Reinkarnasi Menjadi Vampire Membawa Perdamaian Di Dunia Lain

Reinkarnasi Menjadi Vampire Membawa Perdamaian Di Dunia Lain
Chapter 56 : Land Of Moonlight


__ADS_3

Setelah kembali ke pulau, para dwarf yang ikut di sambut dengan hangat oleh para warga yang tinggal di sana. Mereka membuat sebuah pesta penyambutan yang begitu meriah untuk para dwarf. Malam pesta yang begitu meriah dan semua orang juga sangat gembira.


"Sedari tadi saya hanya diam saja tapi, siapa wanita yang selalu menempel pada anda ini Ferisu-sama?" ujar Licia dengan senyum yang sedikit menakutkan.


"Itu benar, kami juga ingin menanyakan hal itu!" ucap ketiga gadis lainnya sembari menatapi Ferisu dengan tajam.


Meian pun berdiri di depan Ferisu dengan ekspresi muka yang sombong. "Kalian semua dengar yah, aku ini adalah wanita pertama yang bertemu dengan Ferisu-sama. Te~ terus Ferisu-sama juga sudah meraba semua bagian tubuhku" ucap nya dengan menutupi mukanya yang memerah.


"Woi!" teriak Ferisu yang panik.


"Apa kamu bisa menjelaskan apa yang dikatakannya Ferisu-sama?" ujar Licia dengan senyuman, begitu pula dengan yang lainnya.


"I..itu memang benar... tapi juga tidak..." ujar Ferisu dengan canggung.


"Duduk!"


"Iya!" Ferisu pun spontan menjawab dan melakukan yang di katakan oleh Licia.


"Pffft...ahahaha!" Meian pun tertawa kencang karena melihat tingkah tuannya yang lucu. "Maaf, maaf sepertinya aku sudah berlebihan. Kalian tak perlu kawatir, aku adalah pedang yang selalu di bawa oleh Ferisu-sama" jelas Meian.


"Pedang? maksudmu pedang hitam itu?" tanya Yuki.


"Ya, itu benar" jawab Meian sembari berubah ke wujud pedangnya, kemudian kembali lagi ke wujud manusianya. "Jadi begitulah, tak perlu kawatir. Aku tak akan mengambil nya dari kalian, lagi pula aku hanyalah sebuah pedang" ucap Meian menenangkan para gadis itu.


"Tidak, pokoknya malem ini Ferisu-sama harus tidur dengan kami!"


Ferisu pun bangun dari duduknya dan melihat ke arah Meian dengan tatapan tajam. "Terima kasih berkat mu aku terkena masalah" ucap Ferisu dengan telepati.

__ADS_1


"Ahaha... maaf kan saya tuan!"


Setelah pesta itu selesai Ferisu berbicara dengan kesepuluh dwarf yang ikut bersamanya mengenai projek kedepannya. Meningkatkan perumahan, kekuatan tempur dan lainnya. Ferisu memberikan sebuah kertas yang menunjukkan lokasi tempat pembangunan.


Membuat sebuah ladang yang luas untuk bertani di dekat sungai, yang bersebrangan dengan peternakan. Peningkatan kualitas rumah para penduduk, membuat sector perhutanan untuk menanam kayu. Akan dibuat menjadi 8 tempat yang masing-masing menanam pohon yang berbeda-beda.


Setelah selesai berbincang dengan para dwarf, Ferisu pun kembali kerumahnya. Di balik pintu rumah sudah ada 4 gadis cantik yang menunggunya. "Okaerinasai" ucap mereka berempat secara bersamaan.


"Tadaima" jawab Ferisu dengan tersenyum.


"Etto... Ferisu-sama gak akan pergi lagi kan..?"


"Tidak, aku akan tetap di sini. Maaf yah, karena aku selalu berpergian"


Untuk saat ini Ferisu akan tetap berada di pulau untuk meningkatkan kualitas hidup disana. Dia selalu berpergian seperti bang toyib yang jarang pulang, hal itu membuatnya sadar jika ada orang yang menunggu kepulangannya.


Seiring berjalannya waktu perkembangan di pulau meningkat dengan cepat. Desa yang dulu masih terlihat tidak berkembang, kini sudah hampir menjadi seperti kota kecil yang berkembang. Penduduk yang tinggal pun semakin bertambah, baik dari manusia, dwarf, beastmam ataupun elf.


