
Di ruang tahta yang penuh dengan darah dan mayat, Ferisu berhadapan dengan pria berambut abu-abu dengan mata berwarna merah menyala. Mereka berdebat mengenai putri kedua kerajaan Rigle yang harus di bunuh atau tidak.
"Bukankah sudah cukup?". Tanya Ferisu.
"Apanya yang cukup!?". Balas pria itu dengan ketus.
"Kau sudah membunuh raja, putri pertama, jendral, menteri dan lainnya. Setidaknya lepaskan gadis ini, dia tak punya kaitan dengan mereka semua". Ujar Ferisu.
"Kugh.. kau kira aku akan melepaskan nya begitu saja!?". Teriak pria itu dengan ketus.
Ferisu hanya berdiri diam dan sesekali melihat kebelakang untuk memeriksa situasi gadis itu. Lagi dan lagi pria itu terus mencoba menyerang gadis itu dengan cara apapun, sihir dan serangan fisik dari nya tetap di halau oleh Ferisu dengan mudah.
"Bukannya kau juga punya dendam dengan mereka?!".
"Yah, tapi itu sudah selesai saat kau membunuh mereka semua". Balas Ferisu sembari melihat tumpukan mayat.
"Jangan bercanda dengan ku! aku sudah merencanakan hal ini dalam waktu yang lama!".
Pria itu terus membicarakan tentang rencana yang selama ini dia lakukan. Dari menghasut para manusia untuk melakukan pemanggilan pahlawan, menyerang wilayah elf dan beastman. Semuanya ia lakukan untuk menghancurkan kepercayaan negara sekutu yang ada di benua agar tak bersahabat lagi dengan Rigle.
"Jadi dengan kata lain... semua masalah yang kuterima saat datang ke dunia ini di sebab kan oleh mu yah". Ujar Ferisu dengan senyum simpul yang penuh dengan rasa kesal.
"Hah? apa yang kau katakan?". Ucap pria itu dengan kebingungan.
"Tidak, lupakan hal itu. Gadis ini aku ingin kau tak mengganggu nya, dia bisa menjadi ratu yang baik untuk negara ini". Ucap Ferisu sembari melirik putri ke dua Rigle yang sudah dalam keputusasaan.
"Kau kira aku akan mempercayai itu? manusia itu makhluk yang licik! walau mereka pada awalnya berteman dan baik. Tapi saat kita lengah mereka akan menyerang kita! ka~ karena itulah... aku... kehilangan kedua orang tua ku...". Ujar pria itu.
"Begitu yah, aku tau perasaan mu. Tapi tetap saja kau tak boleh membunuh nya".
"Kau tau soal perasaan ku, kau bilang? jangan bercanda! aku melihat mereka berdua mati tepat di depan mataku!".
"Yah, aku paham perasaan mu. Lagi pula aku juga pernah mengalami hal itu". Balas Ferisu dengan tatapan serius.
Pria itu pun terjiam sejenak karena ucapan Ferisu barusan, ia pun melihat ke arah gadis yang sedang di dalam keputusasaan ketika melihat orang yang di sayangi nya mati tepat di depan matanya.
"Baiklah...". Ujar pria itu dengan enggan.
__ADS_1
"Terima kasih". Ucap Ferisu dengan senyum simpul.
Ferisu pun menghampiri gadis itu dan memegang bahunya. Namun, gadis itu sudah hampir hancur dan sudah masuk terlalu dalam ke jurang keputusasaan.
"Oi! apa kau akan menyerah begitu saja?!". Ujar Ferisu.
"Eh..?". Gadis itu pun secara perlahan menoleh, tampak matanya yang sudah seperti ikan mati.
"Kau akan menjadi ratu negara ini bukan!". Teriak Ferisu di depan wajah gadis itu.
"Mustahil... lagi pula semuanya sudah berakhir...".
Plaaakkk!!!
"Sadarlah! kau adalah putri resmi kerajaan ini! orang yang mati disana bukanlah ayah dan kakak mu! mereka hanyalah orang asing yang mengambil hak mu!".
Saat itu rombongan pasukan beastman pun tiba di ruangan tahta, mereka terkejut dengan apa yang terjadi di ruangan itu. "Dimana raja mereka?". Tanya jendral beastman.
