka mati rasa akibat ketakutan. Ferisu pun menggeret mereka berdua menuju ke ruang penjara bawah tanah di kerajaan Rigle. Kedua kesatria itu di masuk kan kedalam sel dengan keadaan terikat rantai.


"Hmmm, enaknya pake apa dulu buat pembukaan? lepasin kuku? di pukul dengan keras? di cambuk? atau yang lain? kalian bisa memilih yang mana saja loh". Ujar Ferisu sembari mengelus pisau kecil di tangannya.


Setelah meletakkan pisau itu di meja yang penuh dengan peralatan, Ferisu pun mendekat ke dua prajurit itu dan menghantam kedua perut mereka dengan keras. Hingga keduanya memuntahkan darah, bahkan hampir mau pingsan.


"Tenang saja, aku akan menyembuhkan kalian, kita bisa melakukannya berapa kali pun". Ujar Ferisu dengan senyum sinis sembari mengambil tang di atas meja.


"Apa kamu bisa menghentikan itu?". Terdengar sebuah suara wanita di lorong penjara tersebut.


Mendengar suara itu, Ferisu pun meletakkan tang itu kembali ke meja dan berjalan mendekati sumber suara. Saat dia sampai disana, terlihat seorang gadis yang sendirian di dalam jeruji besi.


"Kenapa kau menghentikan ku?". Tanya Ferisu dengan heran sembari melihat gadis itu.


"A~ aku tak bermaksud begitu... hanya saja, bukannya lebih baik kamu memaafkan mereka? dari pada membalas dendam yang dendam itu akan terus berlanjut". Ujar gadis itu sembari menunduk.


"Pfft... haha, apa kau mengkhawatirkan kan ku? aku tak tau kau siapa, tapi tak peduli apa yang ku lakukan itu tak ada hubungannya dengan mu". Balas Ferisu dengan tatapan tajam ke gadis itu.

__ADS_1


"Te~ tentu saja itu ada hubungannya dengan ku... aku adalah putri kedua dari kerajaan Rigle!". Ujar gadis itu dengan tegas.


Mendengar hal itu, emosi Ferisu sedikit naik tetapi ia menahannya dan tetap berfikir jernih. "Oke, aku akan menghiraukan lelucon mu barusan. Tak mungkin seorang putri bisa di penjara seperti ini".


"Yah... seharusnya memang tidak. Tetapi karena aku melawan ayah ku sang raja dan kakak ku si putri pertama, aku pun di buang dan di penjara di sini". Ucap gadis itu dengan nada sedih.


Mendengar hak itu Ferisu membuka pintu penjara itu dan berjalan mendekati gadis itu secara perlahan. Setelah melepaskan borgol rantai yang mengikat gadis itu Ferisu memberikan setetes darahnya dan menyuruh gadis itu untuk meminumnya.


"Apa ini..?". Gumam gadis itu yang melihat semua luka dan merasa tubuhnya menjadi membaik.


Ferisu hanya tersenyum simpul. "Sekarang kau sudah bebas, oh yah jangan coba-coba untuk naik ke atas". Ujar Ferisu pada gadis itu sembari berbalik badan.


"Tuan, apa anda yakin?". Tanya Kuro dengan telepati.


"Yah, gadis itu tak berbohong sama sekali". Balas Ferisu.


"Begitu yah, tuan cukup licik yah".


"Apa kau tau apa yang mereka lakukan pada ku sebelumnya?". Tanya Ferisu dengan dingin.


"Ugh.. a~aku memang tak tau.. tapi-".


"Ah, sudah lah. Niat ku sudah menghilang...". Ucap Ferisu sembari menebas kedua kepala kesatria itu secara cepat.


Gadis itu pun terdiam sejenak karena syok dengan apa yang dia lihat. "A~ apa yang kau lakukan?!". Teriak gadis itu dengan panik.


"Lebih baik bukan? mereka tak mengalami rasa sakit apapun". Balas Ferisu acuh tak acuh.


Ia pun berjalan kembali ke atas ke ruangan singgasana raja, gadis itu pun mengikuti Ferisu dengan perasaan takut.


"Hei... kenapa kau tak membunuhku?". Tanya gadis itu dengan heran sembari menahan rasa takut.

__ADS_1


"Hmm? itu karena kau berbeda dengan mereka". Jawab Ferisu tanpa menoleh.


Gadis itu pun terkejut dengan apa yang di katakan oleh Ferisu. Sebelumnya saat gadis itu meminum setetes darah dari Ferisu, secara tak langsung tubuhnya memang di sembuhkan. Tetapi, darah itu juga memasuki saluran darah yang bergerak ke otak dan melihat ingatan dari gadis itu.


Hingga pada akhirnya mereka sampai di ruang tahta. Diruangan itu sudah penuh dengan genangan darah dari orang-orang Rigle dan seorang pria dengan rambut abu-abu duduk di atas tumpukan mayat tersebut. Menyisakan seorang raja dan putri pertamanya yang terikat oleh tangan bayangan dengan tubuh yang sudah penuh dengan luka.


"Ayahanda, Kakak!". Teriak gadis itu saat melihat hal tersebut.


"Hooo... ternyata masih ada satu lagi". Ujar pria itu sembari melihat ke arah gadis itu dengan sinis.


Belum sampai ke tempat ayah dan kakaknya, mereka berdua terbunuh tepat di depan matanya. "Eh?". Gadis itu pun terduduk diam karena syok.


Pria berambut abu-abu itu pun tertawa dengan keras karena puas saat melihat muka dari si gadis yang sangat putus asa. Pria itu pun berjalan secara perlahan dan hendak menusuk gadis itu dengan tombak kegelapan.


"Hentikan itu". Ucap Ferisu sembari menahan tangan pria itu.


"Lepaskan!". Teriak pria itu dan menepis lengan Ferisu dengan keras.


"Dendam mu sudah terbalaskan bukan? gadis ini tak punya hubungan dengan mereka". Ujar Ferisu dengan tengah sembari berdiri membelakangi gadis itu.


"Haaa?! dia itu putri kedua dari kerajaan ini! tentu saja dia ada hubungannya!". Teriak pria itu dengan ketus.


Ferisu pun menghela nafas pendek dan menatap pria itu dengan tajam. "Memang benar dia putri kedua tapi, pemikirannya begitu berbeda dengan yang lain".


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2