Bahkan sudah ada yang menikah dan mempunyai anak, sebuah keluarga yang harmonis. Dengan kota yang damai tanpa adanya permusuhan, hidup secara berdampingan tanpa adanya rasa benci antar sesama.


Setelah kepindahan para dwarf pulau itu berkembang dengan begitu cepat hanya dalam kurun waktu 4 bulan. Mulai dari sana Ferisu selalu menghadapi masalah yang begitu berat.


Di pagi yang cerah Ferisu bertemu dengan Drome, dwarf yang ahli dalam konstruksi. "Oh Ferisu-dono, selamat pagi. Kenapa anda terlihat begitu kelelahan?"


"Kau yakin bertanya begitu Drome-san..." jawab Ferisu sembari menguap.


"Ahaha, pasti sulit melayani 4 wanita sekaligus di malam hari. Seperti yang di harapkan dari Ferisu-dono, ahahaha"

__ADS_1


"Huft... entah kenapa akhir-akhir ini mereka sangat bersemangat. Aku hampir kering akibat mereka, huft..."


Di sebuah lahan yang kosong Ferisu ingin membangun sebuah pemandian air panas. Karena dekat dengan sungai, air tidak menjadi sebuah masalah. Untuk menghangatkan airnya, Ferisu meminta para dwarf untuk membuat sebuah alat sihir menggunakan magic stone dari salamander.


Pemandian itu sangat besar dan bisa menampung banyak orang, tentu saja pria dan wanita di pisah. Karena bantuan banyak orang, pemandian itu bisa di bangun dengan lebih cepat. Setelah selesai Ferisu mengajari mereka cara untuk memasuki pemandian.


"Ahh... rasanya seperti hidup kembali..." gumam Ferisu saat berendam di dalam pemandian.


Di saat itu Ferisu memikirkan suatu hal yang sangat penting. "Bukannya aku seharusnya menamai tempat ini? death land adalah nama pulai ini karena menjadi pulau mati. Tapi sekarang sudah menjadi pulau yang subur dan memiliki sebuah kota yang maju"


Selama bersantai di dalam pemandian Ferisu mencari sebuah nama untuk pulau yang ia tinggali sekarang atau bisa di bilang kerajaan baru yang akan terlahir. Walau pun sudah berpikir cukup lama, ia masih belum mendapatkan nama yang bagus. Karena hal itu ia pun kembali kerumahnya.


"Aku pulang..."


"Selamat datang kembali.." sambut ke empat perempuan itu dengan ceria.


Di malam itu Ferisu mengajak semua penduduk di pulau untuk menaiki sebuah bukit dengan dataran yang cukup luas. Dari bukit itu mereka bisa melihat ke seluruh pulau. Bukit itu berada di tengah-tengah pulau, berdekatan dengan danau dimana sumber air di pulau ini muncul.


Saat melihat langit penuh dengan bintang, dan cahaya bulan yang terang menyinari mereka. Ferisu pun mendapatkan sebuah nama yang ia cari selama ini. "Land Of Moonlight" gumamnya dengan pelan.


Licia yang mendengar gumanan itu "Kurasa itu nama yang indah Ferisu-sama" ucapnya dengan tersenyum.


Terlihat senyum kecil yang di tunjukkan oleh Ferisu di bibirnya, ia pun berdiri di hadapan semua orang. "Semuanya, terimakasih atas bantuan kalian selama ini. Tempat ini tak akan mungkin pernah berkembang tanpa adanya kalian"


Semua orang pun diam dan mendengarkan Ferisu dengan tenang. "Mulai saat ini aku umumkan, negeri yang kita tinggali ini bernama Land Of Moonlight!"


Alasan dari memilih nama itu karena saat berada di bukit itu orang-orang bisa merasakan jika cahaya bulan dengan terang menyinari orang yang berada disana. Terlebih lagi, pulau yang dulunya sudah mati kini menjadi pulau yang begitu subur.

__ADS_1


Orang-orang yang mendengar nama itu terdiam sejenak karena kagum, setelah itu mereka bersorak dengan sangat keras. "Woooaaahhhh!!!! nama yang indah Ferisu-sama!"


__ADS_2