"Disana". Tunjuk pria berambut abu-abu.
"Tapi, dialah orang yang memanggil kami". Sela para pahlawan.
"Apa?! tunggu sebentar! jadi kau bilang dia bukanlah raja dari kerajaan ini?". Ujar pria berambut abu-abu itu dengan penuh kebingungan.
"Ya.. terus kau ini siapa?!!". Balas ketus jendral sembari mengarahkan pedangnya.
Ferisu pun berdiri sembari mengangkat gadis itu. "Kalian semua tenanglah". Ucap nya menenangkan situasi. Ferisu pun menjelaskan mengenai situasinya, karena ia sudah melihat isi ingatan dari gadis itu.
Raja dari kerajaan ini sebenarnya telah di jebak ketika gadis ini berusia 3 tahun dan orang yang mengambil alih itu adalah dalang di balik peperangan manusia dan iblis yang merujuk ke balas dendam pria berambut abu-abu. Setelah mendengar hal itu, pria itu diam sejenak dan hendak berjalan pergi.
"Hei, namaku Ferisu. Seperti yang kau liat aku ini iblis dan dari clan vampir". Ujar Ferisu memanggil pria itu.
Pria itu pun menoleh "apa?" ujarnya dengan heran.
"Apa kau ingin datang ke tempat ku? tinggal di sebuah pulau di mana semua ras hidup berdampingan". Ujar Ferisu dengan senyuman sembari mengulurkan tangannya.
"Ppfft... semua ras hidup berdampingan kau bilang? impian yang konyol".
__ADS_1
"Aku tau itu aneh, tapi dengan bantuan kalian semua. Mimpi itu mungkin akan terwujud".
Pria itu pun diam sejenak karena melihat muka Ferisu yang tersenyum dengan tulus mengajaknya. "Ry~ Ryou... itu nama ku". Ujarnya sembari memalingkan wajahnya.
"Mohon bantuannya Ryou-san". Ucap Ferisu dengan tersenyum.
Kembali ke topik sebelumnya, mereka akhirnya sadar jika kerajaan Rigle saat ini sedang tidak mempunyai pemimpin. Tetapi untuk memberikan sebuah tanggung jawab yang besar kepada gadis itu, terlebih lagi saat ini mentalnya sedang tidak baik. Ferisu pun mengusulkan sebuah saran "Ryou-san, apa kau mau menjadi raja negara ini?".
"Eh? apa yang kau katakan?!". Ujar Ryou yang kaget dengan ucapan Ferisu.
"Seperti yang kukatakan, kau menjadi raja negara ini. Kau memiliki pemikiran yang hebat dan otak yang cerdas, seharusnya kau bisa mengurus sebuah negara bukan?". Ujar Ferisu dengan senyum kecil.
"Kau kira gampang ngurus sebuah negara!?".
"Tentu sulit".
"Kau juga tau, kenapa malah nyuruh gua yang jadi raja!".
"Untuk sementara, se-men-tara oke? setelah si putri ini baikan, kau bisa nyuruh dia yang ngurus. Putri ini pintar dan paham mengenai politik dan ekonomi".
Ryou pun menerima tawaran itu, karena ia juga merasa sedikit bersalah. Jika bukan karena Ferisu yang menghentikan nya, mungkin dia akan membunuh putri yang tak bersalah itu.
"Hah... dia merasa bersalah pada gadis ini, sedangkan dia sudah membuat berbagai macam peristiwa yang memakan korban jiwa. Aku tak paham pola pikir nya". Gumam Ferisu dalam batinnya.
"Tuan, karena masalah sudah selesai. Apa kita akan kembali ke pulau?". Tanya kuro.
"Iya begitulah seharusnya".
"Sebelum kembali, apa tuan bisa membawa ku ke tempat para dwarft?".
"Dwarft? untuk apa?".
"Sebenarnya aku merasakan energi dari pedang sihir yang lain belum lama ini, dan arahnya berasal dari wilayah Dwarf yang berada di benua ini".
"Pedang sihir yang lain...".
Setelah mendengar hal itu, tujuan Ferisu pun pergi ke wilayah Dwarft untuk mendapatkan pedang sihir tersebut.
__ADS_1